Natali & Nuniek Tirta Hi-Tea di The Westlake Resort

Dengan kembalinya R ke Jogja, ada beberapa hal yang berubah dan butuh penyesuaian. Salah satunya, saya menjadi selektif memilih event untuk didatangi. 
Simpelnya, saya dan R masih euforia kembali tinggal bersama. Jadi ingin lebih banyak menghabiskan waktu bareng. Makanya, meski event di Jogja waktu itu sedang luar biasa banyaknya, sebisa mungkin kami menghadiri acara yang memang menarik dan bisa dihadiri bersama.

Event yang saya hadiri awal Desember kemarin salah satunya. Sebenernya, kalau bukan karena Mak Lusi share di grup Whatsapp saya ngga akan 'ngeh' ada event ini. Makasih, Mak Lus :). Habis tau ini saya langsung kasih tau R. Eh, ternyata dia excited. Cocok katanya, dia bisa sharing sama Mas Natali soal usaha dan saya dengan Mba Nuniek soal blogging. Yey.

Natali & Nuniek Tirta Hi-Tea

foto by Nuniek Tirta

Eh sayangnya, di hari-H , R malah ngga bisa ikut. Ada urusan kerjaan. Tapi saya tetep  ikut kok, biar nanti bisa sharing dapet ilmu apa aja. Apalagi tempatnya dekat rumah. Masih satu kecamatan. Cuma 10-an menit dari rumah. Tingga cusss.

Natali & Nuniek Hi-Tea diadakan di dermaga deck-nya The Westlake Resto. Cozy banget tempatnya. Potongan-potongan kayu dipilih buat lantai dan kursinya.  Trus, masih ditambah tiang lampu khas dermaga. Bikin betah buat duduk-duduk dan foto-foto tentunya. Bahkan Mba Nuniek dari awal sudah bilang "boleh lho foto-foto dulu". Haha tau aja.

Di ruang yang terbuka ini sejauh mata memandang cuma view yang bikin mupeng. Di Selatannya menghampar kolam renang model infinity. Selebihnya pemandangan kamar-kamar resort yang seakan mengapung di atas air dan rerimbunan hijau yang mengitari resort.

sudut dermaga :)
lantai kayu dan danau
meja dan kursi kayu
pohon
hijau dan berlarian nyaman
Dan benar ya, tempat dan suasana yang oke itu bisa menambah plus sebuah acara. Awalnya saya  ngga kebayang acaranya mau seperti apa. Tapi ujung-ujungnya malah ngerasa kok cepet banget.  

Tapi memang bukan karena tempatnya saja sih. Mba Nuniek yang humble, Mas Natali, dan panita penyelenggara mengemasnya dengan hangat dan personal. Ngga kaku. Jadi kami yang datang meski baru kenal asyik-asyik aja menikmati sharing dan obrolannya. 

Sharing bersama Nuniek Tirta & Natali Ardianto
Nama Mba Nuniek Tirta saya kenal pertama kali sebagai seorang blogger. Semenjak bergabung di komunitas blogger saya beberapa kali mampir keblogpost yang dipostingnya. Dari situ saya jadi tahu beliau adalah salah seorang blogger senior yang kiprahnya cukup besar dan sudah lamaaaa. Mungkin waktu Mba Nuniek sudah jadi blogger dan founder komunitas saya  masih asik jajan batagor sambil baca majalah bobo. Eyaampun junior banget saya mah.

sharing time :). foto by Nuniek Tirta
pasangan sepaket. foto by Nuniek Tirta
Dalam sharingnya Mba Nuniek juga sempat menyinggung soal pemberitaannya baru-baru ini. Mungkin sudah banyak yang tau ya? Wajar sih, soalnya beritanya memang cukup bersliweran dibanyak media sosial. Bukan hanya dikalangan blogger aja. Pemberitaan  dirinya, tentang 'istri direktur yang pakai OOTD murah'. 

Mba Nuniek sedikit mengklarifikasi bahwa pemberitaan tsb tidak 100 persen benar. Dirinya memang sering pakai ootd murah/terjangkau, tapi bukan berarti dia anti barang-barang branded. Yang lebih tepat, dia sekarang lebih selektif.
  
