Pages

Tuesday, January 19, 2016

I Am Hope : Meniup Harapan

Suatu siang, di tahun kedua SMA, Kakak saya tiba-tiba muncul di kamar. 
 "Dek, masih inget Mbak S ngga? Kamu pernah nemenin Kakak ke rumahnya waktu SD dulu".
Ah, tentu saja saya ingat. Waktu itu saya kelas 4 SD. Diajak untuk ikut bertamu ke rumah saudara calon kakak ipar saya. Syukurlah di rumahnya ada seorang gadis yang sebaya. Tepatnya satu tahun di atas saya. Sangat baik dan ramah. Namanya Mbak S.
"Ingetlah, yang gambarnya bagus kan", ucap saya.
Ya, Mbak S ini pintar menggambar. Hampir setiap ruang di rumahnya ada bingkaian gambar-gambar hasil buatan Mbak S. Saya yang tergolong masih kecil saja tahu kalo Mbak S punya bakat seni yang bagus. Gambarnya apik, terpulas dengan krayon dengan paduan warna yang pas dan rapi. 
"Nanti sore ikut ke rumahnya ya. Jenguk. Mbak S sakit agak parah".
***
Leukimia. Kanker darah . 

Mbak S yang pintar menggambar masih terlihat segar saat kami kunjungi. Tapi rambutnya mulai rontok. Karena Mbak S sudah menjalani sekian kali kemoterapi.

Yang sama-sama kami kagetkan saat pertama kali bertemu kembali adalah bahwa ini bukan pertemuan pertama kami. Benar-benar bukan. Kami pernah bercakap-cakap ringan beberapa kali di Sekolah. Ya, Mbak S adalah salah satu kakak kelas SMA. 

Kami tidak langsung saling mengenali di SMA. Karena memang panggilan kami di rumah dan di sekolah sama-sama berbeda. Terlebih Mbak S di SMA cukup dikenal karena kebolehannya memainkan alat musik tiup modern.  Berbeda dari yang saya ingat darinya dulu, Gadis Yang Pintar Menggambar. Ah ya dari dulu bakat seni memang sudah terlihat.

Dari Kakak ipar, saya tau kalau sakit Mbak S sudah memasuki stadium akhir. Bahkan  dokter sudah memberikan 'angka waktu' tersisa sejak lama. Meski kondisinya tidak jauh membaik tapi keluarga tidak pernah menyerah untuk mendukung selalu. Mbak S bilang ada beberapa hal yang ingin dicapainya. 

Mbak S tidak cuti sekolah. Ia masih berjalan masuk sekolah dengan alat musik tiup yang dibawanya. Yang berbeda hanya keberadaan topi di atas kepalanya. Kami sesekali ngobrol ringan sangat bertemu. Semangatnya tetap sama.

Di beberapa bulan berikutnya saya melihat namanya ada dalam ulasan sebuah surat kabar. Seorang seniman alat musik tiup modern berbakat kepunyaan Jogja, begitu yang tertulis. Kami yang membacanya ikut bahagia. Dengan usaha dan bakatmu, salah satu mimpimu tercapai, Mbak :)

Bulan selanjutnya menjadi pelengkap impian. Ketika namanya tercantum dalam daftar calon mahasiswa di fakultas yang ia idamkan :).

Kamu tau, Mbak. Saat itu, dengan segala impian yang kamu capai dalam sakitmu, kamu sudah meniupkan harapan pada dirimu dan juga kami semua. Terimakasih.

***

Bracelet of Hope : terjalin cantik berwarna-warni. Dibuat dari sisa kain pelangi jumputan milik designer ternama Indonesia, Ghea Panggabean. 

Warna pelanginya menyimpan semangat harapan. Sedangkan keberadaannya adalah wujud harapan bagi saudara kita dan keluarganya yang tervonis kanker. Gelang harapan ini ada, untuk meningkatkan solidaritas serta membangkitkan rasa peduli di kalangan masyarakat.  

Hasil penjualannya akan disalurkan ke yayasan-yayasan kanker di Indonesia dan langsung kepada mereka yang menderita kanker dan keluarganya (gelangharapan.org).

