SLIDER

Asian Games 2018 : Kobaran Semangat Energi Asia dari Yogyakarta

Tuesday, 17 July 2018 | 4 comments


Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games untuk kedua kalinya pada Agustus- September 2018 ini


Saya ingat betul saat bertandang ke Jakarta tahun lalu, semarak penyambutan event akbar ini sudah mulai terasa. Banyaknya baliho yang bertebaran, iklan-iklan digital di gedung pencakar langit, umbul-umbul yang terpasang,  spanduk yang terbentang di ruas-ruas jalan maupun yang menjadi penutup di sebuah angkringan tepi jalan. 


Semakin mendekatnya perhelatan besar ini, semakin deras pula putaran informasi yang tersebar baik di dunia nyata maupun dunia maya. Beragam progres persiapannya sudah mulai menghiasi segala lini berita. Berbagai informasi yang tersebar memperlihatkan bahwa pesta olahraga kali ini memang dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, mulai dari atlet, sarana dan prasana, serta hal-hal mendukung seperti acara, pengisi acara, bahkan hingga dibuatnya lagu  dan tarian khusus.


Tak ketinggalan semakin lengkap dengan hadirnya tiga maskot yang super menggemaskan namun penuh makna dan mewakili Indonesia: Bhin Bhin, seekor burung Cendrawasih (Paradisaea Apoda) berompi motif Asmat dari Papua yang merepresentasikan strategi. Atung, seekor rusa Bawean (Hyelaphus Kuhlii) bersarung motif tumpal Jakarta yang merepresentasikan kecepatan. Kaka, seekor badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) berpakaian tradisional motif bunga khas Palembang yang merepresentasikan kekuatan

 
Bhin Bhin


 
Atung

 
Kaka

Saya yakin gegap gempita yang sama juga terjadi di masyarakat Indonesia saat menjadi tuan rumah pada 1962 meskipun dengan cara yang berbeda. Bahkan salah satu peninggalan Asian Games kala itu masih bisa kita saksikan di Jakarta hingga saat ini. Sebuah patung pemuda-pemudi di bundaran Hotel Indonesia yang sengaja dibuat untuk menyampaikan 'Selamat Datang' pada Asian Games 1962 (dan nampaknya masih bisa melakukan hal sama untuk Asian Games 2018 mendatang :))

***

Bukan hanya di Jakarta dan Palembang yang menjadi lokasi utama perlombaan, di Yogyakarta sendiri semangat penyambutan itu juga sudah mulai terasa. Hampir di setiap lampu merah pertigaan atau perempatan jalan dihiasi dengan spanduk berwarnan merah bertuliskan ‘Sukseskan Asian Games 2018’. Ini hanya satu dari sekian  banyak bentuk dan desain spanduk/baliho dengan tema sama yang tersebar di lingkungan Yogyakarta. 

foto : koleksi pribadi
foto : koleksi pribadi
foto : koleksi pribadi
foto : koleksi pribadi

Dukungan ini juga semakin besar dengan potensi dari beberapa atlet Yogyakarta yang lolos dan akan ikut bertanding pada Asian Games mendatang. Beberapa di antaranya adalah  Fitriyani dan Seto dalam cabang olahraga panjat tebing, Adrianida Irma Saleh dalam cabang olahraga penthatlon, Gunawan Pandu Khallista dalam cabang olahraga baseball, Toga Pramandita dalam cabang olahraga judo, Cindy Tugiyati dalam cabang olahraga sepak bola putri, dan  Tri Sukma Nugraeni dalam cabang olahraga rugby.

Puncak dukungan sebelum event besar ini terjadi pagi ini (17/07). Setelah beberapa waktu terakhir berbagai jajaran dan kalangan di Yogyakarta mempersiapkan diri agar acara ini terlaksana dengan aman dan baik tanpa halangan. 


"Menjelang pukul 08.00 pagi hari ini, deru suara pesawat  terdengar membahana di atas langit Yogyakarta,  tak hanya sebuah, namun beberapa..."

