Nanamia Pizzeria : Satu Dekade dan Sebuah Kepedulian pada Edukasi Anak



“Konon, jika menggantungkan  ‘kitchen witch’ di atas pintu dapur, masakan yang kita buat akan jadi supeer lezaaat”


kitchen witch
Begitulah kepercayaan di salah satu wilayah di Eropa sana”, ucap salah satu Kakak.

Saya ikut tersenyum ketika mencuri dengar cerita  kakak dari Museum Anak Kolong Tangga yang sedang memandu workshop di Nanamia Pizzeria Tirtodipuran sore itu. Sembari menunggu dua orang teman yang akan datang, akhirnya saya malah masuk barisan yang ikut menyimak, bersama beberapa orangtua yang anak-anaknya ikut workshop.

Di pojok yang biasa menjadi playground khusus anak itu beberapa adik usia sekitar 7- 10 tahun  terlihat bersemangat membuat boneka dari centong sayur, kain perca, dan kertas koran. Mata  penasaran mereka  menampakkan antusias tersendiri diwajah. Mereka juga terlihat khusyuk ketika mendengarkan tambahan dongeng dari kakak pemandu. 

Memang ya, kisah-kisah dongeng selalu bisa membangkitkan gairah tersendiri dijiwa anak-anak :)
membuat kitchen witch :)
Tidak jauh dari sana, di seberang taman, di bawah pepohonan yang cukup rindang, sekelompok adik-adik dengan usia lebih kecil dan lebih banyak juga sedang asyik 'menguleni' tepung yang dicampur air. Rupanya mereka sedang diajak untuk membuat playdough.

Sembari 'ndeprok' di atas alas, mereka sibuk mencampur ulenan dengan minyak. Kemudian adik-adik diminta untuk membubuhkan pewarna ke playdough dan membentuknya menjadi berbagai jenis makanan.
Rupanya sore yang semarak karena dipenuhi workshop anak itu merupakan rangkaian acara dari perayaan ulang tahun satu dekade Nanamia Pizzeria. Selama tiga hari sejak tanggal 7-9 September Nanamia membuat workshop untuk anak-anak. 'Workshop Anak' dipilih menjadi bagian dari perayaan bukan tanpa sebab, melainkan karena Nanamia memang memiliki concern lebih pada dunia pendidikan anak. Menarik.

Bahkan, sebagai bentuk perhatian pada edukasi anak, Nanamia sudah menjalankan workshop untuk anak sebagai program rutin mereka.  Jadwalnya setiap dua minggu sekali di hari Sabtu. Tema-tema yang diberikan beragam namun dan dengan biaya yang terjangkau. Umumnya diangka 50 ribu dan tidak melebihi 100ribu. Noted! Bisa banget nih dijadikan rujukan tempat buat ngumpul pas jadwal workshop. Ibu-ibunya bisa ngobrol, anak-anaknya bisa main sambil belajar ;)

Lebih-lebih atmosfer Nanamia, terutama yang di Tirtodipuran memang sangat nyaman, luas, dan cocok untuk tempat kumpul baik bersama teman maupun keluarga.
 
Ya, menghabiskan waktu di Nanamia Tirtodipuran tidak pernah salah. 

Pun begitu dengan sore kemarin.
Bahkan Si Jack juga nampak berbahagia menemani saya. Dengan jubah merahnya yang agak norak itu ia melompat dengan penuh semangat. Merayakan kebebasannya keluar dari himpitan rak buku di rumah sembari ikut menggigiti potongan tomat Bruschetta dan Salami Beef-nya Giovanni Pizza. Tak lupa sesekali ikut menyeruput Hot Lime yang kecut-kecut manis tapi sangat cocok untuk saya yang sedang batuk. Uhuk

Selamat ulang tahun ke sepuluh, Nanamia Pizzeria



Salam, 



Kachan 














25 Keempat dan Perayaan Tiba-tiba


"Saya tidak akan bosan-bosannya mengatakan Agustus adalah salah satu bulan favorit"
Tempat saya menitipkan beberapa momen bermakna dalam hidup. Termasuk satu tanggal dipenghujung bulan sebagai penanda cerita saya dan R :)