Apa yang ia lakukan ini pun bukan tanpa sebab. Hal ini diawali sebuah pengalaman yang membuatnya belajar. Ada suatu masa dimana ketika pendapatan keluarganya meningkat dia langsung  memilih untuk menaikkan pula gaya hidup keluarganya. 

Ternyata, pendapatannya tidak mampu membiayai gaya hidup yang tengah diusungnya saat itu. Akhirnya, tidak sekali dua kali uang dari bisnis pribadinya dipakai untuk menutupi gaya hidup. Yang ternyata tetap tidak cukup. Hingga yang terjadi adalah kondisi keuangan keluarga yang menjadi kacau dan mulai berimbas kurang baik. 

Mulai dari sana Mba Nuniek belajar satu hal. Bahwa naiknya pendapatan tidaklah harus dibarengi dengan naiknya gaya hidup.

Dari pengalamannya ini Mba Nuniek ingin mengedukasi masyarakat terutama dalam hal fashion. Dengan sering memakai OOTD murah beliau ingin mengkampanyekan agar orang-orang tidak terjebak dalam gaya hidup yang melebihi kemampuannya. Juga ingin memperlihatkan bahwa dengan memakai barang-barang yang tidak branded tidak serta merta menurunkan derajat seseorang atau membuat kita tidak keren. 

Kembali lagi, jangan sampai gaya hidup kita melebihi pendapatan kita.

Sedangkan Mas Natali, sesuai kapasitasnya lebih banyak berbicara tentang dunia bisnis. Ada satu hal menarik bagi saya yang disampaikan oleh Mas Natali diawal sharingnya. Kurang lebih tentang hati-hati dalam membuka peluang investasi pada orang lain. 

Meskipun tidak membangun bisnis yang serupa dengan beliau, namun saya mengiyakan apa yang disarankannya. Bahkan semenjak awal membangun bisnis hingga sekarang, saya belum terpikir membuka peluang investasi. 

Ada banyak alasan. Terutama karena saya membangun usaha yang ditekuni sekarang ini dengan sebuah misi, visi, dan nilai tertentu. Membuka investasi mungkin memang bisa membantu meningkatkan usaha, namun risiko ketidaksejalanan visi misi juga bisa terbuka. Padahal kepemilikan sudah terbagi. Jadi problem baru.

Karena bagaimanapun saya juga ingin membangun bisnis yang masih ada  dan berjalan hingga puluhan tahun mendatang. 

buku Natali Ardianto

Tidak semua pelaku bisnis memiliki kemampuan komunikasi yang baik seperti Mas Natali. Menurut saya beliau bisa bercerita dengan enak dan mengalir. Setelah membaca bukunya saya jadi tahu bahwa kemampuan ini bukan sekedar bakat lahir. Namun juga ada andil usaha dan kemauan mengembangkan diri  yang sangat besar.

Transformasi dirinya dan juga bagaimana ilmu bisnisnya tertuang cukup banyak dalam bukunya ini.

Satu hal yang saya petik setelah membaca bukunya. Strategi bisnis bukan hanya bicara tentang ide brilian, intuisi bisnis, kemampuan mengenali orang lain dan membaca pasar. Di luar itu yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita juga harus mampu mengenali dan mengembangkan diri. Karena hal ini adalah sinergi yang tidak bisa diputus

Syukurlah, meski tidak semua pertanyaan sempat diberikan. Lagi-lagi karena waktu. Saya cukup puas karena mendapat tambahan ilmu dari pasangan sepaket ini.
paket lengkap Nuniek & Natali

The Westlake Resort

Selepas Hi-Tea, kami diajak jalan-jalan mengelilingi resort, ditemani Mas Stefan, PR The Westlake Resort. 

Menurut Mas Stefan secara arsitektur resort ini mengusung gaya khas Jawa. Bisa dilihat dari ornamennya. Pilihan model jendela dan pintu-pintunya. Juga motif lantainya.

halaman tengah
lobi

Buat saya 2 hal yang nampak mendominasi  di resort ini adalah air dan pohon. Komposisinya sukses bikin suasana jadi adem, ayem, tentrem.

