Pages

Monday, May 30, 2016

Pada Suatu Hari Nanti di Tembi Rumah Budaya

Apakah kalian bisa membaca buku di mana saja?

Saya hampir selalu melahap dan menghabiskan buku-buku di rumah. Baik di kamar, ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, atau teras. Sebenarnya di mana pun itu asalkan masih bagian dari rumah saya akan nyaman menjadikannya tempat baca.

Sebenarnya saya bukan tidak bisa sama sekali membaca di luar rumah. Hanya saja tempat itu harus benar-benar nyaman buat saya. Entah itu atmosfir, suasana, ataupun auranya. 

Bentuk kenyamanan ini bukan hanya soal harga dan rupa. Karena,tidak semua kafe cantik nan instagramable bisa menjadi setting tempat yang pas buat saya membaca. Begitu pula tidak melulu tempat menginap yang bertema modern, klasik, mewah, nyaman sebagai sebagai tempat untuk membaca. 

Di Jogja, bagian Selatan, ada satu tempat yang mampu menghadirkan suasana nyaman itu, Tembi Rumah Budaya. Ini terasa ketika Pada Suatu Hari Nanti saya bawa bertandang ke sana. Nampaknya, hari itu karya Sapardi Djoko Damono ini memang berjodoh dengan Tembi dan juga sepiring pisang kencono - kudapan kesukaan Sri Sultan HB IX yang tersedia di sana. Maka paragraf-paragraf fiksi di dalamnya terbaca dengan sangat lancar.
pisang kencono & djoko damono :)
***
Atmosfir Tembi Rumah Budaya memang cocok dengan saya. Ia punya ketenangan yang pas. Suasananya tidak benar-benar senyap namun tidak juga ramai. Dibangun apik dengan latar pematang sawah di kanan - kiri dan belakangnya. 

Bangunannya khas Jawa dengan pepohonan hijau dimana-mana. Sejuk dan asri. Harga menginap di tembi cukup terjangkau. Harga tersebut termasuk makan masakan tradisional Jawa 3x di restonya. Terlebih rasa makanannya amat sangat bersahabat dilidah. Karena itu, terkadang Saya dan R mampir ke Tembi hanya untuk makan di restonya. 

taman tengah
salah satu bungalow di Tembi
resto
Tempat ini menjadi berkali-kali lipat supernyaman ketika kita mengunjunginya tidak dihari libur. Karena tidak banyak pengunjung maka kolam renang dan pemandangan di sekitarnya [seakan] menjadi milik sendiri:)

kolam renang tembi 










Sesuai dengan namanya, Tembi menyediakan dirinya sebagai 'rumah' bagi budaya. Berbagai event seni budaya diselenggarakan di sini. Baik seni budaya lampau maupun yang sedang berkembang.

Salah satu agenda seni di Tembi yang  rutin dan memiliki daya tarik tersendiri adalah Sastra Bulan Purnama. Sebuah agenda membacakan puisi di malam bulan purnama di panggung terbuka yang dimilikinya. Syahdu. 




Salam, 


Kachan 

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tembi Rumah Budaya
Jl.Parang Tritis Km.8,4, Timbul Harjo, Sewon, Yogyakarta 
Untuk update harga bisa cek di sini 

Saturday, May 21, 2016

Pantai Baron - Menangkap Frekuensi Kebaikan di Sana

Pantai Baron adalah salah satu dari paket 3 serangkai pantai primadona dari Gunung Kidul yang cukup tinggi pamornya diera 90an: Baron - Kukup - Krakal.  


Bukan berati sekarang Baron menjadi redup wisatawan. Ia tetap memiliki pesona tersendiri. 
Barisan pepohonan rindang yang menyambut di awal gerbang masuk adalah salah satunya. Gelaran-gelaran tikar akan penuh terisi wisatawan di pelatarannya yang memang sejuk karena angin dari pepohonan. Mereka akan duduk-duduk sambil memesan makanan dan minuman dari warung-warung sekitar. 

Daya tarik lain adalah sungai air tawar  di bagian Barat yang bermuara ke pantainya. Sungai yang berwarna hijau nampak cantik saat bertemu dengan laut yang kebiruan. Ini juga tempat favorit wisatawan untuk bermain air.

Sisi Timur juga tidak lepas menjadi perhatian beberapa wisatawan. Mercusuar yang ada di atas tebingnya menjadi tujuan. Wisatawan bisa naik dari tangga kayu yang dipasang di tebing untuk ke sana.

sisi timur pantai baron
sisi barat pantai baron
 ***
Dan, buat saya, Pantai Baron akan selalu punya tempat tersendiri. 