"Suara pesawat tempur", jawab saya kepada Suami setelah mengintip ke luar jendela. Melalui  pernyataan di akun twitter resmi milik TNI Angkatan Udara yang juga disertai cuplikan gambar terkabar bahwa pesawat Boeing milik TNI AU yang membawa Api Asian Games dari India telah sampai di Yogyakarta, di didampingi empat buah pesawat tempur sebagai penyambutan dan pengawalan. 
foto : akun twitter TNI AU @_TNIAU

Mengutip pernyataan Gubernur DIY "Bagi saya ini penghargaan bagi seluruh warga masyarakat DIY”. Mengamini pernyataan Beliau tersebut, bagi saya pribadi hal ini adalah sebuah kebanggaan yang harus didukung bersama seluruh masyarakat. Di mana tempat saya tinggal, Yogyakarta, mampu berandil besar dengan menjadi tuan rumah pertama bagi obor Asian Games  yang dibawa dari India untuk selanjutnya disatukan dengan Api Mrapen (abadi) dan dikirab ke beberapa kota di Indonesia.



Api semangat yang ditunggu-tunggu itu kini telah sampai di ibu pertiwi dan siap mengobarkan energinya ke seluruh penjuru tanah air.
Api Obor Asian Games 2018. foto : Instagram Humas Pemda DIY @humasjogja
Semoga kobarannya  mampu menjadi jiwa dari “Energy of Asia” dan terbentang pada keberagaman budaya, bahasa dan peninggalan sejarah. Agar mampu bersatu dan  menjadi kekuatan utama yang diperhitungkan dunia. (asiangames2018.id).



Salam Sukses Asian Games 2018,




K









 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Sumber Pustaka:
-      Instagram resmi Humas Pemda DIY @humasjogja
-          Twitter resmi TNI Angkatan Udara @_TNIAU
-          https://asiangames.tempo.co/read/1106237/persiapan-polisi-yogyakarta-sambut-kirab-obor-asian-games-2018

Stress Healing Class : Bebaskan Diri dan Menarilah

Wednesday, 17 January 2018 | 2 comments

Ini postingan pertama di tahun 2018.

Hai, apakabar 2017 kalian? 
Buat saya 2017 adalah tahun yang cukup 'waw'.
Yang dengan jujur saya katakan,...kamu tahun yang tidak mudah ya:")

Mungkin karena itu, saya  langsung mengangguk setuju saat seorang teman meminta saya menjadi special guest di workshop yang akan ia buat, Stress Healing Class - temukan dirimu lewat tari. Niatnya, ngga benar-benar saya niatkan untuk meng-healing diri sih. Tapi membayangkan tubuh saya akan diajak buat bergerak ke sana kemari kok kayaknya  menyenangkan  ya.

Untungnya beneran ngga nyesel mutusin buat ikut. 

Meski pas hari H diawali dengan drama  teler, meler, bin masuk angin. Alhasil, tepat sebelum berangkat dipaksa Mas Bojo buat nenggak obat yang bikin sepanjang perjalanan tidur. Untungnya lokasi workshop, sejam lebih dari rumah. Jadi tidurnya bisa lama dan nyenyak.

Nyatanya, iklim positif emang berpengaruh banget ya buat kesehatan jiwa raga? Saya yang di awal-awal acara masih rada puyeng-puyeng ngga jelas akhirnya jadi kebawa suasana dan bisa ikut nikmatin.

kenalan dulu :)
blogger & influencer jogja
Workshop-nya dikemas dengan manis. Mulai dari pilihan tempatnya, di Joglo Abhayagiri  Resto. Suasananya tenang, jadi meskipun tempatnya terbuka namun tidak mengurangi fokus dan keintiman peserta dan pemateri. Restauran di atas bukit ini  punya view ngga nyantai syahdunya. Dari sini kita punya akses menatap langsung ke Merapi dan kompleks Candi Prambanan.

Makin cantik  dengan tambahan dekorasi  hiasan warna putih di beberapa sudutnya. Ngga dominan namun  cukup untuk menguatkan tema. Jadi lebih lengkap lagi karena makanan-makanan yang disajikan ngga sekedar gemesin tapi juga enaaak.

Terasa banget, suasana yang pas, memang membuat materi semakin mengena.

