[ Tea and Koffie ] Tanaman Rambat di dalam Benteng



Sinyal alarm diri memintaku berhenti mengeja dalam hati deretan aksara di pangkuanku. Belum selesai. Baru separuh kubaca. Kuselipkan bookmark untuk menandai halaman yang tersisa. Kututup ‘manuskrip’ itu dengan kedua tangan. Lantas memasukkannya hati-hati ke dalam tas kulit cokelat. 

Matahari yang tadi menumpahkan sinarnya dengan malu-malu kini mulai menyengat. Cahaya terangnya menguasai pandangan. Pantas saja. Panas mulai terasa menggigiti punggung tanganku. 

Kulirik ke bagian atap kanopi tempatku duduk. Untungnya, tempat yang kududuki cukup terlindungi. Daun dan batang yang menjuntai dari tanaman rambat berbaik hati menahan panas untukku. 

Ia tumbuh dengan melilit-lilitkan badan dan daunnya di antara besi-besi. Meliuk dan menjahit diri di lubang-lubang kanopinya. Menjadi payung disaat terik seperti ini. Dan (mungkin) juga menjadi pelindung ketika tetes-tetes air dari langit  sedang jatuh.

tanaman rambat – photo by Swesthi Charika

Sebagaimana jeda kekosongan waktu yang kadang menimbulkan tanya. Maka rentetannya pun melintas dibenak saat sedang melihatnya.

"Ah, apakah tanaman rambat ini merasa kepanasan? Ataukah ia cukup senang karena bermanfaat? Mungkinkah sebenarnya ia kesal karena harus tumbuh mengikuti alur-alur besi yang sudah dibuat?".

Belum sempat aku bertanya-tanya lagi, jawaban itu muncul sendiri kala teringat  secuplik paragraf dari tulisan yang tadi kubaca.
Tanyakan pada sungai, “Apakah kau merasa berguna, sebab bukankah kau sekadar mengalir ke arah yang sama?

Dan ia akan menjawab, “Aku tidak mencoba untuk berguna; aku mencoba untuk menjadi sungai.”
Bisa jadi aku dan [mungkin] manusia lain terlalu larut dengan berbagai pertanyaan hidup. Lantas sibuk mencari berbagai jawaban. 

Hingga akhirnya lupa untuk [mencoba] menjadi manusia.



Vredeburg, Maret 2016
Salam,
Tea and Koffie  
------------------------------------------------------------------------------------------

Tea and Koffie adalah catatan dan celoteh iseng 2 orang kontradiktif. Seorang penyuka teh yang tidak boleh meminum teh. Dan seorang penyuka kopi yang tidak disarankan meminum kopi.


Workshop : Membuat Clutch Bag dari Daluang


Meski suka hal-hal yang berbau crafting, sejauh ini saya membatasi diri hanya sebagai penikmat dan (kadang) pembeli. Biar seimbang dong ya. Ada yang menghasilkan karya, ada yang menghargainya ;).

Saya paham banget dunia crafting ini selain butuh jiwa seni juga butuh yang namanya ketelatenan. Dan dalam hal ini saya level rata-rata banget.

Saya jadi ingat, waktu awal-awal hamil dulu itu lagi hits banget yang namanya rajut-merajut. Tiap buka media sosial ada aja aja iklan sepatu, cardigan, bandana, topi rajut buat bayi rajut yang wara-wiri di timeline. Dan itu serius unyu-unyu banget. Bahkan mendadak beberapa teman-teman saya jadi pengrajut. Entah dia merajut untuk anaknya sendiri atau untuk dijual.

Aha! Ya, seperti itulah yang tiba-tiba membuat badan saya mengalir cus ke Poyeng - toko merajut hits Jogja di daerah Palagan.  Sebagai calon ibu, saya langsung punya mimpi mulia buat ngerajut selama hamil dan hasilnya jadi kado buat  dedek bayi waktu lahir. 