Dan, siang itu, ditanggal yang sama, empat tahun kemudian saya mendatangi kantor R,  seperti layaknya yang sering saya lakukan di hari-hari biasa. Untuk berkunjung sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Akibat siang yang cukup menerik, muncul perayaan dadakan. Kami akhirnya  berbincang sembari ditemani dua buah gelas es susu cokelat kesukaan dari gerai fastfood. Juga beberapa cemilan ringan dari gerai yang sama dan tambahan segelas eskrim yang tiba-tiba ikut muncul dalam plastik pesanan dengan tambahan tulisan "free" dalam struknya.  

Padahal total belanjaan kami tidak cukup banyak untuk diberi hadiah. Itupun pakai voucher gratis dari  penukaran poin ojek online kesayangan. Yey, malah jadi bonus yang berbonus :)

 ***

"R, kayaknya aku mau lebih banyak nulis dengan gaya kayak dulu lagi deh" ujar saya mantab.

Sebenarnya bukan pertama kali saya bilang begini melainkan beberapa kali. Saya sedang  rindu nulis sekendak hati secara random. Tidak berbau keharusan. Dan R sudah cukup paham dengan maksud saya. Bedanya, sebelum-sebelumnya saya hanya melontarkannya sambil lalu dan tidak butuh respon. 

"Ya, ayo. Aku suka tulisanmu yang dulu itu lho..." balasnya.

R menyebut tulisan yang pernah saya buat  beberapa tahun silam.  Tulisan yang sukses membuat kami mendapatkan kamera yang cukup hits di masa itu. Curiga sih, ini suka tulisannya, apa hadiahnya ya? Haha. Apapun, saya tetap terima pujiannya dengan sumringahlah :)

"Tulis yang kayak gitu lagi, K!" tambahnya sambil senyum geje.

"Okee" saut saya sambil nyengir dan kemudian lanjut nyusrup es yang jarang-jarang diijinin R buat saya minum.

 R foto bentar dong.  Woke, buat blog? Iya :D*Cekrek!*
***
"Berbagai macam pujian dimedia sosial mungkin mampu memuaskan diri namun belum tentu hatimu"
       Dan orang-orang terdekatmu lebih bisa melakukannya :)





Salam,


 

Batoer Hill Resort : Menikmati Alam, Senja, dan Lampion Terbang


Hampir sebagian besar keluarga saya adalah penggemar berat pantai, kecuali saya dan suami. Meskipun tidak terlalu suka bukan berarti kami ogah main ke pantai. Tetep mau kok. Apalagi kalau bareng keluarga. Itulah yang membuat hampir sebagian besar piknik dan liburan keluarga kami selalu diisi dengan kegiatan wajib tidak tertulis : ke pantai.

Setahun yang lalu, demi memuaskan hasrat keluarga besar untuk bermain air asin, kami sepakat untuk menghabiskan libur lebaran  di surga pantai-nya Jogja. Tempat di mana pantai-pantai dengan pasir putih halus maupun berkrakalnya ada. Gulungan ombak berarak-arak dengan gagahnya ke arah pantai. Dan juga percikan air asin menerpa tebing karangnya. Gunung Kidul.

Dengan begitu banyaknya list pantai yang ingin kami datangi, menginap di daerah Gunung Kidul tentu menjadi plan utama. Biarpun kami tinggal di Jogja tapi ngga kebayang jika harus bolak-balik sekian hari.

Mulai dari H – sekian bulan saya dan suami (yang  hampir selalu bertanggung jawab mencari akomodasi) mulai mencari-cari tempat menginap keluarga. Syarat yang  diajukan keluarga:  di Gunung Kidul, penginapan dan tempat tidur nyaman, plus punya kolam renang.