Pada suatu pagi di awal 2009, saya dan teman-teman dari tim divisi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM), Palapsi, berpencar di sekitar Pantai Baron. Tugas kami, memilih subjek untuk diobservasi dan diwawancara. Target tim kami hari itu, mendapatkan tuan rumah yang sesuai dan  mau menampung kami di Pantai Baron ke depannya.

Dan hari itu semesta mempertemukan kami dengan Bu Lastri dan Pak Suyit.  

Begitulah, maka beberapa kali akhir pekan dalam kurun waktu sekitar 3 bulan saya dan tim PPM menumpang di rumah keluarga Pak Suyit dan Ibu Lastri. Mereka tidak tinggal di pantai melainkan di desa yang berjarak sekitar 3-4 km, begitu pula dengan para pedagang maupun nelayan lainnya. Tidak semua tinggal di pantai. 

Maka di pagi hari, kami, sekumpulan gadis-gadis remaja ini pasti sudah siap dan wangi. Kemudian melenggang dengan manis ke gardu pinggir jalan untuk menunggu angkot yang lewat. Syukurlah, kami tidak perlu berjalan kaki. 

Seharian akan kami habiskan untuk mengumpulkan data. Mewawancara pedagang, nelayan, pegawai SAR, ataupun perangkat desa. Sisanya tentu saja kami habiskan dengan  banyak hal. Menikmati sungai, gardu pandang, dan pantai. Nimbrung di warung Ibu sambil minum kelapa muda. Mengganggu Bapak Suyit dan Mas Yadi, anaknya, yang sedang membenahi jala dan kapal untuk melaut. Memilah-milah kerajinan tangan asli pantai di warung Mba Nur, menantu ibu dan bapak. Tentunya dapat harga sangat miring :) 

Sore hari kami tidak pulang dengan angkot karena sudah tidak ada. Kami pulang bersama-sama dengan warga lainnya menggunakan mobil sejenis pick up. Di dalamnya pasti sudah menunggu segunung rumput yang dibawa untuk makan ternak. Sisanya kami menyesuikan diri saling berhimpit-himpitan dengan yang lain.

Keluarga Bapak dan Ibu sangat hangat menerima kami. Kami biasa bersenda gurau dengan anggota keluarga dan juga saudara-saudara yang ada di sekitar rumah. Bapak memang terkesan pendiam, tapi punya segudang cerita. Kami suka mendengarkan kisah Bapak saat masih menjadi nahkoda kapal yang berlayar ke Pulau-pulau lain. Juga sangat betah menyimak kisah-kisah seputar pantai, baik mitos maupun realita. Atau bantu Ibu numis walang (belalang) buat lauk pauk. Eh sebenarnya, yang rajin bantu Ibu cuma Mba Pipit, sedangkan yang lain  tinggal makan hehe.
ramainya akhir pekan di baron
Meski tidak intens berkomunikasi saya dan keluarga Bapak Suyit masih menjalin silahturahmi. Semenjak itu beberapa kali saya datang ke Baron untuk sebuah acara. Tentu saja menyempatkan diri untuk bertemu Bapak dan Ibu. Termasuk Minggu kemarin saat saya ikut piknik sedesa. 

Ibu Lastri sudah punya warung permanen di dekat parkiran. Letaknya di sisi Timur, bertuliskan 'Ibu Lastri'. Menunya segala macam olahan laut yang segar karena Pantai Baron punya pasar ikan sendiri. Jika ke Baron, kalian harus mampir, masakannya tentu saja sedap dan enak. Ibu juga masih punya warung minuman di pinggir pantai. Juga di sisi Timur tepat di bawah tangga ke tebing. 

ibu lastri
bapak suyit
Ibu, masih dengan wajah yang tidak berubah sejak dulu. Selalu heboh dan ramah saat bertemu lagi. Bapak, masih dengan senyum sumringahnya tengah menjalin benang untuk membuat jala di tempat kerjanya, di atas tebing, ketika saya menghampiri. Mas Yadi, sedang sibuk di Kantor SAR membantu mengingatkan wisatawan akan bahaya air yang sedang pasang. 