Sehari dua hari sih masih lancar ya. Hari ketiga okelah masih bisa disemangatin. Hari selanjutnyaa..... Yah gitu deh. Bisa ditebaklah. Akhirnya mangkrak -___- . 2 gulung benang rajutnya ampe sekarang masih ada - warna ijo sama kuning. Kalau stick rajutnya mah kayaknya udah buat sumpit mie rebus pas kepepet dulu ;p. Bye!
***
Karena itulah waktu pertama dapet info ini saya antara pengen ga pengen. Yang bikin pengen, saya penasaran banget sama yang namanya DALUANG. Ini apa sih? Bahan dari apa? Tapi waktu inget ada proses njait-njait plus nggambar jadi jiper. Emmmm.

Tapi akhirnya saya tetep dateng dong. Rasa penasaran mengalahkan segalanya :). Apalagi selama bulan Januari saya lebih banyak 'istirahat' di rumah. Jadi kayaknya bisa jadi hal baru yang dicoba. 

Tentang Daluang

Workshop hari itu bertempat di Pesoa Jogja Homestay. Saya baru pertama kali ke sini tapi namanya cukup sering saya dengar.

Pagi itu saya berkenalan dengan daluang melalui pakarnya langsung - Prof. Ishamu Sakamoto dari Jepang dan juga praktisi yang ikut memperkenalkan daluang di nusantara - Mba Astri Damayanti. Awalnya saya pikir daluang itu semacam kertas daur ulang. Eh, ternyata bukan.

Daluang adalah lembaran tipis yang dibuat dari kulit kayu pohon deluang (Broussonetia papyrifera) yang dipakai untuk menuliskan sesuatu (seperti kertas). Beberapa naskah kuno Nusantara menggunakan daluang sebagai media penulisannya di saat kertas modern belum diperkenalkan (wikipedia).

Daluang ini dibuat dari lembaran tipis kulit kayu yang diolah dengan cara diketok-ketokan dengan alat yang namanya batu ike. Konon, proses pembuatannya memakan waktu seharian tanpa jeda. Karena jika berhenti kulit kayunya akan kering dan gagal.

Warnanya khas kulit kayu. Antara putih tulang dan krem. Permukaannya bertekstur,  bikin tambah otentik. Daluang ini memang nampak sederhana, namun tidak nilainya. Untuk ukuran 1 lembar daluang 90 x 70 cm harganya sudah mencapai 350 ribuan. Lumayan ya. Langsung melirik sambil menaksir harga kemeja Prof. Sakamoto yang dibuat dari daluang ;p. 

Tapi kalau menilik lagi prosesnya di atas memang masuk akal. Apalagi umur daluang ini sangat panjaaaaaang. Berdasarkan penelitian dari beberapa penemuan dunia, umur daluang ini bisa bertahan hingga seribu tahun lebih. Wow. 

Daluang sendiri sudah diakui menjadi salah satu warisan dunia. Waktu denger ini saya miris ke diri sendiri. Kok saya baru tahu ya. Semoga suatu saat saya bisa berjodoh langsung dengan proses pembuatannya di Sulawesi atau di Bandung. 

Mba Astri - Mba Tanti - Prof. Sakamoto

 Doodling
Proses membuat Clutch dibagi dua kelompok. Untuk bergantian antara  mendoodling atau menjahit lebih dulu. Saya masuk ke kelompok yang mendoodling daluang terlebih dahulu. 

peralatan doodling

Awalnya saya pikir doodling ini bakal susaaaah banget. Maklum, yang sering sliweran di timeline IG itu hasilnya temen-temen yang emang jago banget doodling. 

Lewat mba Tanti saya jadi tau men-doodling ngga se-DRAMA itu. Mba Tanti cukup sabar mengajari murid-muridnya ini. Mulai dari menjelaskan doodling itu apa, mengajarkan mulai dari teknik dasar sambil nglemesin jari sebelum nge-doodling di daluang, hingga membesarkan hati kami "siapapun bisa men-doodling". Saya yang suka parno buat ngegambar karena kadang merasa ada batasan aja jadi bisa ikutan enjoy nge-doodling.

suasana doodling bersama mba Tanti :)
Menjahit 

Habis selesai doodling, dilanjut sama proses menjahit daluang menjadi clutch. Nah, proses menjahit dipandu lagi sama Mba Astri  Damayanti yang memang sudah wara-wiri di dunia ini. Beliau founder dari Kriya Indonesia (bisa dicek kegiatan dan acaranya apa aja di IGnya). 