Waktu liat kolam renangnya saya langsung pengen ngajak Kinan berenang di sini. Dia pasti suka. Saya apalagi hehe. Kolam renangnya memang tidak terlalu besar tapi dibuat seolah-olah menyatu dengan danaunya. Jadi bikin atmosfirnya keliatan lebih fresh dan beda. Duh, bawaannya pengen nyemplung. Byur!

Kalau R, waktu saya kasih lihat foto suasana resort langsung bilang "Wah danaunya kok gede banget, boleh ngga ya nginep sambil bawa kayak dan main disitu?". Hahaa, kapan-kapan mungkin bisa kita tanyain ya. 

Kemarin emang lihat ada perahu berlayar di danau. Eh rakit ding. Itupun karena mau ngasih makan kelinci yang dipelihara di pulau-pulau tengah danaunya. Hmm mungkin boleh kali ya main kayak asal bantu ngasih makan kelinci *haha maksa*.

boleh ikut naik ngga ya?
danau :)
sudut kolam renang

Jarak kamar dengan lobby dan ruang-ruang utama memang cukup jauh. Kalau buat jalan-jalan sambil menghirup udara pagi atau sekedar pengen cari keringet sih oke aja. 

Tapi kalau harus bolak-balik dari kamar ke kolam renang, ke resto, ke dermaga, atau ke acara di aula misalnya kayaknya bakal capek. Nah, untungnya disediain jasa buggy car (golf car) buat bantu mobilisasi. 

Kayaknya resort ini cocok banget deh buat tempat staycation dan habisin seharian leyeh-leyeh atau eksplorasi sekitar. Cocok juga buat yang bulan madu ;). Soalnya ini tipikal tempat menginap yang sayang banget kalau cuma buat ditidurin dan selebihnya main di luar. Mending seharian aja di resort. 
***
Selain ilmu baru yang saya dapat dari sharing hari itu, ada lagi satu hal yang menggelitik saya. Dari acara ini saya diingatkan untuk tidak berlebih-lebihan. Tepat ketika Mba Nuniek ingin memperkenalkan seseorang. Yang awalnya saya kira mungkin keluarga/staf resort. Karena sejak awal terlihat sibuk dengan ikan di selokan kecil dekat dermaga. 

Setelah diperkenalkan, ternyata beliau adalah Pak Rama, pemilik The Westlake Resort. Sosok yang bergaya sederhana, lengkap dengan kaos, celana pendek. Tak lupa sendal jepit. 


Tuan rumah yang sederhana dan penyelenggara yang sedang edukasi gaya hidup. Duet, yang sukses mengingatkan saya tentang ketidakberlebihan.

Seakan menjadi contoh akan kalimat yang sempat terselip dalam sharing session
Bahwa uang 100.000 tidak akan berubah meski ditaruh di dompet ataupun kantong kresek. Sama, nilai diri seseorang tidak akan berubah meski ia memakai apapun atau di tempatkan dimanapun. 


Salam, 


Kachan


Ketoprak Pawarso Budaya, Wujud Pengembangan Rakyat dari Alokasi Dana Desa


Sebuah Desa Bernama Sodanten
Saya tinggal di sebuah desa kecil bernama Sodanten (ten-nya dibaca seperti ketika mengucapkan Kota Klaten). Letaknya di bagian Barat Jogjakarta. Masuk wilayah Sleman namun hampir berbatasan dengan Bantul. Ditinggali kurang lebih 200 Kepala Keluarga.
 
Meski secara geografis wilayahnya cukup kecil, kegiatan di desa kami cukup padat merayap. Mulai dari kegiatan ibu-ibu, meliputi Dasawisma (setiap 10 rumah), kegiatan RT & RW, dan KWT (Kelompok Wanita Tani). Untuk bapak-bapak, ada ronda, kegiatan RT & RW, Gorsip (Gotong Royong Simpan Pinjam), ORGOS (Organisasi Gotong Royong Sodanten). Untuk anak dan pemuda kegiatannya dinaungi karang taruna PESO (Pemuda Sodanten). Selain itu masih ada kegiatan lain yang bersifat umum dan keagamaan. 