Ide besar ini berawal dari kepedulian 3 orang sahabat pada penderita kanker : Wulan Guritno, Janna Soekasah Joesoef, dan Amanda Soekasah. 

 ***


Nyatanya 'harapan' yang dibangkitkan ketiga sahabat itu  terus berlanjut hingga mewujud dalam sebuah film yang disutradarai Adilla Dimitri: I am HOPE. Yang akan dirilis 18 Februari 2016 ini.

Film ini berkisah tentang perjuangan Mia, seorang gadis muda melawan vonis kanker yang ada padanya. Tentang seseorang wanita yang tiba-tiba muncul dalam kekalutannya. Tentang semangat dan juga tantangan yang dihadapi dengan kondisinya. Bagaimana Mia menjalaninya?

Semoga film ini akan semakin memperlebar jangkauan penebaran 'tiupan harapan' bagi siapapun yang bersinggungan dengan kanker. 


Salam, 


Kachan








Saturday, January 16, 2016

Flashy | empat dari lima

 

Apa yang lebih membahagiakan dari berkumpulnya genggong? ((genggong)).

Desember 2015 membawa angin segar sebelum penghujungnya. Ya, kami berkumpul. 
Setelah tahun-tahun kelabu yang saya lalui dengan 'jaga kandang', akhirnya ada yang menemani. 

Diawali dengan pulangnya seorang gadis yang  sukses menggondol ijazah S2 dari benua biru. Ditambah calon ibu yang akan menghabiskan masa cuti sekian bulan di Jogja. Dan seorang wanita dengan job yang pasti diidamkan banyak orang. 

Sayang, masih ada satu orang ibu calon pejabat yang tertinggal di pulau seberang. Hey, kami merindukanmu.
***
Begitulah, menghabiskan waktu bersama cukup untuk memenuhi pundi-pundi bahagia. Mengecap manfaat langsung saat bertukar suara di waktu dan tempat yang sama. 

Selebihnya, kami mencoba menjadi genggong hits masa kini yang dahulu populer dengan kebiasaan foto studio dan fotobox seminggu sekali. Namun sepertinya, agak gagal. Ah, sudah bukan masanya mungkin.




Salam,


K

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Epic Coffee and Epilog Furniture 

Alamat:  
Jalan Palagan Tentara Pelajar 29 KM 7.5, sekitar 100 meter utara Hotel Hyatt
Suasana:  
Konon menjadi salah satu cafe hits karena bangunan, teras, garden, dan tempat brewingnya instagramable banget :)
Rate:  
30 - 160 IDR. 
Makanan dan minumannya cocok buat saya. Enak. Tapi beberapa kali ke sana udah bingung milih makanan. Menu makanan nggak sebanyak minumannya :|


Sunday, December 20, 2015

Pulang | Tere Liye

Selalu ada 'rasa' yang berbeda jika kata ini tergaung. Baik ketika didengar, dibaca, maupun diucapkan. Mungkin memang sejatinya ia adalah sebuah alarm pesan khusus yang ditanam ditiap diri. Maka semenjak awal kata tersebut tertera di muka novel. Ia sudah menelisik masuk ke sanubari. PULANG.

***   
Sinopsis
"Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut". (hlm 1)
Saat itu usianya 15 tahun. Namun, anak lelaki itu tak punya lagi rasa takut. Sebuah ‘pertarungan’ mencekam di tengah hutan terdalam Bukit Barisan telah menghilangkan satu emosi itu darinya. Disaksikan beberapa orang yang bersamanya, ini menjadi awal kebenaran bahwa ia ‘berbeda’.

Seakan sudah ditakdirkan. Apa yang terjadi malam itu juga menjadi tiket baginya untuk keluar dari kampungnya. Ikut ke kota provinsi bersama seorang Tauke kenalan lama ayahnya, penguasa keturunan China. Bujangpun berpisah dari Samad dan Midah - orangtuanya. 

20 tahun kemudian, Bujang hanya menyisakan 2 hal dari masa lalunya. Yang pertama, ia masih memegang teguh pesan ibunya sebelum ke kota. Kedua, ia masih menjadi sosok yang tak punya rasa gentar. 