Kabar Mba Nur, adalah yang mengagetkan dan membuat saya terdiam. Mba Nur, sudah kembali pada yang Maha Memberi beberapa bulan yang lalu. Meninggalkan suami, seorang anak, bapak, ibu, dan kami semua. Semoga Mba Nur yang baik mendapat tempat terbaik di SisiNya. Aamiin ya robbal alamin.
 ***
Saya percaya, setiap orang memancarkan kebaikan. Dan kebaikan yang tulus akan mengantarkan frekuensi yang berbeda. Beruntung kami bisa menangkap pancaran frekuensi  itu sejak awal bertemu dengan keluarga ini. 

Terimakasih selalu, Keluarga Bapak Suyit.

Salam, 


Kachan 

Saturday, May 14, 2016

Yuk, Berkenalan dengan Reksa Dana

uang terlelap di bank? - photo by me

Iya maulah, daripada uang kita tergeletak tak berdaya di rumah, dengan mudah bisa kita angkut sesuka hati tanpa pikir panjang buat macem-macem. Atau daripada terangkut orang lain yang tidak diundang. Eh, jangan sampai. aamiin. 

Tapi di luar faktor keamanan itu, terasa ngga sih kalau bunga bank dan biaya administrasinya kadang bisa bikin senewen. Potongannya kok lebih besar daripada yang didapat? Memang mungkin ngga terasa bagi mereka yang digit di buku tabungannya di atas angka puluhan. Tapi buat kami (saya sih) yang digitnya digigit aja bisa langsung abis itu terasa banget. Hiks. Apalagi ketika mulai berubah status jadi ibu. Rasanya kok angka-angka yang hilang dari tabungan sekecil apapun itu  jadi ke zoom dimata.

Yang bikin gundah lagi, buat saya nabung di bank itu memang bak 2 mata pisau. Bisa sangat bermanfaat, tapi kalau ngga super hati-hati memakainya bisa terluka sendiri. Ditambah lagi dengan  hadirnya hantu-hantu perayu.

Hantu perayu pertama buat saya itu bernama ATM. Yang gencar melakukan rayuannya di tengah pusat-pusat perbelanjaan. Kadang kalau sedang kuat iman, bisalah ya dikalahkan dengan pergi bawa uang secukupnya dan umpetin itu ATM di kolong meja. Bye! Eh tapi, seakan ga bisa dilawan,  muncullah si hantu kedua. Emang lebih dahsyat rayuannya. Mereka adalah koalisi 'hantu perayu' yang tak terkalahkan, 'internet banking dan mba sis online shopping'. Ugh. Di sini iman saya sering diuji. Sering gagal sih.

Makanya saya dan R cukup sadar bahwa kami tidak bisa hanya sekadar mengandalkan tabungan di bank untuk investasi jangka panjang. Mulai melirik sana-sini untuk berbagai alternatif. Mengumpulkan berbagai informasi.

Jadi, saya tidak menyia-nyiakan ketika ada kesempatan untuk hadir di sharing Reksa Dana Manulife di Jogja beberapa waktu lalu. Bisa jadi sarana untuk menggali info tentang reksa dana. Toh nyatanya sharing ini cukup berefek membuka wawasan saya soal alternatif investasi ini.  

Sekilas tentang sharing kemarin...
 
investasi reksa dana - photo by me
Sebelumnya, Yuk, Mengenal Kembali Inflasi, Si Silent Robber 
Simpelnya inflasi ini adalah kenaikan harga. Misalnya saja, mungkin 10 tahun lalu dengan uang Rp 5000 kita bisa jajan semangkok bakso+kerupuk+gorengan+es teh 2 gelas. Nah, kalau sekarang dengan uang segitu untuk beli seporsi bakso saja bisa  kurang. Nilai uang Rp 5000 dahulu dan sekarang berbeda.

Imbasnya, biaya hidup kita di masa depan tentu akan lebih besar dari biaya hidup sekarang. Padahal uang yang kita tabung sekarang di bank mungkin tidak akan berubah secara signifikan di 10 tahun mendatang.  Jadi bisa dikatakan, inflasi itu bagaikan perampok tak kasat mata yang tiap taunnya mengurangi nilai uang yang kita miliki.  

Jadi, inilah salah satu tujuan investasi, agar bisa mengejar si perampok ini. 

Kemudian, Belajarlah Rumus '3 i' 
Untuk memulai investasi, kita perlu banget untuk mempelajari yang namanya rumus '3i' ini. Apa saja sih 'i' itu:
1. Insyaf : Sadar diri dan hati tentang perlunya mempersiapkan dana untuk masa depan, baik untuk hal-hal yang sudah direncanakan maupun hal-hal yang terjadi tiba-tiba. Dari kesadaran ini muncul rasa pentingnya investasi. Akhirnya diikuti dengan kemunculan niat.


