[GIVE AWAY] Keberuntungan di Agustus

Selamat datang, Agustus :)

Bulan favorit saya...

Ini adalah bulan hari kelahiran sebagian besar keluarga saya. Mulai dari minggu pertama hingga terakhir selalu ada anggota keluarga yang kami rayakan hari lahirnya. 

Bulan ini, juga akan selalu spesial karena menjadi bulan yang Saya dan R pilih untuk menjejakkan kaki bersama dalam hubungan yang lebih sakral 3 tahun lalu. (( 3 T A H U N )). Yaampun malah baru nyadar. Semoga kami selalu diberkahi :')

Dan, setahun yang lalu, ditanggal yang sama dengan tanggal pernikahan, saya memberanikan diri untuk mewujudkan sebuah impian. Satu dari sekian banyak impian yang sering saya bayang-bayangkan ketika sedang bergelayutan di tebing dulu. Yaitu membangun usaha di bidang fashion.

Untuk itu, dalam rangka menyambut hari lahir, anniversary pernikahan dan usaha, saya membuat syukuran kecil-kecilan dalam bentuk Give Away. 

Ada 2 Give Away yang saya buat, di instagram dan di blog. Caranya:

1. GIVE AWAY DI INSTAGRAM
1. Follow IG : @luriko_ & like Fanspage FB: luriko
2. Repost/regram postingan Foto Give Away. Beri caption yang menjawab pertanyaan   "Apa yang terbersit saat mendengar kata 'etnik'?".
3. Mention @luriko_ dan 3 orang teman kalian
4. Beri hashtag #lurikogiveaway
5. 1 orang beruntung akan mendapatkan 1 lurik etnik Kirana Tunik warna biru (LD: 102 cm, fit to L size) seperti dalam gambar dari luriko :)

Kirana Tunik: Tunik dari kain tenun polos dengan motif lurik tumpal. Di bagian bawah melebar dan ada potongan. Memberi aksen panjang dikiri kanan saat dipakai.


 2. GIVE AWAY DI BLOG
1. Follow akun twitter dan IG: @qhachan (optional ;p)
2.  Follow IG sponsor :@luriko_ , @geraiazzahra, @footwearku, dan watersquad.id (yang ini wajib ya:D ) 
3. Jawab pertanyaan dikolom komentar postingan blog ini "Apa yang akan kalian ingat jika mendengar 'Bulan Agustus'?"
4. Sebutkan nama - domisili - akun socmed (IG/twitter/FB)
5. 3 orang beruntung akan mendapatkan paket hadiah di bawah ini



Novel What I Talk About  When I Talk About Running - Haruki Murakami
Pasmina Motif Bunga
Note Book
Novel The Girl Who Saved The King of Sweden - Jonas Jonasson
 Pasmina motif bunga 
Note Book 
 Novel SUTI - Sapardi Djoko Damono
Kerudung Segi Empat Motif 
Note Book

Tak lupa diucapkan terimakasih pada para sponsor. Yuhhuuu, mereka adalah....
- @geraiazzahra yang menjual jilbab, gamis, baju muslim segala usia. Juga menyediakan perlengkapan & oleh-oleh haji - umroh. Baik online maupun offline (Timur Kecamatan Gamping, Jogja) 
- @footwearku yang khusus menjual sepatu outdoor impor: The North Face, Timberland, Caterpillar, Teva, Astral, dll. 
-  @watersquad.id yang menjual perlengkapan khusus olahraga air: kayak, dayung, helm, tas anti air, dll. 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Naah, kalian boleh ikut di masing-masing ataupun keduanya. Pemenang akan dipilih dengan diundi. Jadi biarlah keberuntungan Bulan Agustus yang mendatangi kalian :D

Kedua Give Away akan ditutup pada 31 Agustus 2016 pukul 24.00 WIB dan diumumkan pada 2 September 2016. 