Selebihnya, ia berubah. Bujang adalah sarjana lulusan dari universitas terbaik di negeri. Peraih 2 gelar master di luar negeri. Ia mampu menembak 12 sasaran bergerak dalam 6 detik. Menguasai teknik melempar shuriken- senjata ninja. Dan pernah pada suatu pertandingan yang hanya disaksikan sedikit orang, ia dengan mudah mengalahkan atlet lari tingkat dunia.

Hebat sekaligus mengerikan. Ia bertransformasi menjadi sosok jenius dan juga kuat. Paduan yang sempurna untuk perannya sebagai tukang pukul, sekaligus anak angkat Tauke dari Keluarga Tong. Yang kini telah menjadi penguasa shadow economy nomor wahid di negaranya. Bujang mendapat tugas khusus dalam menyelesaikan masalah serius keluarga dengan kolaborasi otak maupun ototnya. Si Babi Hutan, begitu sekarang orang memanggilnya.

Di luar kehidupan sekarang dan pekerjaannya, Bujang mulai diperlihatkan banyak hal. Tentang masa lalu orangtuanya. Tentang orang-orang di sekitarnya. Juga tentang keberadaannya di rumah keluarga Tong. Bahwa segala hal yang ada hanya bagian dari keterkaitan hidup. Masa lalu, sekarang, dan ke depan.  

Belum selesai urusan dirinya. 
Pun ia harus kembali bergelut dengan peperangan dan juga penghianatan.


*** 
Saya harus mengakui bahwa ‘pulang’ menjadi pengobat bagi saya yang absen membaca sebulan ini. Pencarian diri, religiusitas yang tak tergembar-gemborkan, dengan balutan action dan dunia kelam. Lengkap!

Ia menjadi bisa dinikmati secara dalam bagi mereka yang sedang ingin ‘mencari’. Juga tetap bisa disukai mereka yang hanya ingin mencari sensasi membaca aksara.


Tere Liye membangun setting tempat dari suasana desa sampai kehidupan kota yang modern sekarang. Mengawali dari sudut kedalaman hutan Bukit Barisan, berangsur menjalar ke kehidupan kota provinsi. Melaju ke dunia sentral ibu kota. 

‘Shadow Economy’ ekonomi bawah tanah, yang gelap, illegal, penuh intrik yang menjadi latar kehidupan peran utama terasa cukup kuat. Seperti biasa, penjelasan penulis selalu mampu membuat tiap hal sangat nyata. Mudah dipahami dengan baik. 

Detail-detail kecil namun mengena membuat makin apik. Memperpendek jarak antara pembaca dan tokoh. Seperti diceritakannya tentang  ‘amok’ ritual khusus ‘tukang pukul’ untuk naik kelas. Juga tentang proses inisiasi bagi yang telah resmi menjadi tukang pukul. 

Alur kisah maju-mundur memang bagaikan pisau bermata dua. Untungnya dalam 'pulang' penulis mampu menjadikannya lebih condong pada manfaat yang berujung kekuatan. Mampu memilih situasi yang pas ketika harus membawa kisah kembali masa lalu. Menyiapkan plot yang tepat dan tidak bertele-tele. Lantas menyambungkannya kembali ke masa sekarang. 

Ah ya, penulis satu ini juga tak pernah menyiptakan peran tak bermakna. Ia yang tersebutkan dalam cerita selalu memiliki andil dan terkait. Bukan hanya peran asal lewat. Dan Tere Liye mampu menjelaskan tiap peran dengan sangat pas tanpa dipaksakan. Seperti untuk mengingatkan kita bahwa setiap orang yang ada dihidup kita bukan tercipta kebetulan. Mereka dan kita bagaikan pelengkap peran dari hidup masing-masing. 

Pada akhirnya semburat makna dari buku ini bahwa...
‘Pulang’ bukan perjalanan menuju sebuah tempat. Bukan rasa bahagia untuk beranjak ke pangkuan bapak-ibu. Juga bukan ketakukan menuju akhir kehidupan. Karena pada hakikatnya ‘pulang’ adalah kembali pada dirimu sendiri. Pulang pada hakikat kehidupan.  