Yang perlu digarisbawahi semua kegiatan di sini bersifat aktif. Bisa dibayangkan bukan bagaimana intensitas dan kelekatannya. 

Ketoprak Pawarso Budaya
Di luar berbagai kegiatan ini. Ada lagi satu kegiatan yang baru saja diresmikan di desa kami pertengahan tahun ini, yaitu Ketoprak Pawarso Budaya. Pawarso sendiri adalah singkatan dari Paguyuban Warga Sodanten. Jadi desa kami punya paguyuban ketoprak sendiri :D.


Menurut Wahyuti, salah seorang pengurus RT, memang potensi yang sangat nampak dari Sodanten adalah dalam bidang seninya. Orang-orangnya suka belajar seni terutama tradisional. Dan memang ada beberapa orang yang sudah terjun dalam dunia panggung, baik seni tari maupun seni olah suara. Sehingga ada yang bisa membantu mengakomodir.


Seingat saya sendiri sebagai salah satu warganya, sejak dahulu kesenian memang menjadi hal yang tidak terpisahkan dari Sodanten. Event kesenian selalu menjadi hal yang digiatkan dengan maksimal. Baik oleh yang mencanangkan, yang membuat, yang melakukan, maupun yang menontonnya.


Kira-kira 4-5 tahun yang lalu Sodanten menambah sajian utama dalam pentas seni 17-annya, yaitu ketoprak. Sejak awal digarap dengan apik. Ada proses latihan intensif dari pemain maupun pemusik gamelannya. Saat tampil dibantu oleh soundsystem, setting panggung, serta atribut dan riasan yang lengkap. Dan tentu saja cerita yang menarik dan  para pemain yang berbakat. 

Imbasnya, tahun-tahun berikutnya Ketoprak 17-an di desa kami menjadi lebih dikenal. Tidak lagi hanya ditonton oleh masyarakat desa namun juga perangkat desa dan pejabat pemerintahan. Maka, tidak jarang kepala dukuh, lurah, camat, dan perwakilan DPRD ikut hadir menonton meski terkantuk-kantuk. Maklum, ketopraknya biasa selesai hingga dini hari. 

Ketoprak Pawarso Budaya - Agustus lalu. Foto: dok.pribadi
Kisah Bandung Bondowoso & Roro Jonggrang, Agustus lalu. Foto: dok.pribadi
Sebelum akhirnya diresmikan tahun ini, kiprah Ketoprak Pawarso Budaya  memang cukup meningkat. Penampilannya beberapa kali diliput oleh koran online setempat. Pernah juga Ketoprak kami diminta tampil dibeberapa tempat. Atau kali lain diminta mewakili wilayah setempat untuk lomba. Dan salah satu hasilnya adalah menyabet juara 3 dalam Lomba Ketoprak dalam Festival Pertunjukan Rakyat mewakili Kabupaten Sleman. 

Juara 3 Festival Pertunjukkan Rakyat . Foto milik Irkhas

liputan koran online 1. foto: krjogja.com

liputan koran online 2. foto: krjogja.com
Wujud Alokasi Dana Desa
Meskipun demikian, menelurkan paguyuban baru bukan hal yang mudah dan instan. Contohnya  Pawarso Budaya ini. Diawali dengan adanya bibit-bibit ketoprak dalam desa. Digerakkan oleh para motor yang berbakat. Didukung oleh para pengurus yang mampu mencium potensi  desanya. Dan disupport pula dalam bentuk dana dari dana desa sebagai wujud pengembangannya.  
Ada dana desa yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan desa, termasuk seni” begitu yang disampaikan Bapak Wawan, salah seorang ketua RT. Terlebih karena masyarakatnya suka berkesenian dan potensial, jadi sejak awal sudah ada alokasi dana desa untuk ini. Dan buktinya aliran dana tersebut memang membuahkan hasil yang baik. 

Dana desa sendiri adalah dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi desa 
yang ditransfer melalui APBD kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat (kemenkeu.go.id).