Ternyata, meskipun punya destinasi wisata yang lumayan banyaaak. Mencari tempat menginap sesuai syarat keluarga saya di sana susaaaaah.  Waktu itu hanya ada satu tempat yang cocok. Dekat pantai, lumayan nyaman, dan punya kolam renang. Sayangnya sudah full booked L. Selebihnya, rata-rata yang agak lumayan semacam guest house tapi tidak ada kolam renangnya. Itu pun dengan kamar yang sangat standar. Yang tentu saja tidak di acc keluarga.

Akhirnya kami memutuskan pindah destinasi. Tetap pantai tentu saja. Namun tidak di Gunung Kidul. Karena bagi kami, liburan bersama keluarga 3 generasi, butuh tempat menginap dan istirahat yang nyaman.

 ***

Karena itu, ajakan seorang teman untuk hadir di softlaunching sebuah resort baru di Gunung Kidul satu minggu yang lalu saya iyakan dengan cukup excited. Untuk menjawab rasa penasaran sekaligus menaruh harap. Apalagi saya punya sedikit kesan baik ketika mendengar namanya, Batoer Hill Resort. Bayangan akan sebuah resort di atas bukit tiba-tiba menyeruak. 

Bayangan awal saya nampaknya tidak salah. Sesuai dengan namanya, perjalanan menuju Batoer Hill memberikan sensasi jalanan yang cukup mendaki-daki. Dan sukses membuat persneling kendaraan tidak lepas dari gigi 1 dan 2. 

Sepanjang perjalanan menuju resort, pemandangan di kiri kanan adalah rumah-rumah penduduk desa yang berpadu dengan  area persawahan. Tidak jarang kendaraan yang kami bawa memperlambat gerak kemudian menyapa penduduk sekitar yang sedang beraktivitas di pinggir jalan. Bapak-bapak yang sedang berjalan, gerombolan pemuda yang sedang menyeduh minuman di warung, dan ibu-ibu yang tengah bermain dengan anaknya di depan rumah membalas sapaan kami dengan hangat. Sangat jauh dari kesan tidak ramah. 

Dari Mba Irma Devita, salah seorang pengelola resort, saya jadi tahu bahwa pembangunan Batoer Hill ternyata merupakan hasil kemitraan desa dengan beberapa pemilik modal. Tanah tempat ia dibangun adalah milik desa setempat sedang pengelolaannya dilakukan oleh beberapa pihak terkait yang ikut bekerja sama. Mungkin hal ini juga yang menciptakan keramahan tulus warga yang kami temui saat melihat kami yang akan ke resort. Karena juga merasa ikut memiliki, maka kami juga dianggap tamu mereka.

Ketika bangunannya mulai muncul di depan mata saya bisa melihat bahwa resort ini memang sengaja di bangun di area pucuk bukit kecil. Bangunan-bangunannya tidak dibangun dalam ketinggian yang sama. Pintu masuk, parkiran, pendopo utama, dan resto ada dalam ketinggian yang sejajar.
pendopo utama
resto
Karena dibangun di atas tanah yang bergradien maka pandangan mata terasa sangat luas. Persis seperti ketika kita berada di ketinggian dan melihat ke bawah. Dan pemandangan yang disajikan Batoer adalah hamparan pepohonan, ladang, dan persawahan. 

Untuk menikmati pemandangan dengan lebih leluasa dibuat juga sebuah bangunan yang fungsinya seperti menara pandang. Namun berbentuk jembatan. Buat yang takut ketinggian mungkin agak deg-deg an. Tapi ini menjadi tempat yang cukup favorit untuk berfoto dan menunggu sunset.
pemandangan di bawah resort . photo milik : www.batoerhillresort.com
di atas jembatan


Di kanan dan kiri bawah tulisan ‘BATOER’ yang terpampang dengan sangat jelas, ada tangga yang akan membawa kita turun menuju bangunan lainnya. Bangunan pertama yang akan langsung bisa kita lihat dengan jelas adalah kolam renang.