Sebenernya daripada doodling saya lebih familiar dengan jahit-menjahit. Bisa dibilang udah berteman cukup lama. Eh, ini maksudnya sering liat ibu njahit ya, bukan saya haha. Tapi kemarin tetep aja rada jiper waktu mau nyobain mesin jahit modern masa kini. Pertama kalinya nih. Deg deg ser.

Saya sampe Waw-Wow sendiri pas tau mesin jahit dari brother indonesia tipe GS 2700 yang kami pakai memiliki 27 tipe jahitan. Itu beneran tinggal diputer-puter trus pilih mau model jahitan nomor berapa lho. Langsung jadi deh. Makin wow pas tahu seri di atasnya punya 100 lebih tipe jaitan. Glek!

Udah gitu ngga ada drama masang benang ke jarum secara manual yang suka bikin puyeng mata itu. Semuanya udah diset khusus secara otomatis. Kebayang ngga? Awalnya saya ngga kebayang, tapi pas kemarin ngerasain wiiihhh beneran ternyata. Langsung ga paham sama dunia yang saya tinggali sekarang. 
 
dijarumin biar rapi proses njaitnya
proses menjahit

suasana menjahit bersama mba Astri
Ngga tau karena saya emang berbakat atau karena mesin jahitnya kelewat canggih. Abis selesei saya langsung ngerasa ahli menjahit. Wwkwk kalau ini mah murni alasan kedua. Langsung naksir sama mesin jaitnya. Kayak candu. Sekali njahit ternyata langsung pengen njahit-njahit lagi. Kemarin sih udah kode-kode ke Mas Bojo di IG. Tapi kok belum membuahkan hasil. Dikode lagi ah diblog.


bahagia bersama hasil karya :D
Ga sempurna, tapi tetep bangga sama buatan sendiri ;))
***
Ternyata ada hal lain di luar seni dan ketelatenan dalam workshop ini.  'Istirahat' yang cukup lama di bulan Januari membuat saya lelah fisik dan mental. Ternyata melakukan prakarya dengan tangan, bermain spidol - doodling, menjahit-jahit benar-benar menjadi self healing tersendiri bagi saya. Menjadi kegiatan pertama yang cukup me-recharge diri. 

Ah, untunglah tidak melewatkannya. Terimakasih semuanya yang sudah mengadakan workshop ini :)

Peserta Workshop:)


Salam hangat,



Kachan,

[ Tea and Koffie ] Jendela Pengintai



Pada sebuah janji di hari itu, aku datang lebih dulu. 

Bangunan bergaya klasik eropa yang aku datangi menyambutku dengan cukup baik. Ada perasaan hangat ketika mula-mula sampai di sana. Rasa hangat semakin kuat dan menjalar di tubuh ketika melewati jagang, jembatan, dan mulai masuk ke gerbangnya.

Di dalam, aku memilih untuk duduk di bawah sebuah pohon yang berada di taman tengah bangunan. Tempatnya  cukup sejuk menurutku. Setidaknya untuk duduk  dan menunggu.

Orang yang kutunggu datang tak lama setelah aku menyelesaikan buku yang kubaca.

Cukup membingungkan ketika harus menyebutnya siapa. Kenalan? Teman? Teman baik? Sahabat? Ah, konsep ‘teman’ bagiku dan dia memang ambigu. Bahkan konsep pertemanan ini pernah menjadi bahasan cukup panjang bagi kami.

Jika orang yang baru dikenal bisa disebut teman, maka relasi kami lebih dari itu. Jika sebutan sahabat adalah untuk mereka yang saling mengenal sekian tahun melewati berbagai hal bersama. Tentu kami belum bisa disebut begitu.

Terasa rumit? Ah, tidak. Dalam penjelasannya iya namun kenyataannya kami tidak benar-benar pusing dengan konsep ini.

Kami berkenalan secara langsung dalam sebuah situasi khusus sekian tahun lalu. Tidak menjadi dekat namun tidak pernah benar-benar putus kontak. Hingga akhirnya bertemu kembali karena hal random yang diamini satu sama lain.