***
"Bebaskan diri dan Menarilah..."
Hampir ngga ada manusia yang bebas dari stress. Bedanya, ada mereka yang sukses mengelolanya sedangkan selebihnya adalah mereka yang terjebak dalam pusarannya. 
 
Mba Anggi, Psikolog dari Kemuning Kembar menganalogikan stress sebagai sebuah kekuatan yang mendorong kita dengan kuat. Jika kita melawan dengan mendorongnya balik maka akan terjadi tekanan yang menguras energi. Lantas bagaimana untuk mengatasinya? dance with it. Dengan menerima dorongan kemunculannya dan mengikuti geraknya. 
 
 
Mba Mila Rosinta kemudian melanjutkan sesi dengan mengajarkan beberapa dasar gerakan tari. Kami dikenalkan dengan dua gerak, gerak cepat dan gerak lambat. 
 
Konon orang-orang introvert membutuhkan latihan gerak cepat agar lebih 'keluar dan berenergi' sedangkan orang ekstrovert yang cenderung 'heboh' butuh latihan gerak lambat untuk belajar 'tenang dan tidak terburu-buru'.

Kalian termasuk yang mana?

Sesi terakhir adalah sesi kami dengan diri sendiri. 
 
Setiap orang diminta untuk membebaskan dirinya bergerak sekehendak hati. Menjadi dirinya sendiri. Boleh cepat, lambat, ataupun berganti-ganti. Boleh memejamkan mata, boleh juga membukanya. Bergerak sembari mengikuti irama dan menjadi diri sendiri.

bergerak
menarilah
hening
Saya termasuk yang bergerak ke sana kemari. Kadang bergerak cepat kadang melambat mengikuti alunan musik yang disajikan.
 
Tanpa disadari selepas menari saya keringetan parah. Basah sah.
Sampai ngga sadar kalau sakit dan puyengnya ikut ilang XD. 
Kayaknya butuh menari lagi ini haha. 
 
 ***
 
Menari memang salah satu cara yang tepat untuk merespon stress. Saya menyadari saat stress urat-urat wajah dan beberapa bagian di tubuh kita ikut menegang. Dan tarikannya menyakitkan. Semakin diingat semakin membuat pusing. Dengan menggerakkan badan atau menari saat stress muncul secara langsung akan membantu mengendurkan tarikan-tarikan dari ketegangan itu. Merilekskannya. Kuncinya, menggerakkan badan tanpa paksaan. Mengikuti alur tubuh ingin bagaimana.

Sebelum menari kala itu saya ingat, saya meniatkan diri ingin melepaskan penat. Meredakan keterburu-buruan waktu. Dan menikmati diri. Selesai menari, saya mendapatkannya. Terimakasih :)

yummy
:)
yeaay
Abhayagiri yang syahdu, tarian yang membebaskan,  penyelengara yang ramah dengan acara yang rapi, teman-teman baru yang penuh semangat, dan makanan-makanan yummy. Love!


Salam, 



K

HIJUP Bloggers Meet Up X Arisan Resik : Menghijau di Greenhost

Sunday, 10 December 2017 | 0 comments


Setelah cukup lama ngga ikut ngumpul-ngumpul blogger, November lalu saya nimbrung lagi deh dalam rangka event Hijup Meet Up Yogyakarta. Semacam melepas kangen juga sama teman-teman blogger hihi. Apalagi acara kemarin dikemas secara manis oleh HIJUP dengan tema 'serba hijau':)

Saking niatnya, bukan hanya dresscode hijau yang saya patuhi. Tapi berangkat ke sininya juga bareng Ojol (Ojek Online) berjaket hijau. Yakalik, kach XD


greenhost
green host
menghijau bersama kala vest by luriko :) #ootd
Sharing tentang Wanita  bersama Para Wanita


Suprisingly, acaranya memang dibuat cukup intim, tidak banyak orang. Jadi sharing session nya bisa lebih akrab, fokus, dan ngga riuh. Saya yang duduk paling belakang pun  tetap bisa menyimak dengan baik. Siang itu kami ngobrol-ngobrol bareng Nina dan  Mba Yuna. 