Terimakasih.
Salam, 


Kachan

Seni Menunggu dan Era Digital

Alam nyata memang nampak sederhana dibandingkan alam digital yang nampak modern

***

Waktu kecil keluarga saya pernah menjalani LDR sekitar 3 tahun lamanya. Saya, ibu, dan kakak-kakak saya tinggal di Jogja  sedang Bapak bekerja di kota lain yang cukup jauh. Otomatis saya dan Bapak tidak bisa bertemu setiap hari.  Beliau pulang sekitar 1-2 minggu sekali. 

Rupanya garis hidup membuat hal ini kembali terulang di era yang berbeda. Kini, saya dan suami sedang menjalani LDR. Saya dan anak saya yang berusia 19 bulan, K,  tinggal di Jogja, sedangkan suami saya, R, bekerja di kota lain. Kota yang sama dengan tempat Bapak saya bekerja dulu. Bahkan, kesamaan kami tidak berhenti sampai disitu.  Saya dan anak saya menjalani LDR di desa yang sama dan rumah yang nyaris sama persis. Karena rumah yang saya tempati sekarang berada tepat di samping rumah yang keluarga saya tinggali dulu :')

Namun ada perbedaan yang cukup signifikan antara saya dulu dan K sekarang ketika menjalani LDR. Terutama dalam komunikasi. Saya ingat betul sebagai anak paling kecil saya yang paling sering menanyakan Bapak saya. Sedang kakak-kakak saya yang terpaut cukup jauh sudah cukup paham dengan situasi LDR. Karena itu saya harus selalu ikut kalau Ibu saya pergi menelpon Bapak di wartel. Iya, di desa saya kala itu memang belum dilewati jalur telepon (eh, sampe sekarang, ding!). Jadi, kami harus jalan kaki ke wartel di desa sebelah. Jadwal menelpon Bapak biasanya sekali - dua kali seminggu tergantung kepentingan dan juga tingkat ke-kangenan kami hehe. Juga tergantung uang kayaknya deh. Soalnya interlokal kan, mahal! :((

Dan sekarang? di era digital ini. Komunikasi lintas jarak benar-benar dipermudah. K dan bapaknya memang LDR. Tapi semenjak bangun tidur sampai mau tidur lagi bapaknya bisa tahu segala macam hal yang dilakukannya. Tanya "Makan apa?" (cekrak cekrek! kirim). Bapaknya pun tau. "Pake baju apa?" (cekrak cekrek!kirim). Bapaknya pun lihat. "Main apa?" (videoin! kirim). Bapaknya bisa liat  adegan plus ekspresi anaknya dengan sejelas-jelasnya. 

Belum lagi ada fasilitas skype, whatsapp, dll yang mendukung  face time-an. Bisa ngobrol sambil saling liat dan saling tahu sedang apa, di mana, ngapain, sama siapa. Dipermudah banget ya?. Untuk segala kemudahan yang ada, saya cukup bersyukur berada di era ini ketika harus menjalani LDR :')

Di luar rasa syukur saya sekarang, ada hal lain yang saya rindukan dari era LDR saya di masa kecil...
Ada beberapa hal yang saya ingat sendiri, dan beberapa hal yang diingatkan oleh Ibu saya. Dulu, jika saya agak rewel karena kangen dan tak henti menanyakan Bapak, Ibu saya selalu mengalihkannya dengan mengajak saya melakukan banyak hal. Sebut saja  itu 'seni menunggu'.

Mulai dari mengajak memanen buah ciplukan di sawah sebelah rumah. Diajak metik buah menteng, jambu, sawo. Gali-gali pasir dan tanah. Main-main air di sungai kecil dekat rumah. Atau ngintipin kalkun punya Pak lik. Dan hal lainnya. Hingga akhirnya saya teralihkan dan asyik beraktivitas.

Berbeda dengan sekarang. Jika kangen Bapak, meski tidak bisa langsung mendatangkannya, K bisa dengan mudah menghubunginya.  