2. Irit : Irit di sini bukan ke arah pelit ya. Bukan lantas saking iritnya jadi tidak memenuhi kebutuhan asupan keluarga dengan baik. Sama sekali tidak piknik. Irit di sini lebih pada mempertimbangkan dengan baik sebelum membeli atau mengonsumsi barang yang dibutuhkan. Mengurangi gaya hidup yang berlebih dari kemampuannya. Juga mulai peka pada pengeluaran-pengeluaran kecil yang mungkin sebenarnya tidak perlu. Mungkin termasuk mamah-mamah muda yang gemar download drama korea hingga menghabiskan kuota, bisa menggantinya dengan minta kopian dari temen aja ya. Dan khusus irit buat saya adalah harus tega memalingkan wajah dari lambaian bando-bando nan lucu.

3. Investasi : Yang ketiga tentu saja memulai investasi. Jadi setelah insyaf dan irit, keinginan investasi bukan hanya ada di zona pengandaian, melainkan harus segera dilakukan. Mulai dari sekarang dan dikomitmenkan.

Alternatif Investasi itu bernama Reksa Dana
Reksa dana adalah menghimpunan dana dari masyarakat (investor) dalam bentuk investasi portofolio (produk pasar uang, obligasi, saham, dll) oleh seorang Manajer Investasi (MI).
Jadi, saat kita membeli reksa dana kita akan terhubung dengan yang namanya Manajer Investasi (MI). MI inilah yang akan mengelola reksa dana kita secara aktif. Selain mengelola, MI akan memberikan laporan rutin juga pada kita. Oleh karena itu dalam investasi reksa dana memang penting untuk memilih MI yang cakap dan juga sesuai dihati kita.  Hehe. 

Imej yang sering muncul tentang reksa dana adalah ini jenis investasi untuk kalangan menengah ke atas yang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Ternyata salah besar. Dengan uang Rp 100.000 kita sudah bisa membeli reksa dana.  Dan kita bisa mengambilnya kapanpun. Ya, ibaratnya seperti menabung namun uangnya tidak hanya diam melainkan dikelola sebaik mungkin.

Kegelisahan lainnya yang perlu diluruskan adalah, kadangkala ketika mendengar reksa dana 'turun' kita sering dilanda serangan panik. Uang kita hilang. Kita merugi. Oh, ini nyatanya tidak benar juga. Kerugian itu memang bisa terjadi, yaitu ketika kita menjual reksa dana saat nilainya turun, namun jika kita tidak menjualnya tentu saja tidak akan merasakan kerugian. 

Karena dalam sharing ini juga diingatkan bahwa jangan sampai semua uang kita dialirkan ke reksa dana. Kita tetap butuh pula tabungan dan investasi dalam bentuk lain. Sehingga ketika ada situasi yang membutuhkan uang segera sedangkan saat itu reksa dana sedang turun kita bisa menggunakan alternatif lain.

terus, Bagaimana Memulainya?
Khusus untuk  Newbie, yang ingin berkenalan dulu dengan reksa dana, kita bisa mencoba Manulife Dana Kas. Ini adalah reksa dana yang paling stabil pertumbuhannya, bisa dibilang tergolong konservatif. Eh meski konservatif, Manulife Dana Kas ini sudah terbukti mampu melawan inflasi lho. Eh bisa dicoba nih :). Untuk jenis lainnya yang lebih lanjut bisa dicek di sini. Yang menarik, ada tesnya juga jika ingin tau kita cocok dengan jenis reksa dana apa dengan konsekuensi risiko yang sanggup kita tanggung.

klikMAMI, Selamat Tinggal Investasi Ribet...
Saya tergolong orang yang males banget ngurus-ngurus sesuatu yang bersifat administratif secara langsung ke suatu tempat. Kalau bukan karena keharusan, lebih memilih untuk tidak melakukannya. Faktor utama yang sering mematahkan semangat untuk ini adalah realita 'menunggu'. Ngga jarang perihal urus-mengurus pendaftaran  dihiasi penantian yang menghabiskan waktu tidak sedikit. Ujung-ujungnya, ngga usah daftar deh. 
Sama ketika saya pernah mendengar bahwa mendaftar reksa dana itu cukup ribet. Harus datang sendiri dan mengisi sekian banyak formulir secara langsung. Saat itu berinvestasi reksa dana cuma numpang lewat dipikiran.