Nina ini adalah Miss World Muslimah 2012. Wihh! Kemarin, ibu muda satu anak yang sedang hamil anak kedua ini berbagi pengalamannya sebagai istri dan ibu. Salah satunya soal memilih pekerjaan. Baginya, penting memilih pekerjaan yang fleksible, agar masih bisa berperan dengan baik sebagai istri dan ibu. Jadi meskipun kegiatannya nampak segudang: sebagai  pemain sinetron, entrepreneur, dan salah satu member grup musik Noura aktivitas, namun tidak mengurangi porsi waktunya di rumah.

Nina juga ngingetin banget soal pentingnya merawat diri luar dan dalam bagi wanita. Menurutnya masih banyak wanita yang merawat dirinya hanya terpatok pada wajah, lupa kalau organ kewanitaan juga penting dirawat. Ah, benar, setuju.  Beruntung banget Nina udah diajarkan oleh orang tuanya untuk merawat organ kewanitaan sejak dulu dengan resep alami, rebusan daun sirih. 

Hanya saja waktu hamil ini Nina kena keputihan, dan  rada keteteran banget  kalau  ngerebus daun sirih tiap hari. Kalau ngga punya pohonnya ribet juga sih ya, Genks XD. Stelah cari-cari dia nemu Resik-V godokan sirih. Nyoba pake dan langsung cocok. 

Nah, Mba Yuna, dari PT Kino Indonesia (Resik-V) yang juga nemenin sharing nambahin kalau Resik - V ini memang wujudnya ya godokan sirih. Saya yang sempet penasaran akhirnya ngebuka satu botol yang ada di depan saya. Eh bener, awalnya saya pikir isinya cair agak kental seperti sabun pada umumnya. Tapi ini beneran air biasa. Baunya juga khas daun sirih banget. Ibaratnya kayak ngerebus daun sirih dengan skala besar kemudian dibotolkan. Menurut Mba Yuna, diracik demikian  harapannya memang agar kandungan manfaat daun sirih benar-benar bisa diambil secara maksimal namun juga praktis.

Resik-V ini bisa dipakai setiap hari, disarankan sekali sebelum dan saat menstruasi. Juga baik dipakai untuk mengatasi keputihan dan gatal-gatal . Bisa dicoba ya.

Sharing Session
Mba Yuna - Nina - Mba Tifa
 "...tadi kita banyak mengulas tentang merawat diri untuk membahagiakan pasangan. Namun, jangan pernah lupa, sebelum membahagiakan oranglain kita juga perlu membahagiakan diri kita sendiri. Karena setiap diri adalah berharga"
Mba Yuna memberi penutup sesinya dengan kalimaat yang "gerrrrrrr" menohok tapi benar banget. Kalimat semacam memang sesekali kita dengar namun juga kalimat yang mudah kita lupakan :"). Dan rasanya kayak perlu diingatkan berulang-ulang. 

***


Terimakasih HIJUPevent dan Resik-V sudah mengakomodir  Hijup bloggers Meet Up kali ini. Sharing banyak hal tentang wanita, kumpul bareng teman, nambah teman baru, kejutan-kejutan menyenangkan, dan masih berbonus diajarin handlettering pula. Lengkap banget :D

Naah, buat temen-temen yang lagi pengen blanja-blinji di hijup.com, saya ada voucher potongan belanja senilai Rp 50.000,- untuk pembelian minimal Rp 250.000,-. Lumayaaaan kaan. Jangan lupa masukkan kode voucher : HIJUPBMUYOGYAKARTA. Masa berlakunya sampa 31 Januari 2018 yaaa. Happy Shopping XD.


Salam,



K



hijupxarisanresik





Melengkapi Mozaik Mataram Islam dengan Menelurusi Peradabannya

Wednesday, 25 October 2017 | 11 comments

Bagaimana jika dahulu Ki Ageng Pemanahan  memilih tanah Pati sebagai hadiah? Akankah Mataram Islam tetap ada?