Jika mengingat apa yang saya alami dulu rasanya ingin sekali mengenalkan romantisme 'seni menunggu' padanya. Bukan sekadar  untuk mengisi waktu menunggu sebenarnya. Namun juga untuk mengingatkan pada diri saya sendiri, bahwa ada PR untuk mengeksplore dan mengenalkan lingkungan sekitar padanya. Bahwa ada berbagai pelajaran dasar penting yang perlu ia tahu dari alam nyata yang nampak sederhana. Sebelum ia mendarat  di alam digital yang nampak modern dan mutakhir itu.

sawah ujung desa
K
Bukankah saya masih cukup beruntung? Meskipun desa ini sudah cukup berubah karena pembangunan. Namun masih ada alam yang belum seutuhnya termodernisasi dan masih bisa dinikmati. 

Semoga bisa memberikan banyak waktu bagi K untuk lebih mengenal alam. Sebelum kelak benar-benar menemani dan  mengantarkan menyambut  "alam digitalnya".

Salam,


Kachan
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*terinspirasi dari tulisan mak Indah Juli "Internet, Anak, dan Orang tua" dalam rangka KEB  Collaborative Blogging

Cetaphil Gentle Skin Cleanser : Merawat Kulit dan Lingkunganmu

"Karena merawat kulit wajah juga bagian dari menyayangi sekaligus mempercantik diri"

" Kulit saya sensitif "
 Jawaban yang selalu saya lontarkan jika ada yang bertanya tipe kulit wajah saya.

Kesensitifan ini mulai terjadi ketika saya beranjak remaja. Masa dimana mulai melirik-lirik dan membeli produk skin care terutama pembersih wajah. Namun, sayang hasilnya tidak seindah yang saya bayangkan.  

Waktu itu, yang terjadi muncul jerawat-jerawat di wajah setelah memakai produk tsb kurang dari seminggu. Saya masih nyatai dan meneruskan pemakaian. Eh kok malah jerawat semakin banyak. Bahkan pada akhirnya harus berujung berobat ke dokter. Dari beliau saya tau bahwa kulit saya sensitif dan tidak boleh sembarang memakai produk. 

Setelah sembuh lantas saya sadar? Oh tentu tidak semudah itu. Melihat iklan dan teman-teman menggunakan produk beraneka macam untuk kulit mereka, tentu saja jiwa muda saya kembali pengen dan tergiur. Jadilah, ada sederetan momen berulang coba-coba produk yang selalu disusul oleh jerawat yang muncul hiks. Sampe akhirnya sayapun lelah dan sadar.

Nah, dari hasil bincang dengan Yusti - MUA yang saya tulis di postingan terdahulu, saya mendapat tambahan informasi bahwa salah satu penyebab kulit saya sensitif karena kulit saya campuran antara berminyak dan kering. Pada bagian T (jidat - hidung - dagu) cenderung berminyak, selebihnya cenderung kering. Pemilik jenis kulit ini memang harus lebih waspada dalam memilih make up dan skin care. Tidak bisa memakai produk khusus kulit berminyak karena ada bagian yang kering. Sebaliknya, tidak bisa juga pakai produk kulit kering karena ada bagian yang berminyak.

Menurut dia, sebenarnya ada produk-produk tertentu yang dibuat khusus untuk kulit campuran dan sensitif seperti saya. Tapi karena tidak cukup banyak tentunya saya harus  selektif dan ekstra mencari tahu lebih dahulu.  
 ***
Eh, tidak lama setelah itu saya mendengar tentang Cetaphil Gentle Skin Cleanser. Produk dari Galderma yang digadang-gadangkan cocok untuk semua jenis kulit. Bisa untuk kulit kering maupun kulit berminyak. Wah, bisa jadi kan ini cocok untuk kulit saya yang campuran keduanya - pikir saya saat itu.

Tapi, tentu saja berbekal keinsafan pengalaman sebelumnya, saya tidak mau asal-asal lagi mencoba dong ya. Salah-salah jerawat bisa muncul lagi di wajah. So, saya tetap mencari tahu dahulu  tentang Cetaphil Gentle Skin Cleanser ini via googling dan juga bertanya pada teman saya yang pernah memakainya. Mulai dari bahannya dari apa, produk dari mana, dan testimoni-testimoninya seperti apa. 

Beberapa review dan survey singkat ternyata memperkuat tentang cocoknya ia untuk kulit sensitif. Akhirnya  saya mantab  memberanikan diri untuk mencobanya sendiri.