Mungkin hal ini dipelajari oleh Manulife dengan baik, hingga akhirnya berinovasi cukup berani menurut saya dengan menghadirkan klikMAMI, yang memungkinkan kita melakukan transaksi reksa dana secara online. 

Untuk mendaftar reksa dana dengan fasilitas online, kita cukup butuh 2 hal. Pertama koneksi internet untuk mengakses www.klikMAMI.com . Yang kedua scan KTP. Kemudian isi secara lengkap formulir dan tunggu konfirmasi pihak Manulife via telpon. Cukup mudah ya. 

Yang perlu dicatat,klikMAMI ini bukan hanya untuk registrasi reksa dana saja, melainkan juga untuk membeli, menjual, mengubah data, memonitor, ataupun mengalihkan reksa dana kita ke unit lain. LENGKAP!

photo by Atanasia Rian
Itu sedikit banyak hal yang saya dapat dari sharing kemarin. Semoga bermanfaat untuk yang ingin berkenalan dengan reksa dana. 

Selamat datang investasi, selamat menyicil masa depan


Salam hangat, 


Kachan

Friday, April 29, 2016

Hutan Pinus Mangunan - Hunting Foto Sembari Merayakan Cinta

Hutan Pinus Mangunan atau yang dikenal dengan Hutan Pinus Imogiri | Sekitar 8-10 tahun yang lalu, salah seorang sahabat pernah mengajak saya dan ketiga teman lain di 'genk' untuk piknik ke Hutan Pinus ini. Untuk foto-foto cantik ucapnya. Reaksi kami berempat sudah pasti menolaknya mentah-mentah. 

Bukan karena kami tidak suka foto-foto cantik. Tapi saat itu kami tengah hidup di era  di mana  yang sedang  hits-hitsnya adalah foto-foto cantik di studio.  Dan foto di pinus terdengar masih kurang gaul keren. Ah, kami memang genk mainstream. 

Kini, hidup di era ini,  masih dengan ke-mainstream-an yang tersisa, kami datang ke sini. Ke tempat yang kami tolak untuk didatangi sekian taun lalu. Dan sedihnya sahabat yang mengajak untuk ke tempat ini justru tidak bisa bergabung karena bertugas di pulau antah berantah lain. 

Kami datang pagi hari saat akhir pekan. Pengunjung sudah  cukup banyak namun tidak terlalu memadatkan suasana di hutan. Setidaknya kami bisa berpindah-pindah menggelar tikar piknik untuk mencari spot yang nyaman. 

Saat di sini, jangan lupa menengadahkan kepala ke atas kemudian 'jepret!'. Abadikan momennya. Karena ini  adalah bagian dari 'foto wajib' saat kemari. Lhah, kata siapa? Saya! :)
 
Ini foto wajib biar mainstream
Tampak  para pengunjung yang lalu lalang di sekitar kami sibuk berpose sambil menjeprat-jepretkan kamera yang dibawa. Mulai dari pasangan muda-mudi, rombongan keluarga, rombongan pertemanan, ibu-ibu setengah baya yang merayakan arisan, hingga band Jikustik yang tengah ambil gambar untuk video clip (yang kala itu ditemani sang asisten, Rian. Semangat, Riance!).
 
Hutan pinus memang memang menawarkan suasana dan pemandangan yang pas untuk hunting foto. Pinus-pinus yang ditanam dengan jarak yang teratur membuat kesan rapi dan cantik. Dan aura indah ini memunculkan kreativitas untuk menjadikannya latar berfoto. 
 
Belum lagi berbagai bangku kayu yang tersedia dibanyak tempat yang bisa digunakan untuk istirahat sekaligus berfoto. Ada juga ayunan kayu yang menjadi spot idola berfoto. Sayangnya karena (sepertinya) hanya ada satu, jadi harus antre. Dan harus ekstra sabar jika yang menggunakannya adalah sepasang muda-mudi yang tengah kasmaran. 
 
Kecuali kalian mau memakai cara  saya dan baby K. Kebetulan kami dianugerahi wajah jutek  melas. Hingga sepasang muda-mudi tsb paham arti tatapan penuh arti kami ketika mendatangi mereka. Tidak perlu waktu lama mereka segera berhenti dan mempersilahkan kami.  Eh, lebih tepatnya pergi tanpa melihat maupun berkata. 