Kami berjalan mengitari hampir seluruh bagian bangunan. Aku sendiri baru menyadari bahwa tempat ini lebih luas dari yang kukira sebelumnya. Cukup sering aku ke sini namun hanya kebeberapa bagian bangunan –  yang cukup menjadi langganan event seni.

Bagian sisi Selatan bisa dibilang tidak cukup ramai. Terlebih di bagian atas. Hingga memungkinkan kami berbincang-bincang cukup banyak dengan suara keras sekalipun. Tentang kucing, tatto, genetika, makanan, dan tentang perjalanan ke dalam diri. 

gerbang timur – photo by Swesthi Charika


Vrd_01c.jpg
pintu barak – photo by Swesthi Charika
naik dan turun – photo by Swesthi Charika


jatuh namun tumbuh, di atas – photo by Swesthi Charika
_

Di sisi Tenggara bagian atas kami mulai khusuk dengan dunia masing-masing.

Aku berjalan mendekati sebuah bangunan berbentuk tabung yang memiliki jendela-jendela kecil melingkari sisi atasnya. Dalam jarak 5 meter dengannya kuhentikan langkah.


menatap bastion – photo by Swesthi Charika


Kutatap lekat-lekat bastion di depanku. Kuamati jendela pengintai yang memutarinya. Kotak-kotak itu – yang  menjadi lubang untuk melihat situasi di luar sana. Seperti sigap mewaspadai setiap hal yang nampak di luar untuk melindungi diri.

Namun, jangan terlalu lama melihat keluar karena sebaik-baiknya perlindungan adalah pengintaian ke dalam dirimu sendiri…




Vredeburg, Maret 2016
Salam,



Tea and Koffie  
------------------------------------------------------------------------------------------

Tea and Koffie adalah catatan dan celoteh iseng 2 orang kontradiktif. Seorang penyuka teh yang tidak boleh meminum teh. Dan seorang penyuka kopi yang tidak disarankan meminum kopi.

Natali & Nuniek Tirta Hi-Tea di The Westlake Resort

Dengan kembalinya R ke Jogja, ada beberapa hal yang berubah dan butuh penyesuaian. Salah satunya, saya menjadi selektif memilih event untuk didatangi. 
Simpelnya, saya dan R masih euforia kembali tinggal bersama. Jadi ingin lebih banyak menghabiskan waktu bareng. Makanya, meski event di Jogja waktu itu sedang luar biasa banyaknya, sebisa mungkin kami menghadiri acara yang memang menarik dan bisa dihadiri bersama.

Event yang saya hadiri awal Desember kemarin salah satunya. Sebenernya, kalau bukan karena Mak Lusi share di grup Whatsapp saya ngga akan 'ngeh' ada event ini. Makasih, Mak Lus :). Habis tau ini saya langsung kasih tau R. Eh, ternyata dia excited. Cocok katanya, dia bisa sharing sama Mas Natali soal usaha dan saya dengan Mba Nuniek soal blogging. Yey.

Natali & Nuniek Tirta Hi-Tea

foto by Nuniek Tirta

Eh sayangnya, di hari-H , R malah ngga bisa ikut. Ada urusan kerjaan. Tapi saya tetep  ikut kok, biar nanti bisa sharing dapet ilmu apa aja. Apalagi tempatnya dekat rumah. Masih satu kecamatan. Cuma 10-an menit dari rumah. Tingga cusss.

Natali & Nuniek Hi-Tea diadakan di dermaga deck-nya The Westlake Resto. Cozy banget tempatnya. Potongan-potongan kayu dipilih buat lantai dan kursinya.  Trus, masih ditambah tiang lampu khas dermaga. Bikin betah buat duduk-duduk dan foto-foto tentunya. Bahkan Mba Nuniek dari awal sudah bilang "boleh lho foto-foto dulu". Haha tau aja.