Arya Penangsang berhasil ditumpas. Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, mau tidak mau harus memenuhi janji dari sayembara yang ia buat. Sebuah janji  menghadiahkan tanah Pati dan Mentaok bagi siapapun yang mampu menumpas pemberontakan Arya Penangsang. Meskipun Danang Sutawijaya yang membunuh Arya Penangsang tetapi hadiah diberikan pada Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi yang konon merupakan pembuat strategi. 

Konon, Raja Pajang meminta Ki Ageng Pemanahan, yang lebih senior dari Ki Panjawi, untuk memilih. Ingin tanah Pati atau Alas Mentaok? Wilayah Pati saat itu sudah berupa kadipaten dengan kehidupan bermasyarakat yang cukup ramai dan maju. Sedangkan Alas Mentaok, seperti namanya, masih berupa alas atau hutan belantara lebat. Terkenal dengan pohon-pohonnya yang besar dan daun-daunnya yang rimbun.

Ki Ageng Pemanahan memilih Alas Mentaok. Pilihan ini terasa aneh bagi saya mengingat cukup menggiurkannya Pati dibanding Alas Mentaok. Tapi Ki Ageng Pemanahan pasti punya alasan tersendiri. Beberapa sumber pun menyatakan alasan yang berbeda. Sebagian mengatakan Ki Ageng Pemanahan memilih Mentaok karena cerminan kebijaksanaan diri yang beliau miliki. Memberikan yang terbaik untuk orang lain. Ada pula yang menyatakan bahwa sebenarnya beliau juga merasa berat hati memilih Mentaok. Hanya karena merujuk pada asas kepantasan umum, dimana orang yang lebih tua baiknya mengalah, maka beliau tidak memilih Pati.

Versi lainnya yang juga berbeda menjelaskan bahwa Ki Pemanagan tidak mengalami situasi memilih melainkan pembagian wilayah dipilihkan secara langsung oleh Raja Pajang.


Terlepas dari versi manapun yang  sebenarnya terjadi, buat saya itu tidak bisa mengubah bahwa Alas Mentaok sudah digariskan menjadi tempat bermulanya sebuah peradaban besar yang memang ditakdirkan ada, bernama Mataram Islam.

 *** 
Adalah kabar baik bagi saya di awal bulan Oktober.  Komunitas Malam Museum, komunitas di Jogja yang cukup sering mengadakan kegiatan dan concern dengan museum, sejarah, dan budaya membuat acara yang menarik hati, Jelajah Mataram Islam. Agendanya adalah menjelajahi peradaban Mataram Islam. 

Nggak tanggung-tanggung, hampir setiap minggunya diisi dengan penjelajahan jejak dari Mataram Islam yang ada di wilayah Yogyakarta-Kartasura-Surakarta. Seneng sekaligus galau. Pengennya ikut semua biar bisa napak tilas secara utuh. Tapi apa mau dikata, kerjaan dan agenda lain udah terlanjur bertengger ditanggal-tanggal yang sama. 

Dari tiga perjalanan yang ditawarkan saya akhirnya mendaftar penjelajahan di tanggal 15 Oktober dengan tujuan Kartasura - Keraton Surakarta - Pura Mangkunegaran. Saya pilih karena dua alasan. Pertama, meski belum semua, tapi hampir sebagian besar jejak Mataram Islam di Jogja pernah saya kunjungi, sedangkan di luar Jogja bisa dibilang belum pernah. Cuma pernah mampir bentar.  Alasan kedua, yang paling penting sih, ya karena cuma pas tanggal itu free dan bisa ikut XD. Baiklah,  anggap saja  ini adalah perjalanan personal bagi saya untuk menyusun mozaik sejarah Mataram Islam secara utuh.

*** 
Cerita tentang peradaban ini dimulai dari sebuah sudut di Tenggara Yogyakarta. Tempat ini dahulu merupakan sebuah hutan yang dipenuhi pohon-pohon Mentaok.  Karenanya ia lebih dikenal dengan nama Alas Mentaok. Nasibnya kemudian berubah saat bertemu dengan pemilik barunya, Ki Ageng Pemanahan.