Jarak pinus yang teratur juga membuat udara sejuk dan panas tak menyengat. Menjelang tengah hari kami masih tidak merasakan paparan matahari yang tajam. Baby K yang saat itu masih 10 bulan jadi bisa menikmati suasana. Merangkak ke sana-sini. Main-main bunga pinus yang jatuh. Berfoto-foto. Hingga akhirnya lelah dan tertidur. 

dilarang main api!

hyaaaa  berhasil naik :D
piknik
cuma bertiga
merayakan cinta :)
azbak hutan pinuz
Kami, para orang dewasa juga menikmatinya. Duduk manis, ngobrol sambil ngemil bekal, sesekali hunting foto, kemudian kembali duduk ataupun tidur-tiduran. Mungkin kami sangat menikmatinya karena kebersamaan dengan orang-orang terdekat. Namun,  bisa juga karena aura filosofi pohon pinus melambangkan cinta yang manis. Hingga kami dan (mungkin) pengunjung lainnya di sini bisa merayakan cinta :)
Batang yang tumbung tegak lurus ke atas, tak bercabang dilambangkan sebagai cinta yang utuh tak terbagi.  Sedangkan daunnya yang selalu hijau di segala musim diibaratkan sebagai cinta yang abadi, everlasting love.


Salam, 


Kachan 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Rute :  
Dari Kota Jogja menuju ke Selatan ke Jalan Imogiri Timur, sampai pertigaan Imogiri belok ke arah Makam Raja. Pertigaan sebelum makam belok ke kanan. Nanti ikuti plang 'Hutan Pinus'
Tiket:  
Gratis! hanya bayar parkir  mobil 10ribu, motor 3 ribu. 

Saturday, January 16, 2016

Flashy | empat dari lima

 

Apa yang lebih membahagiakan dari berkumpulnya genggong? ((genggong)).

Desember 2015 membawa angin segar sebelum penghujungnya. Ya, kami berkumpul. 
Setelah tahun-tahun kelabu yang saya lalui dengan 'jaga kandang', akhirnya ada yang menemani. 

Diawali dengan pulangnya seorang gadis yang  sukses menggondol ijazah S2 dari benua biru. Ditambah calon ibu yang akan menghabiskan masa cuti sekian bulan di Jogja. Dan seorang wanita dengan job yang pasti diidamkan banyak orang. 

Sayang, masih ada satu orang ibu calon pejabat yang tertinggal di pulau seberang. Hey, kami merindukanmu.
***
Begitulah, menghabiskan waktu bersama cukup untuk memenuhi pundi-pundi bahagia. Mengecap manfaat langsung saat bertukar suara di waktu dan tempat yang sama. 

Selebihnya, kami mencoba menjadi genggong hits masa kini yang dahulu populer dengan kebiasaan foto studio dan fotobox seminggu sekali. Namun sepertinya, agak gagal. Ah, sudah bukan masanya mungkin.




Salam,


K

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Epic Coffee and Epilog Furniture 

Alamat:  
Jalan Palagan Tentara Pelajar 29 KM 7.5, sekitar 100 meter utara Hotel Hyatt
Suasana:  
Konon menjadi salah satu cafe hits karena bangunan, teras, garden, dan tempat brewingnya instagramable banget :)
Rate:  
30 - 160 IDR. 
Makanan dan minumannya cocok buat saya. Enak. Tapi beberapa kali ke sana udah bingung milih makanan. Menu makanan nggak sebanyak minumannya :|


Sunday, December 20, 2015

Pulang | Tere Liye

Selalu ada 'rasa' yang berbeda jika kata ini tergaung. Baik ketika didengar, dibaca, maupun diucapkan. Mungkin memang sejatinya ia adalah sebuah alarm pesan khusus yang ditanam ditiap diri. Maka semenjak awal kata tersebut tertera di muka novel. Ia sudah menelisik masuk ke sanubari. PULANG.

***   
Sinopsis
"Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut". (hlm 1)
Saat itu usianya 15 tahun. Namun, anak lelaki itu tak punya lagi rasa takut. Sebuah ‘pertarungan’ mencekam di tengah hutan terdalam Bukit Barisan telah menghilangkan satu emosi itu darinya. Disaksikan beberapa orang yang bersamanya, ini menjadi awal kebenaran bahwa ia ‘berbeda’.