Kolam renangnya dikonsep dengan gaya yang memang sedang cukup hits sekarang ini, infinity. Ada dua buah kolam, yang  berbeda ukuran. Namun kurang tau ke dalaman masing-masingnya berapa meter. Dan sayangnya, kemarin kolam sedang dibersihkan jadi airnya tidak penuh dan belum jernih.

Batoer
view dari bawah
bre dan mboknya bree :))


Bagian Kamar 

Di dekat kolam renang bagian kanan ada jalan setapak yang akan membawa kita ke area kamar-kamar resort. Letaknya seakan-akan terpisah dan tersembunyi dari bangunan-bangunan utamanya. Namun justru membuatnya seperti rumah penduduk yang menyatu dengan lingkungan sekitar.

Dinding kamarnya dibuat dari kayu-kayu yang disusun. Beberapa kamar mempertahankan warna kayu namun ada juga  yang  diselubungi dengan cat warna cokelat dan oranye: cokelat bata. Saya yang penyuka warna-warna seperti ini akhirnya cukup lama mengamati dindingnya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk selfie karena rasanya ditarik-tarik si tembok untuk berpotret bersama. Haha agak jarang lho saya selfie ;p.

 View bagian depan – bawah dari kamar-kamar yang berjajar ini adalah ladang dan persawahan. Dari jendela kamar kita melihat secara langsung aktivitas para petani di ladang.  




Sebenarnya Batoer Hill belum resmi dilaunching. Rencananya baru akan grandlaunching pada bulan Oktober mendatang. Oleh karena itu belum semua pembangunan di resort ini sudah selesai. Termasuk kamar-kamarnya. Namun, ada beberapa kamar yang sudah siap dan saya sempat mengintip ke salah satu kamar.

Konsep kamarnya sendiri seperti rumah panggung. Bagian dalamnya cukup luas. Terdiri dari dua bagian ruangan yang tidak bersekat. Satu ruang duduk yang memiliki sofa, dan satu ruang untuk tempat tidur. 
bagian ruang tempat tidur. photo milik : www.ardiankusuma.com
 ***
Menjelang petang saya kembali ke bagian atas untuk menikmati sunset dan santap malam. Seakan tak mau kalah, bagian resto pun unjuk gigi dengan menghidangkan makanan yang menjadi kekhasan daerah tersebut. Perut saya pun berbahagia menyambut nasi, ingkung ayam, peyek, dan segala ubo rampenya.
makan malaaam :). photo milik : www.ardiankusuma.com
 ***

Sebuah Pelajaran di Atas Bukit

Rupanya, hari itu saya bukan hanya diajak untuk berkenalan dengan resort baru. Sebelum bergegas pulang, saya dan teman-teman mendapatkan kesempatan menarik dari pengelola. Mereka mengajak kami semua untuk menerbangkan lampion. Yang memberi saya ‘oleh-oleh sebuah pelajaran’ untuk dibawa pulang.
lampion kedua

Foto di atas ini adalah foto saya bersama lampion kedua yang berakhir nyusruk ke ladang setelah sempat membumbung sebentar. Melengkapi lampion pertama yang terbakar habis sebelum terangkat.

Nampaknya, karena begitu ingin melihat harapannya segera terbang, saya lupa. Esensi memohon adalah meminta tanpa memaksa. Tidak pula dengan tergesa.

Saya ambil kembali lampion ketiga. Dengan keinginan yang sama untuk bisa menerbangkannya namun sudah bersiap untuk legowo jika gagal. Juga belajar untuk tidak terburu-buru.

Memang butuh waktu lebih lama, cukup lama, hingga akhirnya saya bisa merasakan kertasnya bergerak menjauhi jari-jari tangan saya. Perlahan-lahan ia ke atas. Dan akhirnya mengangkasa :)




Salam, 




Kachan 

------------------------------------------------------------------------------------------

  
 Desa Batur Dusun Putat, Patuk, Gunung Kidul, DIY 55862
 Telp : +62 812-2544-3716

Email : batoerhillresort@gmail.com 
IG : @batoerhillresort