 
Pengarang : Tere Liye
ISBN : 978-602-082-212-9
Terbit : Jakarta, 2015 
Halaman :iv+ 400 Halaman
Harga :Rp. 65000,-
Berat : 300 gram
Dimensi : 13.5 X 20.5 Cm
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Salam 



Kachan

Sunday, December 6, 2015

Ruth Sahanaya - Tentang Cintanya di Jogja



Memori kau membuka luka lama
Yang kuingin lupa...
Memori tolong daku pergi jauh
Janji tak 'kan kembali memori...
Selasa malam, disebuah kursi belakang Imperial Ballroom Sahid Rich saya teronggok manis sambil ikut mendendangkan lagu ini.

Ah, sebenarnya saya tidak benar-benar tau lagunya. Belum pernah mendengar. Tapi ternyata bisa ikut menyanyikan. Bahkan menjadi hapal setelah penyanyinya mengulang  lirik :). Ya, memang ciri khas lagu sebelum 1990-an. Ringan, mudah dihapal dan syahdu. 

Mama Uthe dan konser tunggal pertamanya di Jogja setelah 30 tahun berkarya... 

R mengiyakan ketika saya meminta ijin untuk menonton konser pertama Mama Uthe di Jogja. Saya tau R pasti agak kaget karena sebelumnya Mama Uthe  tidak masuk dalam list 'penyanyi yang konsernya ingin saya datangi'.

Saya anggap awal kehadiran saya disitu sebagai efek korban promosi media. Hampir setiap membuka timeline twitter saya melihat promonya. Dan itu terjadi bertubi-tubi sepanjang 2 minggu. Bahkan ketika iseng membuka channel Jogja TV pun sedang mempromokan acara ini. Sepertinya semesta mendukung .

Emm alasan sebenarnya. Saya rindu nonton konser musik. Sudah hampir 2 tahun ini saya tidak mengalami momen terapi suara  - menikmati konser musik. 

Dan konser Mama Uthe muncul disaat yang tepat. Meski tidak termasuk dalam fans fanatik, saya tau beberapa lagunya. Saat kuliah, saya menjadi hapal beberapa lagunya ketika Ketua Mapala kampus yang berwajah garang dan bringas menjadikan lagu Mama Uthe playlist yang diputar sekian minggu di sekretariat. Oh baiklah, karena imej wajah tak menentukan selera musik :)

Lagipula, saya beranggapan tipikal konser Mama Uthe pasti akan nyaman dinikmati meski datang sendirian. Bagian sendirian sengaja saya bold karena ingat sapaan Mama Uthe dari atas panggung  'saya yakin pasti ngga ada yang datang sendirian kan?'. Hanya saya dan 2 mamah-mamah di sebelah saya yang tau bahwa keyakinan Mama Uthe salah hehe.

***

Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini kuakhiri...

Saya bahagia, mendengar lebih dari 20 lagu dalam 2 jam yang terlantun dari seorang Diva. Ya, ini pertama kalinya saya mendengar langsung performance seorang Diva. Mendengarkan, ikut berdendang, bertepuk, ikut menari, dan menikmati.

Saya senang melihat Papa Jeffry Waworuntu, suami sekaligus manajer, yang duduk tepat di depan saya, sibuk bekerja dan wara wiri untuk istrinya. Selalu ada aura manis dari sepasang suami istri yang bekerja bersama dengan penuh cinta.

Saya bahagia melihat penikmat lain yang sebagian besar mamah papah riuh, bernyanyi, tertawa, dan bersenang-senang. Saya mulai kembali meyakini  'menua itu pasti, dewasa itu pilihan, dan menikmati hidup adalah keharusan...'

***
Ketika jemu membaca, menulislah. Saat jemu menulis, melihatlah. Saat jemu melihat, mendengarlah. Karena setiap lelah ada pengobat lainnya.

Terimakasih Mama Uthe, untuk konsernya yang cukup untuk menerapi diri ditengah kepulan jemu yang muncul :)
Selamat 30 tahun berkarya Mama Uthe, 
Senang menjadi salah satu penikmat konser 'tentang cinta'-nya yang penuh cinta di Jogja..

