Kinul & Ipus #3

video



Halo, Grey sudah melahirkan lho. Eh, tapi kali ini ngga akan cerita soal Grey sih. Biarlah dia tenang dengan masa penyembuhannya dulu.
 
2 minggu lalu, anaknya Grey yang dulu (sebelum yang sekarang) tiba-tiba muncul. Eh yaampun galak banget! Eh brutal tepatnya. Sukanya nggelibet dibadan dan narik sambil gigitin baju. Suka teriak-teriak tanpa henti juga. Kan sebel.

Dilalah sasaran yg paling dia suka, Kinul. Tiap Kinul muncul, bakal digangguin sepanjang jalan sambil ditarik-tarik. Adegan mereka kejar-kejaran, naik kursi, ngumpet-ngumpetan, jadi kebiasan sampe hampir seminggu.

Sekarang udah amat sangat anteng banget. Cuma Kinul keliatan masih agak bete kalo diikutin. Hmm tapi nampaknya kok bakal temenan sama kayak dengan emaknya dulu.

Duh, kucing lagi nih 😔

Menjadi 1 dari 1000 Pemilik Tanda Tangan Digital Pertama di Yogyakarta

seminar ttd digital
Awal minggu ini saya menjadi 1000 orang yang hadir dalam seminar yang diadakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika RI (Kemkominfo). Temanya "Tanda Tangan Digital pada Trasaksi Elektronik". Berkecimpung di dunia maya dan tengah menjalani usaha di bidang online membuat saya tertarik  hadir ketika mendapat undangan ini.

Sejak masuk dalam dunia kerja hingga sekarang, saya terbiasa dengan proses pengiriman surat bertanda tangan dalam scan-scan an. Jarak dan waktu menjadi pertimbangan dalam hal ini. Sehingga beberapa surat-surat dalam pekerjaan biasa dikirim via email. 

Caranya, surat yang bertanda tangan discan kemudian dikirim via email. Agak kerja dua kali. Tapi mampu memotong alur kerja hingga lebih efektif & efisien. Namun tidak berlaku untuk semua surat. Surat-surat penting, seperti surat kontrak kerja sama masih harus di tanda tangan secara manual. Jadi jika jarak jauh, harus dikirim via pos. Iya, memang jadi lebih lama.
peserta (foto by www.destiladee.com)

peserta

Apa sih Tanda Tangan Digital?

Tanda Tangan Digital adalah sebuah skema matematis yang memiliki keunikan dalam mengidentifikasikan seorang (subjek hukum) di dunia digital.

Bingung ya? Memang. Saya waktu liat juga agak rumit. Jadi wujud aslinya adalah skema angka dan huruf yang banyaaaak sekali (kurang tahu berapa). Ini semacam kode-kode dibalik layar yang diatur  sedemikian rupa untuk mengamankan dan tidak mudah dipalsukan.  Namun yang nampak dalam berkas digital nantinya bukan kode tersebut melainkan nama dan tanggal penandatanganan. Seperti ini. 

ttd digital

Nah, waktu penandatangangan ini juga merupakan salah satu bentuk pengamanan. Acuan waktunya berdasarkan server tanda tangan digital tersebut. Jadi bukan berdasarkan waktu kita masing-masing. Bentuk tanda tangan digital itu seperti ini.

Terlihat simpel. Hanya sebuah nama dan tanggal dalam kotak. Namun jangan salah. Ini tidak sesimpel itu  untuk ditiru atau di copy-paste. Didalamnya termuat kode-kode digital diri kita. Dan dia terlink dalam server khusus. Untuk mengetahui validasinya bisa dengan mengeklik kolom tanda tangan tersebut. Jika valid akan muncul seperti ini.

validasi
Jenis TTD Digital?
Tanda tangan digital sendiri terbagi menjadi 2:
- TTD Digital Tersertifikasi: Dibuat menggunakan jasa penyelenggara sertifikasi elektronik dan dibuktikan dengan sertifikat elektronik. Ini adalah ttd yang dibahas dalam seminar. 