 ***

Cethapil Gentle Skin Cleanser

Setelah berhasil mendapatkannya, saya mencobanya selama 2 minggu berturut-turut setiap hari pada pagi dan malam. Sesekali di siang dan sore hari. Selama memakainya saya tidak menggunakan cleanser jenis lain. Lebih pada ingin benar-benar merasakan efeknya. 

Jujur, sehari dua hari setelah pemakaian saya cukup harap-harap cemas. Bahkan saya cenderung menyiapkan mental jika si jerawat muncul. Namun yang saya nantikan tersebut tidak hadir, alhamdulillah :)

Dan ini reviewnya...
 
cetaphil gentle skin cleanser
Packaging-nya berbentuk botol. Kemasannya standar dan tidak neko-neko. Warna badan kemasan putih bersih dikolaborasikan dengan tulisan berwarna biru dan hijau. Menampilkan sisi simple dan fresh

Tutupnya berwarna biru. Desainnya sangat umum. Namun jangan khawatir, tutupnya aman. Setidaknya tidak mudah terbuka atau 'mbleber' meskipun terguncang ketika saya membawanya di dalam tas. Padahal saya suka menaruh tas asal 'brak..bruk..'. #eh

Kemasan yang saya punya berukuran  sedang. Menampung isi sebanyak 125 ml. Tidak terlalu besar namun juga tidak kecil. Masih cukup pas dan tidak memakan tempat kok jika dibawa-bawa pergi dalam tas. Baik untuk perjalanan jauh maupun sekadar hangout cantik.

packaging tampak depan dan belakang
tutup botol kemasan
bagian bawah 
Tekstur - nya semacam gel berwarna putih cenderung bening. Meski cair dan berwujud gel ternyata teksturnya ngga lengket dikulit lho. Terus, karena produk ini disebut tidak ada kandungan parfumnya saya iseng menciumnya untuk membuktikan. Eh, ternyata memang benar ngga berbau. 

Tapi, buat para pemuja busa sabun untuk membersihkan wajah, mungkin akan cukup terkaget dengan ini. Cetaphil ini kandungannya soap - free alias bebas sabun. Jadi bisa dibilang hampir tidak ada busa yang akan muncul ketika kita mengusapkannya diwajah. Tapi jangan salah lho ya, cleanser tanpa kandungan sabun bukan berarti tidak bisa membersihkan dengan baik. Dan setelah memakainya pasti bisa merasakan sendiri keefektifan Cetaphil ini dalam membersihkan kulit. Wajah juga jadi lebih fresh.

tekstur gel
Cara pemakaian - nya. Di petunjuk yang bisa kita temukan di belakang botol dijelaskan, bahwa ada dua cara dalam penggunaanya:
  • Jika dengan air : Tuang gel, usapkan pada kulit wajah, gosok perlahan dan lembut, lalu bilas dengan air.
  • Jika tanpa air    : Tuang gel, usapkan pada kulit wajah, gosok perlahan dan lembut, bersihkan dengan handuk. 
Saya sudah mencoba kedua cara penggunannya. Buat saya, kalau bicara soal kebiasaan, membilas dengan air memang terasa lebih mantab. Kesannya lebih bersih. Tapi saya juga tetap mencoba memakainya tanpa air. 

Ternyata, baik memakainya dengan atau tanpa air sama-sama memberi efek langsung melembabkan dan mengenyalkan kulit. Efeknya cukup merata baik di bagian wajah saya yang kering maupun yang berminyak. Perbedaannya, jika membersihkan dengan kain atau handuk akan terasa efek lebih moist dikulit tapi tetap  tidak meninggalkan rasa lengket.