Tidak bisa dipungkiri jika dana desa ini menjadi salah satu support yang nyata dalam pengembangan masyarakat. Di desa saya misalnya, keberadaannya bisa membawa ketoprak desa yang semula hanya untuk menggembirakan warga menjadi lebih profesional. 

Siklus Rakyat dan Negara
Soal dana desa ini jika diturut sebenarnya adalah dana dari pemerintah yang bersumber dari rakyat. Yang menarik, jika prosesnya berjalan dengan baik dan tepat sasaran, bisa menjadi siklus yang saling memberi manfaat. 

Jadi, mengambil contoh ketoprak desa kami, urutannya akan seperti ini: uang dari rakyat - untuk negara - kembali ke masyarakat (alokasi dana desa tepat sasaran: mengembangkan ketoprak) - aset budaya dan negara. Bisa jadi akan bersiklus lagi. Misalnya, jika pemerintah melihat potensi ini dan akhirnya memberi dana khusus untuk lebih mengembangkannya lagi. Putaran manfaat akan bergulir lagi. Bukan hal yang tidak mungkin bukan?

Terlepas dari itu, pengalokasian  dana desa tidak serta merta bisa disamaratakan tiap desa. Masing-masing desa harus jeli melihat potensi maupun kebutuhannya. Di satu desa mungkin ada kebutuhan fisik yang lebih harus diselesaikan. Maka alokasi itu yang harus diprioritaskan. Namun, jangan sampai pandangan kita akan pembangunan dan pengembangan terpatok hanya pada aspek fisik saja. 

PRnya, mari saling berkontribusi agar siklus manfaat rakyat dan negara ini bisa terus berjalan dengan baik.





Salam, 



Kachan 



Sumber data:
-wawancara pengurus desa sodanten : Bapak Wawan & Ibu Wahyuti
-http://www.kemenkeu.go.id/dana-desa
-http://krjogja.com/web/news/read/8012/Peringati_Keistimewaan_DIY_Pemuda_Sodanten_Ketoprakan 
-http://krjogja.com/web/news/read/7485/Lawan_Narkoba_Melalui_Seni_Budaya 




Kinul & Ipus #3

video



Halo, Grey sudah melahirkan lho. Eh, tapi kali ini ngga akan cerita soal Grey sih. Biarlah dia tenang dengan masa penyembuhannya dulu.
 
2 minggu lalu, anaknya Grey yang dulu (sebelum yang sekarang) tiba-tiba muncul. Eh yaampun galak banget! Eh brutal tepatnya. Sukanya nggelibet dibadan dan narik sambil gigitin baju. Suka teriak-teriak tanpa henti juga. Kan sebel.

Dilalah sasaran yg paling dia suka, Kinul. Tiap Kinul muncul, bakal digangguin sepanjang jalan sambil ditarik-tarik. Adegan mereka kejar-kejaran, naik kursi, ngumpet-ngumpetan, jadi kebiasan sampe hampir seminggu.

Sekarang udah amat sangat anteng banget. Cuma Kinul keliatan masih agak bete kalo diikutin. Hmm tapi nampaknya kok bakal temenan sama kayak dengan emaknya dulu.

Duh, kucing lagi nih 😔

Menjadi 1 dari 1000 Pemilik Tanda Tangan Digital Pertama di Yogyakarta

seminar ttd digital
Awal minggu ini saya menjadi 1000 orang yang hadir dalam seminar yang diadakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika RI (Kemkominfo). Temanya "Tanda Tangan Digital pada Trasaksi Elektronik". Berkecimpung di dunia maya dan tengah menjalani usaha di bidang online membuat saya tertarik  hadir ketika mendapat undangan ini.

Sejak masuk dalam dunia kerja hingga sekarang, saya terbiasa dengan proses pengiriman surat bertanda tangan dalam scan-scan an. Jarak dan waktu menjadi pertimbangan dalam hal ini. Sehingga beberapa surat-surat dalam pekerjaan biasa dikirim via email. 