- TTD Digital Tak Tersertifikasi: Contohnya tanda tangan yang discan/dipindai. Seperti yang saya lakukan. Punya kekuatan nilai namun lemah. Karena masih bisa ditampik oleh ybs atau bisa diubah pihak lain.

Kelebihan TTD Digital? 

- Memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah pada dokumen elektronik dan transaksi elektronik. Seperti yang tercantum pada pasal 11 UU ITE. 

- TTD Digital memiliki kekuatan hukum yang sama dengan tanda tangan basah/manual. Kecuali surat-surat tertentu yang hingga sekarang memang masih diwajibkan dalam bentuk kertas, seperti surat nikah dan surat tanah.
 
- Keberadaan TTD Digital relatif aman, efisien waktu, dan mempermudah pekerjaan jarak jauh.
 
- Sebenarnya bisa digunakan untuk login dan bertransaksi pada aplikasi (eGovernment, eBanking, eCommerce, dan eServices lainnya). Sayangnya belum ada aplikasi yang siap menggunakan sertifikat digital ini. Aplikasi yang dapat menggunakan sertifikat digital sedang dalam proses pembuatan oleh layanan publik. Harapannya sudah bisa digunakan pada 2017.
 
- Go Green. Yap, penggunaan ttd digital mampu mengurangi penggunakan kertas secara langsung :)

Cara mendapatkan TTD Digital?
Bagi anda yang ingin dapat membuat ttd digital pada dokumen PDF dan aplikasi online, terlebih dahulu harus punya yang namanya sertifikat digital yang diterbitkan oleh Certification Authority (CA). Untuk mendapatkannya harus registrasi terlebih dahulu. 

Caranya, siapkan KTP dan email kemudian daftar di: http://bit.ly/daftarsivion. Memang prosesnya nanti akan sedikit membingungkan. Tapi bisa dipahami dengan membaca manualnya. Step by step-nya bisa didownload di alamat ini : http://www.sivion.id/downloads/sivionManual.pdf . 

Satu
Seribu. (foto by www.nurulalamin.com)
***
Saya sendiri merasa senang bisa menjadi satu dari seribu orang pertama yang memiliki ttd digital di Jogja. Ttd sendiri memang proyek nasional. Namun masih dalam tahap sosialisi dan promosi. Untuk selanjutnya dilihat dan dikaji lagi dalam penerapannya. Ke depan menjadi wajib? Mungkin iya mungkin juga tidak. 


Terlepas dari itu, saya mengapresiasi inovasi ini. Yang berkontribusi dalam dunia digital saat ini. Dan juga memiliki tujuan baik dalam hal efisiensi dan pengamanan.  

We are living in a world where everything is based on security - Alan Robert


Salam, 


Kachan

Kinul & Ipus #2




Seingat saya, semenjak jadi teman Kinul, ini kehamilan kedua Grey. Perutnya sudah semakin besar. Kalau dia berdiri perutnya sudah semakin mau jatuh. Mungkin kalau dalam kamus hamil manusia 'bayinya sudah masuk panggul'. Tinggal menunggu HPLnya saja.


Grey tetap setia dijam-jam bermain sama Kinul. Hanya saja dia lebih banyak diam dan tiduran. 


Kinul yang biasanya agak usil juga jadi lebih anteng. Selain sering ikut tidur-tiduran, juga jadi suka ngelus-elus perut Grey. Dan hari itu terpotret sedang memegang tangan Grey. Seakan memberi support menjelang ipusnya melahirkan :")



Miaw,

 

Kinul & Ipus


Jangan Lupa Bahagia di Lantai Bumi


lantai bumi
Setelah janji-janji kami yang diwakili ratusan chat digrup tak pernah berujung nyata. Hari itu kami mewujudkannya. 