Dari situ justru akhirnya saya bikin formula untuk jadwal pemakaiannya. Di pagi hari saya memakainya dengan air. Untuk malam hari saya pakai tanpa air cukup diusap dengan handuk. Biasanya saya pakai sebelum tidur. Jadi selain sebagai pembersih saya fungsikan juga menjadi pelembab wajah ketika tidur. Efeknya, di pagi hari kulit terasa lebih lembut dan kenyal. Boleh dicoba :)

Menjaga Lingkungan?
Sebenarnya poin 'cara penggunaannya' ini adalah salah satu hal yang membuat saya tertarik di awal setelah manfaatnya. Seperti ada pesan terselubung dalam penjagaan lingkungan disitu. Produk skin care yang  mampu membersihkan kulit tanpa air tentu merupakan inovasi yang patut diapresiasi di tengah maraknya kampanye penghematan air. 

Bahkan, meski menggunakannya dengan air pun kita tetap bisa menghemat air. Kandungannya yang soap-free membuatnya tidak membutuhkan air untuk membilas sebanyak jika membersihkan wajah dengan produk bersabun.

Saya sempat mencari lebih lanjut tentang ini di sosial media milik Cetaphil. Dan menemukan bahwa Cetaphil Gentle Skin Cleanser memang salah satu bentuk usaha Cetaphil dalam menjaga kelestarian lingkungan, yaitu menggunakan air dengan bijak. 

Cara Mendapatkannya 
Produk Cetaphil tersedia di Rumah Sakit dan Apotek, juga di toko-toko berikut ini:


 
*** 
Selama hampir 2 minggu menggunakannya, saya terbilang cocok. Mendapat manfaat langsung pada kulit yang semakin bersih, lembab, dan lembut. Efek lembabnya sama seperti ketika saya memakai produk pelembab yang saya buat sendiri dari bahan alami. Bedanya ini tidak perlu mengeluarkan effort untuk membuatnya dahulu, dan dalam satu kemasan berfungsi sebagai pembersih dan pelembab.

Dan tentu saja, dengan menggunakannya secara tidak langsung ikut belajar bijak menggunakan air. Mari merawat dirimu dan alammu:)



Salam, 


Kachan

 

Bincang Tentang Make Up dengan Yusti - Make Up Artist

"Make up itu seharusnya enhancing our natural feature, not masking it". (Yosefina Yustiani - MUA)

fashion foto shoot
foto: doc. pribadi Yusti

Trend bermake up memang berkembang pesat sekian tahun terakhir. Pergeserannya cukup significant. Yang saya rasa, pandangan terhadapnya sangat berbeda di era saya sekolah/kuliah dengan  sekarang.

Saya ingat standar make up kala saya sekolah dan mahasiswa adalah bedak dan lipgloss. Dengan setia memakai 2 benda itu maka kamu sudah cukup masuk ke golongan 'agak terawat'. Nah, kalau mau naik kelas sedikit pakailah eyeliner. Makenya 'mbleber-mbleber' saja kamu tetap masuk jajaran keren hehe. Apalagi bisa bikin  eyeliner model cat eye. Wow, bisa-bisa disebut dewa make up :D. Terus kalau mau naik level lagi, pakai foundation agar bedak tahan lama terlihat. Sedangkan level super adalah buat mereka yang pakai paket komplit ditambah lipstik, eyeshadow, dan pensil alis. Keren, dewa, bin superlah ini mah. 

Memang ya, di masa itu bisa dibilang memakai make up butuh pengorbanan dan hati yang lapang. Iya, pengorbanan buat nyisihin uang buat beli alat make up. Yang mana jaman itu standar uang saku mahasiswa masih  ngepas dan cenderung minus buat makan diburjo sebulan. Dan juga harus punya hati lapang,  terutama saat kamu sudah memoles lipgloss strawberry dengan manisnya kemudian makhluk-makhluk adam berkata dengan wajah lurus "Ih, abis makan gorengan, ya?". Oke bye! 

Di era sekarang? Ah saya terkagum-kagum ketika menengok mantan kampus. Bukan hanya berbau akademik namun juga memancarkan aroma warna-warni dari mahasiswinya yang semakin berkilauan hehe. Lengkap dengan warna-warni dibibir mereka. Beberapa dengan pulasan di alis. Saya sendiri senang melihatnya. Karena kebetulan sebagian besar adek-adek junior itu bermake up dengan pas. Jadi terlihat cantik-cantik. Beda kasus jika saya melihat adek-adek yang make upnya kurang pas. Duh!