Caranya, surat yang bertanda tangan discan kemudian dikirim via email. Agak kerja dua kali. Tapi mampu memotong alur kerja hingga lebih efektif & efisien. Namun tidak berlaku untuk semua surat. Surat-surat penting, seperti surat kontrak kerja sama masih harus di tanda tangan secara manual. Jadi jika jarak jauh, harus dikirim via pos. Iya, memang jadi lebih lama.
peserta (foto by www.destiladee.com)

peserta

Apa sih Tanda Tangan Digital?

Tanda Tangan Digital adalah sebuah skema matematis yang memiliki keunikan dalam mengidentifikasikan seorang (subjek hukum) di dunia digital.

Bingung ya? Memang. Saya waktu liat juga agak rumit. Jadi wujud aslinya adalah skema angka dan huruf yang banyaaaak sekali (kurang tahu berapa). Ini semacam kode-kode dibalik layar yang diatur  sedemikian rupa untuk mengamankan dan tidak mudah dipalsukan.  Namun yang nampak dalam berkas digital nantinya bukan kode tersebut melainkan nama dan tanggal penandatanganan. Seperti ini. 

ttd digital

Nah, waktu penandatangangan ini juga merupakan salah satu bentuk pengamanan. Acuan waktunya berdasarkan server tanda tangan digital tersebut. Jadi bukan berdasarkan waktu kita masing-masing. Bentuk tanda tangan digital itu seperti ini.

Terlihat simpel. Hanya sebuah nama dan tanggal dalam kotak. Namun jangan salah. Ini tidak sesimpel itu  untuk ditiru atau di copy-paste. Didalamnya termuat kode-kode digital diri kita. Dan dia terlink dalam server khusus. Untuk mengetahui validasinya bisa dengan mengeklik kolom tanda tangan tersebut. Jika valid akan muncul seperti ini.

validasi
Jenis TTD Digital?
Tanda tangan digital sendiri terbagi menjadi 2:
- TTD Digital Tersertifikasi: Dibuat menggunakan jasa penyelenggara sertifikasi elektronik dan dibuktikan dengan sertifikat elektronik. Ini adalah ttd yang dibahas dalam seminar. 

- TTD Digital Tak Tersertifikasi: Contohnya tanda tangan yang discan/dipindai. Seperti yang saya lakukan. Punya kekuatan nilai namun lemah. Karena masih bisa ditampik oleh ybs atau bisa diubah pihak lain.

Kelebihan TTD Digital? 

- Memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah pada dokumen elektronik dan transaksi elektronik. Seperti yang tercantum pada pasal 11 UU ITE. 

- TTD Digital memiliki kekuatan hukum yang sama dengan tanda tangan basah/manual. Kecuali surat-surat tertentu yang hingga sekarang memang masih diwajibkan dalam bentuk kertas, seperti surat nikah dan surat tanah.
 
- Keberadaan TTD Digital relatif aman, efisien waktu, dan mempermudah pekerjaan jarak jauh.
 
- Sebenarnya bisa digunakan untuk login dan bertransaksi pada aplikasi (eGovernment, eBanking, eCommerce, dan eServices lainnya). Sayangnya belum ada aplikasi yang siap menggunakan sertifikat digital ini. Aplikasi yang dapat menggunakan sertifikat digital sedang dalam proses pembuatan oleh layanan publik. Harapannya sudah bisa digunakan pada 2017.
 
- Go Green. Yap, penggunaan ttd digital mampu mengurangi penggunakan kertas secara langsung :)

Cara mendapatkan TTD Digital?
Bagi anda yang ingin dapat membuat ttd digital pada dokumen PDF dan aplikasi online, terlebih dahulu harus punya yang namanya sertifikat digital yang diterbitkan oleh Certification Authority (CA). Untuk mendapatkannya harus registrasi terlebih dahulu. 

Caranya, siapkan KTP dan email kemudian daftar di: http://bit.ly/daftarsivion. Memang prosesnya nanti akan sedikit membingungkan. Tapi bisa dipahami dengan membaca manualnya. Step by step-nya bisa didownload di alamat ini : http://www.sivion.id/downloads/sivionManual.pdf . 