Sampai jumpa kembali di Jogja, 

Salam,


Kachan

Sunday, November 1, 2015

Dibalik Gugurnya Gunung Gamping



Gunung Gamping 

Jam menunjukkan pukul 16.50 WIB. Matahari masih memberikan sumbangan cahayanya namun suasana terasa ‘singup’. Sunyi dan terasa kurang nyaman. Areal kuburan yang berada tepat di depannya cukup menambah keheningan. 

Bukan pertama kali saya ke sini namun ini pertama kalinya saya ke sini sendirian. Lokasinya memang sangat dekat dengan rumah saya. Masih satu padukuhan, Ambarketawang. 


Pintu gerbang sudah digembok. Tak ada tanda-tanda pergerakan manusia di dalamnya. Di hadapan saya terlihat jelas sebuah panggung kecil, tempat biasa dilakukan Upacara Bekakak. Di sebelah kanannya nampak sebuah batu yang menjulang berukuran sekitar 4 x 10 meter, dengan tinggi sekitar 10 meter. Itulah sisa Gunung Gamping. 
"Gunung Gamping runtuh dan tersisa seperti sekarang ini karena kemarahan 'penunggu' nya di waktu lampau"
Saya ingat perkataan Bapak tetangga saua sekian tahun lalu. Saat itu tengah berlangsung Upacara Bekakak, Saparam yang biasa dilakukan masyarakat Gamping setiap bulan Safar. Sebuah upacara persembahan pada 'penunggu' Gunung Gamping agar tidak marah lagi dan masyarakat Gamping senantiasa diberi keselamatan.

Ah, masa iya. Ucap saya dalam hati ketika itu.


Akhirnya saya melanjutkan perjalanan sore itu menuju rumah Mbah Gito, juru kunci Gunung Gamping. Saya cukup tahu beliau meski belum pernah berinteraksi langsung.

Pria berusia sekitar 70 tahun ini nampak ramah. Menjawab banyak pertanyaan yang saya ajukan. termasuk tentang kebenaran sebab runtuhnya Gunung Gamping yang sering tersiar di masyarakat, yaitu karena marahnya ' penunggu'.

"Iya, benar", katanya sambil terkekeh. "Runtuh karena hantu penunggunya jaman itu...Jepang" lanjutnya. "Sering dibom", tambahnya. Cerita ini didapat karena Ayah Mbah Gito mengalaminya langsung.

Jaman itu jika terdengar sirine orang-orang diminta menutup kuping. Lantas terdengar bunyi ledakkan. Pengeboman. Kepingan batu-batu gamping itu dikumpulkan untuk dibawa ke negara Jepang. Konon digunakan sebagai ahan obat dan kaca. 




Tidak berhenti sampai disitu. Setelah Jepang pergi, penambangan masih dilanjutkan oleh "penunggu" yang lain, pribumi. Penduduk kembali mengeruk batuan gamping yang tersisa. Gunung yang semual ribuan hektar menjadi tersisa sekian ratus meter.

Baru tahun lalu Mbah Gito dengar hasil penelitian yang dilakukan peneliti Indonesia, Singapura, dan Korea Selatan. Kualitas kekerasan batu Gunung Gamping Ambarketawang terbaik nomor 2 di nuia setelah di Meksiko. Mungkin ini yang membuat Gunung Gamping laris manis digugurkan.

Sampai akhirnya Sultan Hamengkubuwono IX melakukan titah untuk menyelamatkan sisa Gunung Gamping yang merupakan tempat pertapaan pertama Hamengkubuwono I. Segala penambangan dihentikan. Gunung Gamping dipagari. Bersamaan dengan itu diperintahkan pula melakukan upacara Bekakak setiap bulan Safar yang dilangsungkan hingga sekarang.  



Lantas mulailaj tersiar kabar tentang 'penunggu' Gunung Gamping yang akan kembali marah jika yang tersisa itu diambil. Tak ada lagi yang berani mengutak-atik sisa Gunung Gamping hingga sekarang.

***
Rupanya  'hantu penunggu' berwujud manusia memang di mana-mana. Masalah kekuasaan, keinginan, ekonomi, memang bisa membuat jiwa mencintai alam menjadi luruh.

Khusu untuk Gunung Gamping ini saya sangat sedih. Ya, hantu 'perusak' itu membuat saya tidak bisa ikut merasakan keindahan yang dilihat Junghuhn, peneliti Belanda yang pernah menjelajah Jawa, sekarang. Barisan perbukitan karst yang elok.