Seakan sudah ditakdirkan. Apa yang terjadi malam itu juga menjadi tiket baginya untuk keluar dari kampungnya. Ikut ke kota provinsi bersama seorang Tauke kenalan lama ayahnya, penguasa keturunan China. Bujangpun berpisah dari Samad dan Midah - orangtuanya. 

20 tahun kemudian, Bujang hanya menyisakan 2 hal dari masa lalunya. Yang pertama, ia masih memegang teguh pesan ibunya sebelum ke kota. Kedua, ia masih menjadi sosok yang tak punya rasa gentar. 

Selebihnya, ia berubah. Bujang adalah sarjana lulusan dari universitas terbaik di negeri. Peraih 2 gelar master di luar negeri. Ia mampu menembak 12 sasaran bergerak dalam 6 detik. Menguasai teknik melempar shuriken- senjata ninja. Dan pernah pada suatu pertandingan yang hanya disaksikan sedikit orang, ia dengan mudah mengalahkan atlet lari tingkat dunia.

Hebat sekaligus mengerikan. Ia bertransformasi menjadi sosok jenius dan juga kuat. Paduan yang sempurna untuk perannya sebagai tukang pukul, sekaligus anak angkat Tauke dari Keluarga Tong. Yang kini telah menjadi penguasa shadow economy nomor wahid di negaranya. Bujang mendapat tugas khusus dalam menyelesaikan masalah serius keluarga dengan kolaborasi otak maupun ototnya. Si Babi Hutan, begitu sekarang orang memanggilnya.

Di luar kehidupan sekarang dan pekerjaannya, Bujang mulai diperlihatkan banyak hal. Tentang masa lalu orangtuanya. Tentang orang-orang di sekitarnya. Juga tentang keberadaannya di rumah keluarga Tong. Bahwa segala hal yang ada hanya bagian dari keterkaitan hidup. Masa lalu, sekarang, dan ke depan.  

Belum selesai urusan dirinya. 
Pun ia harus kembali bergelut dengan peperangan dan juga penghianatan.


*** 
Saya harus mengakui bahwa ‘pulang’ menjadi pengobat bagi saya yang absen membaca sebulan ini. Pencarian diri, religiusitas yang tak tergembar-gemborkan, dengan balutan action dan dunia kelam. Lengkap!

Ia menjadi bisa dinikmati secara dalam bagi mereka yang sedang ingin ‘mencari’. Juga tetap bisa disukai mereka yang hanya ingin mencari sensasi membaca aksara.


Tere Liye membangun setting tempat dari suasana desa sampai kehidupan kota yang modern sekarang. Mengawali dari sudut kedalaman hutan Bukit Barisan, berangsur menjalar ke kehidupan kota provinsi. Melaju ke dunia sentral ibu kota. 

‘Shadow Economy’ ekonomi bawah tanah, yang gelap, illegal, penuh intrik yang menjadi latar kehidupan peran utama terasa cukup kuat. Seperti biasa, penjelasan penulis selalu mampu membuat tiap hal sangat nyata. Mudah dipahami dengan baik. 

Detail-detail kecil namun mengena membuat makin apik. Memperpendek jarak antara pembaca dan tokoh. Seperti diceritakannya tentang  ‘amok’ ritual khusus ‘tukang pukul’ untuk naik kelas. Juga tentang proses inisiasi bagi yang telah resmi menjadi tukang pukul. 

Alur kisah maju-mundur memang bagaikan pisau bermata dua. Untungnya dalam 'pulang' penulis mampu menjadikannya lebih condong pada manfaat yang berujung kekuatan. Mampu memilih situasi yang pas ketika harus membawa kisah kembali masa lalu. Menyiapkan plot yang tepat dan tidak bertele-tele. Lantas menyambungkannya kembali ke masa sekarang. 

Ah ya, penulis satu ini juga tak pernah menyiptakan peran tak bermakna. Ia yang tersebutkan dalam cerita selalu memiliki andil dan terkait. Bukan hanya peran asal lewat. Dan Tere Liye mampu menjelaskan tiap peran dengan sangat pas tanpa dipaksakan. Seperti untuk mengingatkan kita bahwa setiap orang yang ada dihidup kita bukan tercipta kebetulan. Mereka dan kita bagaikan pelengkap peran dari hidup masing-masing. 