Di ruang yang terbuka ini sejauh mata memandang cuma view yang bikin mupeng. Di Selatannya menghampar kolam renang model infinity. Selebihnya pemandangan kamar-kamar resort yang seakan mengapung di atas air dan rerimbunan hijau yang mengitari resort.

sudut dermaga :)
lantai kayu dan danau
meja dan kursi kayu
pohon
hijau dan berlarian nyaman
Dan benar ya, tempat dan suasana yang oke itu bisa menambah plus sebuah acara. Awalnya saya  ngga kebayang acaranya mau seperti apa. Tapi ujung-ujungnya malah ngerasa kok cepet banget.  

Tapi memang bukan karena tempatnya saja sih. Mba Nuniek yang humble, Mas Natali, dan panita penyelenggara mengemasnya dengan hangat dan personal. Ngga kaku. Jadi kami yang datang meski baru kenal asyik-asyik aja menikmati sharing dan obrolannya. 

Sharing bersama Nuniek Tirta & Natali Ardianto
Nama Mba Nuniek Tirta saya kenal pertama kali sebagai seorang blogger. Semenjak bergabung di komunitas blogger saya beberapa kali mampir keblogpost yang dipostingnya. Dari situ saya jadi tahu beliau adalah salah seorang blogger senior yang kiprahnya cukup besar dan sudah lamaaaa. Mungkin waktu Mba Nuniek sudah jadi blogger dan founder komunitas saya  masih asik jajan batagor sambil baca majalah bobo. Eyaampun junior banget saya mah.

sharing time :). foto by Nuniek Tirta
pasangan sepaket. foto by Nuniek Tirta
Dalam sharingnya Mba Nuniek juga sempat menyinggung soal pemberitaannya baru-baru ini. Mungkin sudah banyak yang tau ya? Wajar sih, soalnya beritanya memang cukup bersliweran dibanyak media sosial. Bukan hanya dikalangan blogger aja. Pemberitaan  dirinya, tentang 'istri direktur yang pakai OOTD murah'. 

Mba Nuniek sedikit mengklarifikasi bahwa pemberitaan tsb tidak 100 persen benar. Dirinya memang sering pakai ootd murah/terjangkau, tapi bukan berarti dia anti barang-barang branded. Yang lebih tepat, dia sekarang lebih selektif.
  
Apa yang ia lakukan ini pun bukan tanpa sebab. Hal ini diawali sebuah pengalaman yang membuatnya belajar. Ada suatu masa dimana ketika pendapatan keluarganya meningkat dia langsung  memilih untuk menaikkan pula gaya hidup keluarganya. 

Ternyata, pendapatannya tidak mampu membiayai gaya hidup yang tengah diusungnya saat itu. Akhirnya, tidak sekali dua kali uang dari bisnis pribadinya dipakai untuk menutupi gaya hidup. Yang ternyata tetap tidak cukup. Hingga yang terjadi adalah kondisi keuangan keluarga yang menjadi kacau dan mulai berimbas kurang baik. 

Mulai dari sana Mba Nuniek belajar satu hal. Bahwa naiknya pendapatan tidaklah harus dibarengi dengan naiknya gaya hidup.

Dari pengalamannya ini Mba Nuniek ingin mengedukasi masyarakat terutama dalam hal fashion. Dengan sering memakai OOTD murah beliau ingin mengkampanyekan agar orang-orang tidak terjebak dalam gaya hidup yang melebihi kemampuannya. Juga ingin memperlihatkan bahwa dengan memakai barang-barang yang tidak branded tidak serta merta menurunkan derajat seseorang atau membuat kita tidak keren. 

Kembali lagi, jangan sampai gaya hidup kita melebihi pendapatan kita.

Sedangkan Mas Natali, sesuai kapasitasnya lebih banyak berbicara tentang dunia bisnis. Ada satu hal menarik bagi saya yang disampaikan oleh Mas Natali diawal sharingnya. Kurang lebih tentang hati-hati dalam membuka peluang investasi pada orang lain. 

Meskipun tidak membangun bisnis yang serupa dengan beliau, namun saya mengiyakan apa yang disarankannya. Bahkan semenjak awal membangun bisnis hingga sekarang, saya belum terpikir membuka peluang investasi. 