Sumber: omahkendeng.org


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
* artikel ini dibuat untuk tugas workshop jurnalisme kompas bersama Wisnu Nugraha Oktober 2015 lalu


Salam, 


Kachan

Saturday, October 31, 2015

Menolak Asap dengan Membeli yang Baik



 2010
“ Pokoknya, Aku ngga mau masuk perusahaan sawit”

Kalimat itu meluncur dengan keras dan tajam dari Gani (bukan nama sebenarnya) ketika dia, saya, dan 2 orang lagi sahabat kami tiba-tiba membicarakan soal mimpi dan rencana kerja. Waktu itu usia kami 20-an awal. Entah bagaimana obrolan kami sampai pada tema pecinta alam tidak seharusnya bekerja di perusahaan sawit. 

Alasannya? Tentu saja fakta bahwa semakin hari semakin gencarnya pembakaran hutan untuk dijadikan lahan-lahan sawit yang baru. Akibatnya, hutan-hutan tak terjamah dan juga para makhluk yang berhabitat di sana terancam. Asap-asapnya berpencar. Alam pun tak seimbang. Bencanapun datang.
"Harusnya stop saja penanaman sawit, banyak merugikannya" tambah teman saya yang lain.
“Apakah sawit sebegitu tak bergunanya?” tanya saya saat itu.
Tak ada jawaban. Tak ada tanggapan. Obrolan kemudian tertutup begitu saja dengan topik-topik lain.

 ***
2015
Kelapa sawit akhir-akhir ini merebak dan terangkat. Media baik cetak maupun noncetak ramai membicarakannya. Memasukkannya dalam topik hangat di media masing-masing. Menjadikannya sebuah alasan besar dibalik bencana asap yang tengah merundung Indonesia. 

Bencana asap ini memang bukan sekali dua kali terjadi. Melainkan berulang kali selama sekian tahun. Bencana yang disebabkan pembakaran hutan yang begitu hebatnya disejumlah titik. Alasannya? lagi-lagi karena pembukaan lahan sawit. Sebuah industri yang nampak menggiurkan bagi pelakunya namun petaka bagi yang lainnya. 

Saya kembali ingat pernyataan teman saya sekian tahun silam. Ah, benarkah itu semua salahmu, Sawit? 

Sebuah pertanyaan untuk diri sendiri yang akhirnya mengantarkan saya untuk mencari tahu lebih...

Si anak tengah dan  manfaatnya. . .

Namanya kelapa sawit. 

Bukan sebuah kebetulan ia berkembangbiak dengan mudahnya di Indonesia. Ternyata sudah menjadi kodratnya untuk hidup dan tumbuh di iklim tropis. Bahkan menurut sebuah data, 85% hasil sawit yang ada di dunia berasal dari Indonesia dan Malaysia. Dua negara yang menjadi persinggahan  utamanya. 

Hasil utama yang diolah dalam komoditas kelapa sawit adalah buahnya. Bentuknya bak anak tengah antara kolang kaling dan kelapa. Jauh lebih kecil dari kelapa, sedikit lebih besar dari kolang kaling. Rasa buahnya mirip kolang kaling maupun kelapa. Kenyal-kenyal lucu, tak berbau, tak berasa. 