Ada terlalu banyak rongga pelik di atas sana. Maka, sesekali kami ingin menjauhi negeri awang-awang. Memilih untuk lebih santai. Dan berjanji untuk bersenda dan menapaki hari di Lantai Bumi :)

Nama yang manis bukan? Begitu manisnya hingga membuat kami mendatanginya sebelum angka seminggu ia hadir.

Meski berlabel coffe & space, saya tidak memesan kopi. Ini hari tanpa kafein buat saya yang memang bukan penikmat kopi garis keras. 

Toh tidak mengurangi esensi bahagia hari ini. Bertemu para teman baik sekaligus guru. Merefresh pelajaran hidup. Dan menguatkan tekad untuk kembali berkomitmen :).
lampu
kaktus
hari ini tanpa kafein
ruang
outdoor
dinding dan cicak
Jam-jam pagi hari memang waktu yang tepat. Atmosfirnya masih hangat. Sapaan dari ruang dan tempat yang baru bersiap. Melenakan kami yang lupa waktu. Hingga gemerisik menyadarkan kami untuk berbegas dan kembali.





Salam Bahagia, 


Kachan 

--------------------------------------------------------------------------------------------
Lantai Bumi : Coffe & Space 
Pogung Baru Blok C28, Yogyakarta
Google Map: Keyword 'Lantai Bumi Coffee' (disarankan gps-nya via jalan kaliurang, biar ngga membingungkan)

Kinul & Ipus #1


Ipus atau yg kadang dipanggil Grey, Geri, atau Jeri (sesuka hati sih) bukan peliharaan kami. Seingat saya dia adalah kucing pertama yang diliat Kinan waktu Kinan berumur sekitar 1 bulan. Waktu itu saya dan Kinan lagi di teras buat liat hujan romantis. 

 

Dan Si Grey juga ada di sana, numpang berteduh kayaknya.Dan baru2 ini saya menyadari kalo semenjak itu Grey selalu datang ke rumah. Setiap hari. Padahal ngga kami kasih makan. 

 

Bahkan sekarang dia punya jadwal tetap ke rumah kami. Pagi, siang, dan malem jam 7-8 an. Buat maen, ngobrol, nemenin makan, nungguin Kinan pake sepatu kalo mau pergi, atau sekadar gegoleran bareng kayak gini.

 

Miaw,

 

Kinul & Ipus


Kue-kue Cantik The Harvest Akhirnya Hadir di Jogja

Saya memang agak-agak  picky eater. 

Begitu pula soal cake. Saya amat sangat pemilih. Meski selalu suka dengan tampilan cake yang umumnya dihias menarik tapi tidak berbanding lurus dengan keinginan kuat untuk selalu memakannya. 
Saya ingat betul waktu kecil sering datang ke acara ulang tahun teman. Umumnya cake ulang tahun menjadi salah satu pelengkap yang wajib ada. Setelah dipotong biasanya tamu undangan akan dibagikan untuk ikut mencobanya. Nah, tidak jarang cake yang semula sangat cantik menarik dan lucu itu ketika dimakan rasanya ZOOONK. Ngga enak, juga keras. Udah gitu suka ada instruksi untuk menghabiskannya. Hiks sedih, rasanya pengen  makan sambil nangis. Emm, ternyata ada bumbu traumatis ya, tentang saya dan cake hehehe.

Semenjak tinggal di Jogja saya semakin susah nemu cake yang cocok dilidah saya dan keluarga. Seringnya kalo ada perayaan ulang tahun di keluarga, keluarga kami makan cake buatan ibu yang memang jago masak. Tapi masa setiap ada yang ultah ibu yang bikin terus. Kalau lagi selow sih oke aja. Nah, kalo lagi repot? Bisa berabe kaan. Lebih-lebih kalau yang ultah ibu gimana. Ngga lucu dong ah, masa diminta bikin kue buat diri sendiri XD. 