Saya sendiri bukan orang yang anti bermake up. Malah cenderung suka. Kadang juga mencoba-coba riasan yang cocok dengan wajah saya. Pun di tengah jaman yang sedang dikepung trend make up ini saya sesekali mengintip tutorial make up dari blogger maupun youtuber. Sayangnya, ngga selalu berhasil haha.

*** 
So, tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengampu ilmu periasan ketika tau teman seperguruan yang kini berprofesi sebagai MUA (Make Up Artist) ini bertandang ke Jogja. Kapan lagi bisa belajar make up sama ahlinya berbonus reunian :D

Ga sia-sia. Saya puas banget dengan privat classnya. Yusti yang perfeksionis ini juga pinter dan komunikatif ngajarin. Karena basicnya dia emang rame dan humble sih. Yusti mengenalkan terlebih dahulu beberapa hal dasar sebelum bermake up. Mulai dari bentuk wajah saya gimana? Tipe kulit seperti apa? Dan make up yang cocok untuk kulit seperti itu apa? Ini semua penting dipelajari agar hasil make up bagus, sesuai, dan tahan lama. 

Hasilnya kemarin juga sesuai dengan keinginan saya buat belajar make up yang soft dan simpel. Meski diajarin bikin alis hits tapi tetep keliatan soft kan hehe. Makasih, Bu Guru Yusti *kiss*.

 
ala-ala
foto by Yusti
foto by Yusti
***
MUA by Yusti 


Mba MUA Hits :)
Yusti ini berdomisili di Jakarta. Dia melayani semua jasa make up secara umum. Untuk special occasion (lamaran, wisuda, pesta) dilengkapi hair do ataupun hijab do. Make up photo (prewedding dan fashion photo shoot). Wedding make up, national - international - adat (traditional). Dan tentu saja jasa make up class untuk yang mau belajar.  

Buat yang butuh jasa make up bisa menghubungi dia langsung via WA di 081218015689. Portofolionya sendiri bisa dicek di IG @beautybyyusti. Sebagian kecil  dicantumkan difoto bawah ini. 

Saya selalu  penasaran dengan mereka yang berprofesi di luar jalur akademisnya. Termasuk Yusti. Meskipun sebenarnya ilmu Psikologi memang bisa diterapkan di pekerjaan apapun. Namun, menurut saya Yusti punya nilai lebih karena cukup sukses dipilihannya ini. Pernah menjadi finalis nasional ajang bergengsi Gading Beauty Award saat masih kuliah, dan menjadi tim MUA pada ajang Miss World 2013  pencapaian yang keren bukan?
 
Maka, ujung-ujungnya ini menggelitik saya buat mewawancarainya :)

Tentang Penemuan Passionnya

Ini anak emang keren banget. Disaat kita galau menentukan passion pasca kuliah. Dia memulai pencarian passionnya dari dini. Iya, katanya Yusti kecil adalah anak yang aktif ngga bisa diem (sampe sekarang sih, Yus haha). Dan dari SD dia udah ngerasa punya passion di bidang seni. Tapi belum tau apa. Akhirnya dia mulai nyoba-nyoba. Diawali dengan ikut kursus jahit saat lulus SD. Yang berujung gagal karena pusing dan ngga bisa-bisa hehe.

Nah, setelah lulus SMP dia coba ikut kursus Make Up. Bisa ditebak, dia langsung suka dan bisa. Pas lulus SMA sembari kuliah dia mulai ambil sekolah  make up lagi di Puspita Martha Jogja.  Selama kuliah itu udah mulai ambil order jasa make up. 

Sempat menjadi karyawan selama setahun setelah lulus S1 akhirnya dia mantab ambil sekolah setara Diploma di Puspita Martha International Beauty School. Jurusan yang dipilih Fashion & Photographic Make Up.  Lulus dari sana mengecap kerja di dunia make up sebentar sampai akhirnya terjun full time menjadi MUA. 