Setelah memilikinya, Ki Ageng Pemanahan  mulai membabad hutan belantara minim cahaya yang berisi banyak pepohonan rimbun itu. Di tempat itulah beliau kemudian membangun sebuah kadipaten yang diberi nama Mataram. Beliau selanjutnya dikenal dengan panggilan Ki Ageng/Gedhe Mataram. 

Setelah Ki Ageng Mataram wafat, putranya yang bernama Danang Sutawijaya menggantikan. Di masa pemerintahan Danang Sutawijaya status Mataram berhasil diubah dari Kadipaten menjadi sebuah Kerajaan. Beliau menjadi raja pertama Mataram Islam dan bergelar Panembahan Senopati. Dengan keraton dan pusat pemerintahan di Kotagede. 

Setelah wafat, beliau digantikan putranya Panembahan Hanyakrakusuma. Yang kemudian wafat di Krapyak sehingga dikenal juga dengan sebutan Panembahan Seda ing Krapyak, atau Baginda yang wafat di Krapyak. 

Mataram Islam mengalami masa kejayaan di masa Sultan Agung, raja ketiga. Luas wilayah Mataram Islam kala itu mencakup hampir seluruh Pulau Jawa dan juga luar Jawa seperti Palembang, Jambi, Banjarmasin, dan Makasar. Di tengah kepemimpinannya beliau membangun Keraton Kerto dan memindahkan ibukota kerajaan dari Kotagede ke sana. 

Sultan Agung wafat, dan digantikan putranya yang bergelar Amangkurat I. Di bawah kekuasaanya ibukota kerajaan kembali dipindah. Ia membangun keraton Plered dan memindahkan pusat pemerintahan Mataram Islam ke sana. Ia dikenal sebagai raja kejam yang sering melakukan tindak kekerasan. Juga tak segan membunuh keluarga sendiri jika berbeda jalan dengannya. Di masa itu Mataram Islam mulai mengalami kemunduran yang cukup besar. Muncul banyak pemberontakkan dari luar maupun dari keluarga. Dan yang paling besar adalah pemberontakan Trunojoyo. Trunojoyo berhasil menguasai kerajaan hingga membuat Amangkurat I hidup dalam pelarian hingga akhir hayatnya.

Selepas itu, anak beliaulah yang meneruskan Mataram Islam dengan gelar Amangkurat II. Tapi, Amangkurat II tidak meneruskan tahta Mataram Islam di ibukota kerajaan Plered melainkan membangun keraton baru di Kartasura. Meski masih meneruskan tahta Kesultanan Mataram Islam, Amangkurat II melanjutkan pemerintahannya dengan nama baru, yaitu Kasunanan Kartasura.
Keraton Kartosura sekarang sudah berubah fungsi menjadi makam. Potongan tembok benteng dari susunan batu bata merah dengan lebar hampir dua meter  yang mengelilingi keraton masih bisa dilihat dari jalan raya. Selain makam, ada pendopo kecil, petilasan raja, dan sebuah pohon bernama kleco yang sudah ada di sana sejak Kasunanan Kartasura.
pohon kleco yang sangat langka
sisa tembok benteng
Dalam Kesunanan Kartasura ada 5 raja yang memerintah. Mulai dari Amangkurat II hingga Pakubuwono II. Amangkurat II wafat digantikan oleh anaknya, Amangkurat III. Sayang sekali, Amangkurat III digulingkan dan diasingkan oleh pamannya sendiri (adik Amangkurat II) dengan dibantu VOC, yang kemudian bergelar Pakubuwono I. Pakubuwono I wafat digantikan putranya yang bergelar Amangkurat IV. Dimasa ini terjadi banyak konflik saudara perebutan kekuasaan. Setelah Amangkurat wafat IV, ia digantikan oleh anaknya yang bergelar Pakubuwono II.