Ada banyak alasan. Terutama karena saya membangun usaha yang ditekuni sekarang ini dengan sebuah misi, visi, dan nilai tertentu. Membuka investasi mungkin memang bisa membantu meningkatkan usaha, namun risiko ketidaksejalanan visi misi juga bisa terbuka. Padahal kepemilikan sudah terbagi. Jadi problem baru.

Karena bagaimanapun saya juga ingin membangun bisnis yang masih ada  dan berjalan hingga puluhan tahun mendatang. 

buku Natali Ardianto

Tidak semua pelaku bisnis memiliki kemampuan komunikasi yang baik seperti Mas Natali. Menurut saya beliau bisa bercerita dengan enak dan mengalir. Setelah membaca bukunya saya jadi tahu bahwa kemampuan ini bukan sekedar bakat lahir. Namun juga ada andil usaha dan kemauan mengembangkan diri  yang sangat besar.

Transformasi dirinya dan juga bagaimana ilmu bisnisnya tertuang cukup banyak dalam bukunya ini.

Satu hal yang saya petik setelah membaca bukunya. Strategi bisnis bukan hanya bicara tentang ide brilian, intuisi bisnis, kemampuan mengenali orang lain dan membaca pasar. Di luar itu yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita juga harus mampu mengenali dan mengembangkan diri. Karena hal ini adalah sinergi yang tidak bisa diputus

Syukurlah, meski tidak semua pertanyaan sempat diberikan. Lagi-lagi karena waktu. Saya cukup puas karena mendapat tambahan ilmu dari pasangan sepaket ini.
paket lengkap Nuniek & Natali

The Westlake Resort

Selepas Hi-Tea, kami diajak jalan-jalan mengelilingi resort, ditemani Mas Stefan, PR The Westlake Resort. 

Menurut Mas Stefan secara arsitektur resort ini mengusung gaya khas Jawa. Bisa dilihat dari ornamennya. Pilihan model jendela dan pintu-pintunya. Juga motif lantainya.

halaman tengah
lobi

Buat saya 2 hal yang nampak mendominasi  di resort ini adalah air dan pohon. Komposisinya sukses bikin suasana jadi adem, ayem, tentrem.

Waktu liat kolam renangnya saya langsung pengen ngajak Kinan berenang di sini. Dia pasti suka. Saya apalagi hehe. Kolam renangnya memang tidak terlalu besar tapi dibuat seolah-olah menyatu dengan danaunya. Jadi bikin atmosfirnya keliatan lebih fresh dan beda. Duh, bawaannya pengen nyemplung. Byur!

Kalau R, waktu saya kasih lihat foto suasana resort langsung bilang "Wah danaunya kok gede banget, boleh ngga ya nginep sambil bawa kayak dan main disitu?". Hahaa, kapan-kapan mungkin bisa kita tanyain ya. 

Kemarin emang lihat ada perahu berlayar di danau. Eh rakit ding. Itupun karena mau ngasih makan kelinci yang dipelihara di pulau-pulau tengah danaunya. Hmm mungkin boleh kali ya main kayak asal bantu ngasih makan kelinci *haha maksa*.

boleh ikut naik ngga ya?
danau :)
sudut kolam renang

Jarak kamar dengan lobby dan ruang-ruang utama memang cukup jauh. Kalau buat jalan-jalan sambil menghirup udara pagi atau sekedar pengen cari keringet sih oke aja. 

Tapi kalau harus bolak-balik dari kamar ke kolam renang, ke resto, ke dermaga, atau ke acara di aula misalnya kayaknya bakal capek. Nah, untungnya disediain jasa buggy car (golf car) buat bantu mobilisasi. 

Kayaknya resort ini cocok banget deh buat tempat staycation dan habisin seharian leyeh-leyeh atau eksplorasi sekitar. Cocok juga buat yang bulan madu ;). Soalnya ini tipikal tempat menginap yang sayang banget kalau cuma buat ditidurin dan selebihnya main di luar. Mending seharian aja di resort. 
***
Selain ilmu baru yang saya dapat dari sharing hari itu, ada lagi satu hal yang menggelitik saya. Dari acara ini saya diingatkan untuk tidak berlebih-lebihan. Tepat ketika Mba Nuniek ingin memperkenalkan seseorang. Yang awalnya saya kira mungkin keluarga/staf resort. Karena sejak awal terlihat sibuk dengan ikan di selokan kecil dekat dermaga. 