Satu
Seribu. (foto by www.nurulalamin.com)
***
Saya sendiri merasa senang bisa menjadi satu dari seribu orang pertama yang memiliki ttd digital di Jogja. Ttd sendiri memang proyek nasional. Namun masih dalam tahap sosialisi dan promosi. Untuk selanjutnya dilihat dan dikaji lagi dalam penerapannya. Ke depan menjadi wajib? Mungkin iya mungkin juga tidak. 


Terlepas dari itu, saya mengapresiasi inovasi ini. Yang berkontribusi dalam dunia digital saat ini. Dan juga memiliki tujuan baik dalam hal efisiensi dan pengamanan.  

We are living in a world where everything is based on security - Alan Robert


Salam, 


Kachan

Kinul & Ipus #2




Seingat saya, semenjak jadi teman Kinul, ini kehamilan kedua Grey. Perutnya sudah semakin besar. Kalau dia berdiri perutnya sudah semakin mau jatuh. Mungkin kalau dalam kamus hamil manusia 'bayinya sudah masuk panggul'. Tinggal menunggu HPLnya saja.


Grey tetap setia dijam-jam bermain sama Kinul. Hanya saja dia lebih banyak diam dan tiduran. 


Kinul yang biasanya agak usil juga jadi lebih anteng. Selain sering ikut tidur-tiduran, juga jadi suka ngelus-elus perut Grey. Dan hari itu terpotret sedang memegang tangan Grey. Seakan memberi support menjelang ipusnya melahirkan :")



Miaw,

 

Kinul & Ipus


Jangan Lupa Bahagia di Lantai Bumi


lantai bumi
Setelah janji-janji kami yang diwakili ratusan chat digrup tak pernah berujung nyata. Hari itu kami mewujudkannya. 

Ada terlalu banyak rongga pelik di atas sana. Maka, sesekali kami ingin menjauhi negeri awang-awang. Memilih untuk lebih santai. Dan berjanji untuk bersenda dan menapaki hari di Lantai Bumi :)

Nama yang manis bukan? Begitu manisnya hingga membuat kami mendatanginya sebelum angka seminggu ia hadir.

Meski berlabel coffe & space, saya tidak memesan kopi. Ini hari tanpa kafein buat saya yang memang bukan penikmat kopi garis keras. 

Toh tidak mengurangi esensi bahagia hari ini. Bertemu para teman baik sekaligus guru. Merefresh pelajaran hidup. Dan menguatkan tekad untuk kembali berkomitmen :).
lampu
kaktus
hari ini tanpa kafein
ruang
outdoor
dinding dan cicak
Jam-jam pagi hari memang waktu yang tepat. Atmosfirnya masih hangat. Sapaan dari ruang dan tempat yang baru bersiap. Melenakan kami yang lupa waktu. Hingga gemerisik menyadarkan kami untuk berbegas dan kembali.





Salam Bahagia, 


Kachan 

--------------------------------------------------------------------------------------------
Lantai Bumi : Coffe & Space 
Pogung Baru Blok C28, Yogyakarta
Google Map: Keyword 'Lantai Bumi Coffee' (disarankan gps-nya via jalan kaliurang, biar ngga membingungkan)

Kinul & Ipus #1


Ipus atau yg kadang dipanggil Grey, Geri, atau Jeri (sesuka hati sih) bukan peliharaan kami. Seingat saya dia adalah kucing pertama yang diliat Kinan waktu Kinan berumur sekitar 1 bulan. Waktu itu saya dan Kinan lagi di teras buat liat hujan romantis. 

 

Dan Si Grey juga ada di sana, numpang berteduh kayaknya.Dan baru2 ini saya menyadari kalo semenjak itu Grey selalu datang ke rumah. Setiap hari. Padahal ngga kami kasih makan. 

 

Bahkan sekarang dia punya jadwal tetap ke rumah kami. Pagi, siang, dan malem jam 7-8 an. Buat maen, ngobrol, nemenin makan, nungguin Kinan pake sepatu kalo mau pergi, atau sekadar gegoleran bareng kayak gini.

 

Miaw,

 

Kinul & Ipus