Tentang Make Up di matanya 

"Aku pengen membuka mata orang indonesia bahwa make up itu adalah sebuah seni, yang bertujuan untuk membuat orang yang menggunakannya bisa menampilkan pribadinya sendiri, tanpa menggunakannya secara berlebihan"
Menurutnya, kadang pada beberapa khalayak  make up masih dijadikan sebagai 'tameng' dari dunia luar. Misalnya saja ada yang tidak pede berlebihan ketika harus keluar rumah tanpa bikin alis dulu. Atau misalnya mereka yang bermake up tidak pas dan berlebihan sampai kita tidak mengenali wajah aslinya.

Bonus Tanya Jawab dan Tip Seputar Make Up dari Yusti 
Dibuat Q & A agar lebih mudah ya :)

Trend make up sekarang menurutmu apa, Yus? 
Sekarang yang lagi trend kan tentang dunia peralisan ya. Tapi aku lihat, kalau kemarin kan tren alis tebel banget dan yang nge-blok gitu ala-ala alis instagram yang dibuatnya pake cetakan alis. Ke depannya aku lihat bakal bergeser, alis yg lebar masih trend tapi untuk warnanya bakal lebih natural dan dibuat menyerupai alis asli.

Eh, kalau bagian penting dalam bermake up itu sebenarnya apa? 
Bagian paling penting sebenarnya adalah kulit yg sehat. Mau tipe dan gaya make up seperti apapun, kalau kulitnya ngga sehatpercuma, ngga akan bagus dan tahan lama hasilnya.

Nah kalau bagian di wajah yang  jadi titik penting dalam bermakeup?
Mata ya

Dari pengamatanmu apa kesalahan yg paling sering ditemui dalam bermakeup? 
Bikin aliiiiisss. Banyak banget yang bikin alisnya bentuknya kurang tepat, jd diliatnya janggal gitu. Gemes pengen benerin XD.

Sekarang, tip untuk  pemula dalam bermakeup dong?  
Pertama, lebih general ya. Bukan make up aja tapi kecantikan: biasakan basuh muka kita pakai air dingin. Apapun kondisinya jangan kenain muka kita sama air hangat or panas. Membasuh muka dengan air dingin membantu mengecilkan pori-pori dan tidak membuat permukaan kulit muka kering. Beda kasus kalau mau facial. Itu butuh air hangat untuk membuka pori-pori agar lebih mudah mengambil komedo.

Kedua, dalam bermake up itu ngga perlu takut salah karena kalau salah tinggal dihapus terus dibenerin. Ini make up kan bukan tattoo. 

Ketiga, kalau mau bisa jangan bosan-bosan mencoba dan mempraktekkan kemampuan make up kita. 


Terus, kalau tip dalam membeli produk atau perlengkapan make up buat yang awam?
Dalam membeli perlengkapan make up terutama foundation, jangan ragu atau malu untuk mencoba sebelum beli. Bagusnya nih, kalau mau beli foundation, kita datang ke counter terus coba foundation yang kira-kira cocok sama kita, terus kita pake deh buat muter-muter mall dulu. Abis itu kita lihat, warnanya jd lebih tua (teroksidasi) ngga, awet ngga  terus membawa reaksi alergi ngga. Nah kalau udah oke, mantep, baru deh beli. Supaya ga salah beli dan buang-buang uang

Kalau buat yang awam ngga direkomendasin beli online kecuali cuma mau repeat buying. Misal kita pernah pake lipstik apa, cocok, dan mau beli lagi.  

Sekian. 
***

Dalam obrolan kami, beberapa kali Yusti  menekankan bahwa make up adalah seni. Dan saya sangat sepakat.  
Maka, jadikan ia seni yang indah yang bisa kita nikmati bukan menjadi kebutuhan yang menenggelamkan keindahan alami kita. 
Salam

 
Kachan

__________________________________________________________________________________


Portofolio Yusti
MUA by Yusti
foto: doc.pribadi Yusti
advertorial batik keris
foto: doc. pribadi Yusti
advertorial batik keris
foto: doc. pribadi Yusti
minang - inflight magazines garuda indonesia
foto: doc.pribadi Yusti

minang - inflight magazines garuda indonesia
foto: doc.pribadi Yusti