Setelah diperkenalkan, ternyata beliau adalah Pak Rama, pemilik The Westlake Resort. Sosok yang bergaya sederhana, lengkap dengan kaos, celana pendek. Tak lupa sendal jepit. 


Tuan rumah yang sederhana dan penyelenggara yang sedang edukasi gaya hidup. Duet, yang sukses mengingatkan saya tentang ketidakberlebihan.

Seakan menjadi contoh akan kalimat yang sempat terselip dalam sharing session
Bahwa uang 100.000 tidak akan berubah meski ditaruh di dompet ataupun kantong kresek. Sama, nilai diri seseorang tidak akan berubah meski ia memakai apapun atau di tempatkan dimanapun. 


Salam, 


Kachan


Ketoprak Pawarso Budaya, Wujud Pengembangan Rakyat dari Alokasi Dana Desa


Sebuah Desa Bernama Sodanten
Saya tinggal di sebuah desa kecil bernama Sodanten (ten-nya dibaca seperti ketika mengucapkan Kota Klaten). Letaknya di bagian Barat Jogjakarta. Masuk wilayah Sleman namun hampir berbatasan dengan Bantul. Ditinggali kurang lebih 200 Kepala Keluarga.
 
Meski secara geografis wilayahnya cukup kecil, kegiatan di desa kami cukup padat merayap. Mulai dari kegiatan ibu-ibu, meliputi Dasawisma (setiap 10 rumah), kegiatan RT & RW, dan KWT (Kelompok Wanita Tani). Untuk bapak-bapak, ada ronda, kegiatan RT & RW, Gorsip (Gotong Royong Simpan Pinjam), ORGOS (Organisasi Gotong Royong Sodanten). Untuk anak dan pemuda kegiatannya dinaungi karang taruna PESO (Pemuda Sodanten). Selain itu masih ada kegiatan lain yang bersifat umum dan keagamaan. 

Yang perlu digarisbawahi semua kegiatan di sini bersifat aktif. Bisa dibayangkan bukan bagaimana intensitas dan kelekatannya. 

Ketoprak Pawarso Budaya
Di luar berbagai kegiatan ini. Ada lagi satu kegiatan yang baru saja diresmikan di desa kami pertengahan tahun ini, yaitu Ketoprak Pawarso Budaya. Pawarso sendiri adalah singkatan dari Paguyuban Warga Sodanten. Jadi desa kami punya paguyuban ketoprak sendiri :D.


Menurut Wahyuti, salah seorang pengurus RT, memang potensi yang sangat nampak dari Sodanten adalah dalam bidang seninya. Orang-orangnya suka belajar seni terutama tradisional. Dan memang ada beberapa orang yang sudah terjun dalam dunia panggung, baik seni tari maupun seni olah suara. Sehingga ada yang bisa membantu mengakomodir.


Seingat saya sendiri sebagai salah satu warganya, sejak dahulu kesenian memang menjadi hal yang tidak terpisahkan dari Sodanten. Event kesenian selalu menjadi hal yang digiatkan dengan maksimal. Baik oleh yang mencanangkan, yang membuat, yang melakukan, maupun yang menontonnya.


Kira-kira 4-5 tahun yang lalu Sodanten menambah sajian utama dalam pentas seni 17-annya, yaitu ketoprak. Sejak awal digarap dengan apik. Ada proses latihan intensif dari pemain maupun pemusik gamelannya. Saat tampil dibantu oleh soundsystem, setting panggung, serta atribut dan riasan yang lengkap. Dan tentu saja cerita yang menarik dan  para pemain yang berbakat. 

Imbasnya, tahun-tahun berikutnya Ketoprak 17-an di desa kami menjadi lebih dikenal. Tidak lagi hanya ditonton oleh masyarakat desa namun juga perangkat desa dan pejabat pemerintahan. Maka, tidak jarang kepala dukuh, lurah, camat, dan perwakilan DPRD ikut hadir menonton meski terkantuk-kantuk. Maklum, ketopraknya biasa selesai hingga dini hari. 