sumber: vibiznews.com

Di luar maraknya isu dan segala protes tentang kelapa sawit, masih ada beberapa kalangan yang tidak menyadari satu hal. Bahwa hasil olahan kelapa sawit itu sangat dekat kehidupan kita. Teracik dengan takaran tertentu dalam produk yang kita konsumsi setiap hari. Antara lain:
  • Hasil olahan utamanya berupa minyak dan margarin. Ini sangat dekat sekali dengan kebiasaan masyarakat kita yang suka menggoreng-goreng masakan bukan? Hampir dalam setiap kegiatan memasak, ada saja makanan yang memerlukan minyak goreng. Nah, konon katanya minyak sawit ini memiliki banyak kelebihan. Kolesterolnya  rendah, kandungan karotennya tinggi, dan harganya yang murah.   
  • Sabun: sabun mandi, deterjen, shampo, sabun muka juga tidak lepas dari turunannya. Jadi, sawit memegang andil dalam pembersihan badan, wajah, rambut, dan juga pakaian kita sehari-hari.
  • Dalam dunia obat dan  kosmetika sawit juga menjadi salah satu bahan favorit. Sawit mampu melarutkan bahan kimia yang tidak bisa dilarutkan bahan lainnya. Dan kandungannya dinilai tidak menimbulkan iritasi pada tubuh.
  • Biskuit dan makanan kemasan tidak lepas juga dari bantuannya. Sawit merupakan pengawet natural. Jadi karena sifatnya ini, sawit bisa membantu memperpanjang masa kadaluarsa makanan.
Berbagai informasi seputar manfaat sawit membuka mata saya. Membantu saya menjawab apa yang saya tanyakan beberapa tahun lalu. Apakah sawit sebegitu tidak bergunanya? Nyatanya tidak ada tumbuhan yang diciptakan tanpa guna, termasuk sawit. 

Lantas bagaimana cara kita menyelesaikan bencana asap yang terus terulang. Tak bisa dipungkiri bahwa sawit memegang peranan penting dalam hal ini. Bisakah kita seketika berhenti mengonsumsinya dan menstop penanamannya? Agar tak ada lagi kaum yang semena-mena membakar hutan demi penanaman sawit. Rasanya akan lebih sulit bagi banyak pihak. 

Kerisauan ini sudah terbaca sekian tahun. Pada 2004 munculah organisasi nirlaba bernama RSPO (Rountable on Suistanable Palm Oil). Yang berusaha memberikan solusi terbaik bagi banyak kalangan. Dengan program Suistanable Palm Oil atau Kelapa Sawit Berkelanjutan. 

Agar tidak ada lagi wacana bahwa sawit adalah sumber dibalik problem bencana asap dan lingkungan. Karena pada kenyataannya mereka dibalik penanaman sawitlah yang lebih bertanggungjawab. Menanam sawit secara besar-besaran tanpa memperhitungkan keseimbangan alam. Membakar ratusan ribu hektar hutan, merusak habitan hewan-hewan langka. Ulah mereka inilah yang harus dihentikan. Inilah salah satu alasan munculnya RSPO.

"Tidak ada hutan primer atau daerah-daerah dengan keanekaragaman hayati dengan spesies yang nyaris punah atau ekosistem yang rentan, atau daerah daerah yang fundamental bagi kebutuhan budaya dasar atau tradisional komunitas setempat yang boleh dibabat"

Pada prinsipnya, RSPO memiliki misi untuk menerapkan produksi sawit yang tetap memperhatikan lingkungan. Ada aturan-aturan tertentu yang mengikat sebuah perusahaan untuk dapat memproduksi sawit sesuai standar. Perusahaan yang menerapkan aturan ini akan diberikan sertifikasi. Sebuah tanda bahwa perusahaan sawit itu menjalankan usahanya tanpa mengancam lingkungan. 

Sertifikasi ini yang akan menjadi tanda sebuah produk olahan kelapa sawit tersebut 'aman' atau tidak. Beberapa perusahaan di Indonesia sudah mulai tergabung dalam RSPO ini. Namun, di luar itu masih banyak juga perusahaan yang tidak terdaftar. Bisa jadi karena mereka memang perusahan yang menjalankan bisnisnya tanpa memperhatikan lingkungan. Atau bisa jadi karena merasa bahwa sertifikasi RSPO belum penting. Karena memang masyarakat kita belum merasa butuh membeli produk yang memperhatikan lingkungan. Daftarnya bisa dilihat di rspo.org .

Di sinilah kita berperan penting. Belajar sedikit demi sedikit untuk membeli yang baik. Meyakinkan diri bahwa membeli produk sawit yang baik bukan hanya memenuhi kebutuhan kita. Namun juga bisa menyelamatkan makhluk hidup lain yang terancam karena pembakaran hutan semena-mena. Tentu saja, mengurangi bencana asap. 

Sebagai konsumen, ini adalah sebuah andil kita untuk menolak asap, dengan membeli yang baik...


Avignam Jagad Samagram,
Semoga selamatlah alam beserta isinya
Salam, 


Kachan