Perebutan kekuasaan antarsaudara dengan berbagai klaim dan alasan kembali terjadi. Hingga pada 1755 melalui perjanjian Giyanti yang dilakukan oleh 3 pihak Pakubuwono II - VOC - Mangkubumi. Perjanjian ini mensahkan terjadinya palihan nagari, dengan terpecahnya Mataram Islam menjadi dua menjadi, Kesunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Pakubuwono II dan Kesultanan Yogyakarta yang dikuasai Mangkubumi, saudaranya, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubowono I.
Keraton Surakarta didominasi oleh warna putih dan biru terang. Tembok-tembok tinggi menjulang yang mengelilinginya masih terbentang dengan sangat jelas. Luasnya  keraton ini mencapai 54 hektar.  Karena wilayah baru hasil perpecahan kekuasaan Mataram Islam tidak diperbolehkan membangun keraton/istana yang lebih besar dari sebelumnya, maka luas Keraton Surakarta paling besar dibandinkan Keraton Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman.
Keraton Surakarta
Keraton Surakarta
tembok benteng Keraton Surakarta
Masalah kekuasaan belum sepenuhnya selesai pasca Perjanjian Giyanti. 2 tahun kemudian pada 1757 terjadi perjanjian Salatiga yang dilakukan empat pihak. Pihak Raden Mas Said - Sunan Pakubuwono III - Sri Sultan Hamengkubuwono I - VOC. Dalam perjanjian ini Raden Mas Said menjadi pangeran otonom yang diberi wilayah kekuasaan sendiri. Raden Mas Said kemudian berkuasa atas Praja Mangkunegaran dan bergelar Mangkunegara I.
Seperti putri-putrinya yang terkenal berparas ayu, Pura Mangkunegaran nampak begitu manis. Duduk di pendopo terbesar senusantara yang dimilikinya memberikan aura nyaman dengan bonus angin segar yang menerpa wajah. Bagian dalam yang dipenuhi tanaman hijau memberi kesan sangat asri.
Pura Mangkunegaran

Bagian dalam Pura Mangkunegaran
Bagian dalam Pura Mangkunegaran
Potret Keluarga Mangkunegaran
Kesultanan Yogyakarta sendiri kembali mengalami pembagian kekuasaan pada 1813. Saat itu VOC menjadikan Notokusuma pangeran merdeka  yang diberi hak kuasa atas Kadipaten Pakualam. Pangeran Notokusuma selanjutnya bergelar Pakualam I.

***

Empat wilayah lanjutan dari tahta Mataram: Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman masih menunjukkan eksistensinya hingga sekarang. Meskipun, dalam perjalanan pemerintahannya, masing-masing juga tidak lepas dari konflik. Namun demikian kita patut merasa beruntung, dengan bertahannya keempat wilayah trah Mataram ini kita bisa menikmati secara langsung berbagai budaya peninggalan Mataram Islam yang terbagi dan dilestarikan oleh mereka. Baik berupa tarian, bangunan, ajaran hidup, upacara adat, dan juga peninggalan lainnya. 

Namun kita juga harus mengambil pelajaran lain dari peradaban ini. Mataram Islam awalnya berdiri dan berkembang dengan sebuah cita-cita bersama untuk menyatukan dan memajukan wilayah-wilayah. Namun, pada akhirnya keinginan untuk saling berkuasa membuat penerusnya lupa  cita-cita utama yang berimbas pada perpecahan. Terjadi pembunuhan dalam keluarga karena kecurigaan untuk digulingkan. Antar saudara saling bertikai karena masing-masing merasa layak untuk berkuasa. Tidak jarang semua ini menimbulkan perang yang berdampak buruk bagi masyarakatnya. 

Nusantara bisa belajar banyak dari ini. Bahwa  memajukan bangsa membutuhkan kesadaran untuk kembali menyatukan cita-cita dan tujuan bersama. Jangan sampai ikut larut dalam pertikaian kekuasaan yang justru bisa memecah-mecahnya kembali.

***

Mengurutkan sejarah yang kadang memiliki berbagai versi cerita kadang memberikan kebingungan. Mana yang benar, mana yang salah. Mana yang realita dan mana yang mitos belaka. Meskipun demikian menyusun potongan-potongan cerita yang hadir dalam sejarah memang bisa memberikan kepuasan tersendiri. 

Terimakasih malam museum. Berharap semakin banyak  kegiatan sejenis untuk meneluri jejak-jejak peradaban di nusantara kita yang kaya ini :)


Salam,



K






© People & Place • Theme by Maira G.