Saya dan R sendiri pernah dapet info pembuat cake & bakery enak dari seorang travel writer ternama. Dengan bahagia kami meluncur ke sana dan membeli beberapa cake yang direkomendasikan. Rasanya memang enaak. Tapi lidah saya agak peka terhadap satu bahan yang ada dicakenya. Rum. Segera saya berhenti makan. R tidak cukup peka merasakannya. Tapi saya cukup yakin. Sampai rumah R saya minta untuk menelpon pembuat cake dan menanyakan soal itu. Ternyata memang benar ada rumnya. Yah, meski enak, kami ngga bisa beli lagi deh.

2 tahun ini kami beruntung. Suatu hari R menemukan penjual cake yang nampak meyakinkan di instagram. Tokonya baru dan pembuatnya masih mahasiswa unyu.  Selepas order pertama kami sudah langsung suka dengan tampilan maupun rasanya. Cocok. Langsung kami menjadikannya langganan. Baik untuk acara ultah maupun perayaan-perayaan tertentu. Sampai tiba-tiba sekitar 2 bulan lalu mereka closed order sampai waktu yang tidak ditentukan. Lhoh lhooohhh. Galau lagi deh. Padahal menjelang akhir taun cukup banyak acara di keluarga.

Soooo, kebayang dong ya gimana senengnya saya waktu dapat kabar The Harvest : Patissier & Chocolatier mau launching di Jogja pada 27 Oktober 2016 kemarin ini. Langsung deh bisa move on dari kesedihan per-cake-an di Jogja. Ahay. 

Sudah sejak lama memang saya menantikan The Harvest hadir di Jogja. Selama ini cuma makan setahun sekali kalau dibawain Si Kakak yang pulang kampung lebaran dari Jakarta. Soal rasanya tentu saja ngga usah diragukan lagi. The Harvest memang sudah punya 'nama' dalam dunia cake di Indonesia.

Ada 3 Signature Cake dari The Harvest: Strawberry Cheese Cake, Chocolate Devil, dan Peanut Butter Cake. 

Peanut Butter Cake jika dipotong terasa creamy dan lembut tapi kalau saya kurang cocok dengan paduan kacang dan cokelatnya. Agak eneg buat saya. Kalau Chocolate Devil rasa cokelatnya benar-benar terasa. Cokelat asli ya. Bukan hanya perasa. Jadi terasa agak-agak pait gitu. Bukan favorit saya juga.

Nah kalau cake idola saya, jelas Strawberry Cheese Cake ;D. Udah tampilannya cantik rasanyaaa lembut dan enaaaak banget yaampun. Manisnya cukup, cheese-nya kerasa, rasa asem dan segarnya strawberry bikin komposisi pas dan ga eneg.

Strawberry Cheese Cake Idolaku sepanjang masaaaa XD
Yang paling penting pihak Harvest sudah menyatakan bahwa bahan-bahan yang dipakai untuk membuat kue-kuenyanya bebas rum dan kandungan nonhalal lainnya. Tidak lupa mereka juga minta didoakan agar tahun depan sudah bersertifikat HALAL MUI. Amin.


The Harvest tidak hanya didesain untuk sekadar tempat membeli cake. Mereka juga memfasilitasi gaya hidup masa kini, terutama wanita yang suka nongkrong-nongkrong cantik. Karena itu di sini juga disediakan kursi, sofa, kue-kue cantik: cake, cookies, cupcakes, chocolate, macaroon, dan tentunya minuman.

cupcakes dan macaroons
juga ada roti-roti
cookies kesukaan

Alamat The Harvest Jogja
Jl. C. Simanjuntak no 5, Gondokusuman, Yogyakarta
0274-5011178
08AM - 10PM 

***
Yuk, intip apa kata mereka mengenai 'rasa' The Harvest divlog singkat ini :)


Jadi, apa sih cake favorit kalian


Selamat akhir pekan bersama kue-kue cantik nan nyuummmyyy.....