Pada akhirnya semburat makna dari buku ini bahwa...
‘Pulang’ bukan perjalanan menuju sebuah tempat. Bukan rasa bahagia untuk beranjak ke pangkuan bapak-ibu. Juga bukan ketakukan menuju akhir kehidupan. Karena pada hakikatnya ‘pulang’ adalah kembali pada dirimu sendiri. Pulang pada hakikat kehidupan.  

 
Pengarang : Tere Liye
ISBN : 978-602-082-212-9
Terbit : Jakarta, 2015 
Halaman :iv+ 400 Halaman
Harga :Rp. 65000,-
Berat : 300 gram
Dimensi : 13.5 X 20.5 Cm
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Salam 



Kachan

Sunday, December 6, 2015

Ruth Sahanaya - Tentang Cintanya di Jogja



Memori kau membuka luka lama
Yang kuingin lupa...
Memori tolong daku pergi jauh
Janji tak 'kan kembali memori...
Selasa malam, disebuah kursi belakang Imperial Ballroom Sahid Rich saya teronggok manis sambil ikut mendendangkan lagu ini.

Ah, sebenarnya saya tidak benar-benar tau lagunya. Belum pernah mendengar. Tapi ternyata bisa ikut menyanyikan. Bahkan menjadi hapal setelah penyanyinya mengulang  lirik :). Ya, memang ciri khas lagu sebelum 1990-an. Ringan, mudah dihapal dan syahdu. 

Mama Uthe dan konser tunggal pertamanya di Jogja setelah 30 tahun berkarya... 

R mengiyakan ketika saya meminta ijin untuk menonton konser pertama Mama Uthe di Jogja. Saya tau R pasti agak kaget karena sebelumnya Mama Uthe  tidak masuk dalam list 'penyanyi yang konsernya ingin saya datangi'.

Saya anggap awal kehadiran saya disitu sebagai efek korban promosi media. Hampir setiap membuka timeline twitter saya melihat promonya. Dan itu terjadi bertubi-tubi sepanjang 2 minggu. Bahkan ketika iseng membuka channel Jogja TV pun sedang mempromokan acara ini. Sepertinya semesta mendukung .

Emm alasan sebenarnya. Saya rindu nonton konser musik. Sudah hampir 2 tahun ini saya tidak mengalami momen terapi suara  - menikmati konser musik. 

Dan konser Mama Uthe muncul disaat yang tepat. Meski tidak termasuk dalam fans fanatik, saya tau beberapa lagunya. Saat kuliah, saya menjadi hapal beberapa lagunya ketika Ketua Mapala kampus yang berwajah garang dan bringas menjadikan lagu Mama Uthe playlist yang diputar sekian minggu di sekretariat. Oh baiklah, karena imej wajah tak menentukan selera musik :)

Lagipula, saya beranggapan tipikal konser Mama Uthe pasti akan nyaman dinikmati meski datang sendirian. Bagian sendirian sengaja saya bold karena ingat sapaan Mama Uthe dari atas panggung  'saya yakin pasti ngga ada yang datang sendirian kan?'. Hanya saya dan 2 mamah-mamah di sebelah saya yang tau bahwa keyakinan Mama Uthe salah hehe.

***

Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini kuakhiri...

Saya bahagia, mendengar lebih dari 20 lagu dalam 2 jam yang terlantun dari seorang Diva. Ya, ini pertama kalinya saya mendengar langsung performance seorang Diva. Mendengarkan, ikut berdendang, bertepuk, ikut menari, dan menikmati.

Saya senang melihat Papa Jeffry Waworuntu, suami sekaligus manajer, yang duduk tepat di depan saya, sibuk bekerja dan wara wiri untuk istrinya. Selalu ada aura manis dari sepasang suami istri yang bekerja bersama dengan penuh cinta.

Saya bahagia melihat penikmat lain yang sebagian besar mamah papah riuh, bernyanyi, tertawa, dan bersenang-senang. Saya mulai kembali meyakini  'menua itu pasti, dewasa itu pilihan, dan menikmati hidup adalah keharusan...'

***
Ketika jemu membaca, menulislah. Saat jemu menulis, melihatlah. Saat jemu melihat, mendengarlah. Karena setiap lelah ada pengobat lainnya.

Terimakasih Mama Uthe, untuk konsernya yang cukup untuk menerapi diri ditengah kepulan jemu yang muncul :)
Selamat 30 tahun berkarya Mama Uthe, 
Senang menjadi salah satu penikmat konser 'tentang cinta'-nya yang penuh cinta di Jogja..

Sampai jumpa kembali di Jogja, 

Salam,


Kachan