Ketoprak Pawarso Budaya - Agustus lalu. Foto: dok.pribadi
Kisah Bandung Bondowoso & Roro Jonggrang, Agustus lalu. Foto: dok.pribadi
Sebelum akhirnya diresmikan tahun ini, kiprah Ketoprak Pawarso Budaya  memang cukup meningkat. Penampilannya beberapa kali diliput oleh koran online setempat. Pernah juga Ketoprak kami diminta tampil dibeberapa tempat. Atau kali lain diminta mewakili wilayah setempat untuk lomba. Dan salah satu hasilnya adalah menyabet juara 3 dalam Lomba Ketoprak dalam Festival Pertunjukan Rakyat mewakili Kabupaten Sleman. 

Juara 3 Festival Pertunjukkan Rakyat . Foto milik Irkhas

liputan koran online 1. foto: krjogja.com

liputan koran online 2. foto: krjogja.com
Wujud Alokasi Dana Desa
Meskipun demikian, menelurkan paguyuban baru bukan hal yang mudah dan instan. Contohnya  Pawarso Budaya ini. Diawali dengan adanya bibit-bibit ketoprak dalam desa. Digerakkan oleh para motor yang berbakat. Didukung oleh para pengurus yang mampu mencium potensi  desanya. Dan disupport pula dalam bentuk dana dari dana desa sebagai wujud pengembangannya.  
Ada dana desa yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan desa, termasuk seni” begitu yang disampaikan Bapak Wawan, salah seorang ketua RT. Terlebih karena masyarakatnya suka berkesenian dan potensial, jadi sejak awal sudah ada alokasi dana desa untuk ini. Dan buktinya aliran dana tersebut memang membuahkan hasil yang baik. 

Dana desa sendiri adalah dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi desa 
yang ditransfer melalui APBD kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat (kemenkeu.go.id).

Tidak bisa dipungkiri jika dana desa ini menjadi salah satu support yang nyata dalam pengembangan masyarakat. Di desa saya misalnya, keberadaannya bisa membawa ketoprak desa yang semula hanya untuk menggembirakan warga menjadi lebih profesional. 

Siklus Rakyat dan Negara
Soal dana desa ini jika diturut sebenarnya adalah dana dari pemerintah yang bersumber dari rakyat. Yang menarik, jika prosesnya berjalan dengan baik dan tepat sasaran, bisa menjadi siklus yang saling memberi manfaat. 

Jadi, mengambil contoh ketoprak desa kami, urutannya akan seperti ini: uang dari rakyat - untuk negara - kembali ke masyarakat (alokasi dana desa tepat sasaran: mengembangkan ketoprak) - aset budaya dan negara. Bisa jadi akan bersiklus lagi. Misalnya, jika pemerintah melihat potensi ini dan akhirnya memberi dana khusus untuk lebih mengembangkannya lagi. Putaran manfaat akan bergulir lagi. Bukan hal yang tidak mungkin bukan?

Terlepas dari itu, pengalokasian  dana desa tidak serta merta bisa disamaratakan tiap desa. Masing-masing desa harus jeli melihat potensi maupun kebutuhannya. Di satu desa mungkin ada kebutuhan fisik yang lebih harus diselesaikan. Maka alokasi itu yang harus diprioritaskan. Namun, jangan sampai pandangan kita akan pembangunan dan pengembangan terpatok hanya pada aspek fisik saja. 

PRnya, mari saling berkontribusi agar siklus manfaat rakyat dan negara ini bisa terus berjalan dengan baik.





Salam, 



Kachan 



Sumber data:
-wawancara pengurus desa sodanten : Bapak Wawan & Ibu Wahyuti
-http://www.kemenkeu.go.id/dana-desa
-http://krjogja.com/web/news/read/8012/Peringati_Keistimewaan_DIY_Pemuda_Sodanten_Ketoprakan 
-http://krjogja.com/web/news/read/7485/Lawan_Narkoba_Melalui_Seni_Budaya