Salam, 


Kachan

Pingsan di Museum Batik Yogyakarta

"...anakmu mungkin akan menjadi arkeolog, kurator museum, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu..."
Saya ngekek saat mendapati kata-kata ini. Lhah, biasanya saya dan teman-teman satu keilmuan yang sering diberondong pertanyaan "Mbaknya bisa baca pikiran saya dong?, Tau kepribadian saya?, Kira-kira saya cocoknya jadi apa ya?". Yang tentu akan kami jawab dengan muka kalem. Duh, maap kami bukan tukang ramal *nyengir*.

Eh, kali ini saya yang ditebak.

***
Tebakan ini malah bikin ingatan saya jalan mundur ke dua tahun silam. Saat si anak wedok masih diperut buncit. Saat Si Ibuk sok-sok an ngidam di minggu-minggu akhir  pas perut udah mblendung gede. Sebenernya sih manfaatin cuti Si Bapak yang agak lama waktu itu. Bilang ngidam biar diturutin doang #eh ngga ding beneran ngidam kok. 

Ngidamnya simpel. Minta jalan-jalan ke museum di Jogja, seeeee....baanyaaaak-banyaaaaaaknya. Nah, gampang dipenuhin kan. Cuma butuh ketelatenan dan kesabaran. Terutama bagi Si Bapak yang mengantar dan menemani. Karena Si Ibuk perutnya udah gede. Pipi bulet. Gampang capek. Jalan bentar, ngos-ngosan minta istirahat. Dikit-dikit kebelet pipis. Habis itu haus. Hufh. Eh bentar, ini tetep simpel kan ;)?

***
Nah salah satu yang kami kunjungi adalah museum batik. 

Sebenernya, udah dari jaman mahasiswa aktif pengen ke museum batik. Cuma karena rumor tiketnya mahal eh ngga jadi pergi. Kalau ngga salah denger 20 ribuan. Dulu, denger segitu aja udah bikin mundur. Cemen banget ya. Apalah, kala itu saya memang  hanya mahasiswa biasa yang penuh perhitungan. Gimana ngga perhitungan, dulu duit segitu bisa dapet Jogja Chicken 4 paket, uey! Mewah.

Duh, jadi bahas kemana-mana.  Maapkeun.

Nah, ada kejadian yang bikin saya selalu ingat dengan museum ini. Bukan karena arsitekturnya. Kalau arsitekturnya sih biasa aja. Seperti model rumah pada umumnya. Karena memang museum ini adalah rumah pemiliknya yang dialihfungsikan menjadi ruang museum. Yap, jadi Museum Batik Yogyakarta memang bukan milik pemerintah, melainkan milik swasta/pribadi keluarga Bapak Hadi Nugroho.  

Bukan juga karena koleksinya. Eh, tapi bukan berarti koleksinya ngga bagus ya. Bagus dan banyak banget!. Saking banyaknya, ngga semua koleksi batiknya dijembreng penuh buat memperlihatkan motifnya. Tapi beberapa koleksi digulung dan dilapisi plastik persis seperti kertas kado di toko. 

Ada ribuan koleksi di dalam bangunan seluas 400 meter persegi. Mungkin karena itu kesannya jadi agak penuh. Di tiap ruangan dipenuhi papan kayu berlapis kaca untuk memamerkan koleksi. Di sisi tembok juga tidak luput  oleh pajangan, lemari, dan bingkai-bingkai koleksi.

Koleksi batiknya sangat beragam. Ada batik Jawa Tengahan: Jogja - Solo, Pesisiran : Semarang - Demak - Cirebon - Lasem, Mbayat - Klaten, Madura, dan masih ada beberapa  daerah lainnya.

Yang dipamerkan di sini bukan hanya kain batik. Ada koleksi perlengkapan membatik dan juga koleksi sulaman. Nah, saya malah terkesan dengan kebaya-kebaya sulam pitanya. Kebanyakan warnanya putih dan tepiannya disulam pita motif bunga-bunga kecil. Manis. Mengingatkan saya pada kebaya encim betawi kesukaan saya. 

Sayang, ngga banyak foto dokumentasinya jadi ga bisa nunjukin. 90% foto di sana blur. Mungkin karena Si Bapak yang biasanya moto ciamik itu ga fokus. Karena kudu nemenin istri yang lagi rewel dan rapuh. Lebay ah


Keluar dari ruangan terakhir saya emang udah rencana ngga mau langsung pulang. Niatnya, sambil istirahat dan liat-liat, saya masuk ke ruang museum yang menjual souvenir dan batik. Ngga lama disitu saya PIIINGSAAAAAN. Yang saya inget sebelumnya, badan rasanya ngga enak, ngga bisa mikir, lemes, ada aliran darah yang merosot, nggliyer. Trus ngga inget apa-apa. 

Jaaaadi...ini nih kejadian yang bikin  saya ngga akan lupa sama museum batik haha. Untung cuma ngga terlupakan. Ngga pake memalukan. Soalnya pengunjung hari itu cuma saya berdua sama suami. Lagian pingsannya juga slow motion dan cantik. Aman.

Pingsannya juga cuma sebentar banget kok. Kayak cuma semenit dua menit terus langsung sadar. Bangun-bangun udah ndlosor di bawah, ditemenin Minyak Kayu Putih, Si Bapak, Staff museum, sama Ibu Dewi. Iya, ibu Dewi, pemiliknya memang masih tinggal di sana. 

Meski pakai kursi roda ibu Dewi ikut sibuk ngurusin saya. Nenangin sambil bilang "Ngga papa, itu karena kecapekan, udah hamil besar". Terus minta staffnya buat ambilin minum lagi. Sampe nyuruh ambilin bantal-bantal batik dagangannya juga buat dipake saya yang masih terduduk di lantai. "Ngga papa dipake, biar nyaman," katanya :"). 

Ibu Dewi akhirnya nemenin saya sambil cerita-cerita sedikit tentang museumnya. Tentang impiannya dan alm Bapak Hadi dulu saat membangun museum. Tentang project museum. Dan tentang sulamannya yang pernah mendapat penghargaan. Sebuah sulaman yang dibuat kala menemai sang suami yang tengah sakit. Yang ia buat dengan penuh kesabaran dalam waktu 3,5 tahun.
Koleksi Batik
Koleksi Alat Cap Batik
Koleksi Sulaman
Saya dan Ibu Dewi - udah sadar, mau pamit pulang ;)
Museum Batik Yogyakarta 
Lokasinya di Jl. Dr. Sutomo 13A Yogyakarta. 
Buka Senin-Sabtu jam 09.00 – 15.00 WIB. 
 HTM Rp. 20.000,-  termasuk Guide. Ada pelatihan membuat batik Rp. 40.000,- per 1 jam. 
Kontak: 0274-562-338, 085643123435 (Eko), 081328199070 (Didik) atau 
email: infomuseumbatik@yahoo.com

Mendengar ceritanya dulu itu saya jadi sedikit tahu kenapa museum ini tetap berusaha bertahan menjadi milik pribadi. Karena tentu tidak mudah memberikan semua harta, sejarah, cinta, kisah, dan masa depanmu pada orang lain, meskipun ada hal baik lain yang mungkin akan didapat. 

Semoga yang terbaik untuk Ibu Dewi yang baik, juga untuk Museum Batik dan kelangsungannya ke depan. Amin.

 ***
Nah, balik lagi. Jadi apa saya percaya tebakan di atas soal anak saya?

Saya percaya kalau setiap orang sudah diberikan garis nasib dan takdir, termasuk untuk K, anak wedok saya. Tapi jika kelak dia menjadi apa yang ditebak di atas, bisa jadi karena dari dalam perut sudah terbiasa mendengar, merasa, dan ikut melangkah ke museum dan tempat heritage hehe. Jadi saya mau bilang kalau segala sesuatu itu pasti ada sebab-musababnya, termasuk dalam urusan tebak-tebakan.

Gara-gara ini, sepertinya ke depan saya akan bongkar foto-foto perjalanan museum. Dan mulai bercerita satu persatu. 



Salam, 



Kachan