SLIDER

Melengkapi Mozaik Mataram Islam dengan Menelurusi Peradabannya

Wednesday, 25 October 2017 | 10 comments

Bagaimana jika dahulu Ki Ageng Pemanahan  memilih tanah Pati sebagai hadiah? Akankah Mataram Islam tetap ada?

Arya Penangsang berhasil ditumpas. Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, mau tidak mau harus memenuhi janji dari sayembara yang ia buat. Sebuah janji  menghadiahkan tanah Pati dan Mentaok bagi siapapun yang mampu menumpas pemberontakan Arya Penangsang. Meskipun Danang Sutawijaya yang membunuh Arya Penangsang tetapi hadiah diberikan pada Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi yang konon merupakan pembuat strategi. 

Konon, Raja Pajang meminta Ki Ageng Pemanahan, yang lebih senior dari Ki Panjawi, untuk memilih. Ingin tanah Pati atau Alas Mentaok? Wilayah Pati saat itu sudah berupa kadipaten dengan kehidupan bermasyarakat yang cukup ramai dan maju. Sedangkan Alas Mentaok, seperti namanya, masih berupa alas atau hutan belantara lebat. Terkenal dengan pohon-pohonnya yang besar dan daun-daunnya yang rimbun.

Ki Ageng Pemanahan memilih Alas Mentaok. Pilihan ini terasa aneh bagi saya mengingat cukup menggiurkannya Pati dibanding Alas Mentaok. Tapi Ki Ageng Pemanahan pasti punya alasan tersendiri. Beberapa sumber pun menyatakan alasan yang berbeda. Sebagian mengatakan Ki Ageng Pemanahan memilih Mentaok karena cerminan kebijaksanaan diri yang beliau miliki. Memberikan yang terbaik untuk orang lain. Ada pula yang menyatakan bahwa sebenarnya beliau juga merasa berat hati memilih Mentaok. Hanya karena merujuk pada asas kepantasan umum, dimana orang yang lebih tua baiknya mengalah, maka beliau tidak memilih Pati.

Versi lainnya yang juga berbeda menjelaskan bahwa Ki Pemanagan tidak mengalami situasi memilih melainkan pembagian wilayah dipilihkan secara langsung oleh Raja Pajang.


Terlepas dari versi manapun yang  sebenarnya terjadi, buat saya itu tidak bisa mengubah bahwa Alas Mentaok sudah digariskan menjadi tempat bermulanya sebuah peradaban besar yang memang ditakdirkan ada, bernama Mataram Islam.

 *** 
Adalah kabar baik bagi saya di awal bulan Oktober.  Komunitas Malam Museum, komunitas di Jogja yang cukup sering mengadakan kegiatan dan concern dengan museum, sejarah, dan budaya membuat acara yang menarik hati, Jelajah Mataram Islam. Agendanya adalah menjelajahi peradaban Mataram Islam. 

Nggak tanggung-tanggung, hampir setiap minggunya diisi dengan penjelajahan jejak dari Mataram Islam yang ada di wilayah Yogyakarta-Kartasura-Surakarta. Seneng sekaligus galau. Pengennya ikut semua biar bisa napak tilas secara utuh. Tapi apa mau dikata, kerjaan dan agenda lain udah terlanjur bertengger ditanggal-tanggal yang sama. 

Dari tiga perjalanan yang ditawarkan saya akhirnya mendaftar penjelajahan di tanggal 15 Oktober dengan tujuan Kartasura - Keraton Surakarta - Pura Mangkunegaran. Saya pilih karena dua alasan. Pertama, meski belum semua, tapi hampir sebagian besar jejak Mataram Islam di Jogja pernah saya kunjungi, sedangkan di luar Jogja bisa dibilang belum pernah. Cuma pernah mampir bentar.  Alasan kedua, yang paling penting sih, ya karena cuma pas tanggal itu free dan bisa ikut XD. Baiklah,  anggap saja  ini adalah perjalanan personal bagi saya untuk menyusun mozaik sejarah Mataram Islam secara utuh.

*** 
Cerita tentang peradaban ini dimulai dari sebuah sudut di Tenggara Yogyakarta. Tempat ini dahulu merupakan sebuah hutan yang dipenuhi pohon-pohon Mentaok.  Karenanya ia lebih dikenal dengan nama Alas Mentaok. Nasibnya kemudian berubah saat bertemu dengan pemilik barunya, Ki Ageng Pemanahan.

Setelah memilikinya, Ki Ageng Pemanahan  mulai membabad hutan belantara minim cahaya yang berisi banyak pepohonan rimbun itu. Di tempat itulah beliau kemudian membangun sebuah kadipaten yang diberi nama Mataram. Beliau selanjutnya dikenal dengan panggilan Ki Ageng/Gedhe Mataram. 

Setelah Ki Ageng Mataram wafat, putranya yang bernama Danang Sutawijaya menggantikan. Di masa pemerintahan Danang Sutawijaya status Mataram berhasil diubah dari Kadipaten menjadi sebuah Kerajaan. Beliau menjadi raja pertama Mataram Islam dan bergelar Panembahan Senopati. Dengan keraton dan pusat pemerintahan di Kotagede. 

Setelah wafat, beliau digantikan putranya Panembahan Hanyakrakusuma. Yang kemudian wafat di Krapyak sehingga dikenal juga dengan sebutan Panembahan Seda ing Krapyak, atau Baginda yang wafat di Krapyak. 

Mataram Islam mengalami masa kejayaan di masa Sultan Agung, raja ketiga. Luas wilayah Mataram Islam kala itu mencakup hampir seluruh Pulau Jawa dan juga luar Jawa seperti Palembang, Jambi, Banjarmasin, dan Makasar. Di tengah kepemimpinannya beliau membangun Keraton Kerto dan memindahkan ibukota kerajaan dari Kotagede ke sana. 

Sultan Agung wafat, dan digantikan putranya yang bergelar Amangkurat I. Di bawah kekuasaanya ibukota kerajaan kembali dipindah. Ia membangun keraton Plered dan memindahkan pusat pemerintahan Mataram Islam ke sana. Ia dikenal sebagai raja kejam yang sering melakukan tindak kekerasan. Juga tak segan membunuh keluarga sendiri jika berbeda jalan dengannya. Di masa itu Mataram Islam mulai mengalami kemunduran yang cukup besar. Muncul banyak pemberontakkan dari luar maupun dari keluarga. Dan yang paling besar adalah pemberontakan Trunojoyo. Trunojoyo berhasil menguasai kerajaan hingga membuat Amangkurat I hidup dalam pelarian hingga akhir hayatnya.

Selepas itu, anak beliaulah yang meneruskan Mataram Islam dengan gelar Amangkurat II. Tapi, Amangkurat II tidak meneruskan tahta Mataram Islam di ibukota kerajaan Plered melainkan membangun keraton baru di Kartasura. Meski masih meneruskan tahta Kesultanan Mataram Islam, Amangkurat II melanjutkan pemerintahannya dengan nama baru, yaitu Kasunanan Kartasura.
Keraton Kartosura sekarang sudah berubah fungsi menjadi makam. Potongan tembok benteng dari susunan batu bata merah dengan lebar hampir dua meter  yang mengelilingi keraton masih bisa dilihat dari jalan raya. Selain makam, ada pendopo kecil, petilasan raja, dan sebuah pohon bernama kleco yang sudah ada di sana sejak Kasunanan Kartasura.
pohon kleco yang sangat langka
sisa tembok benteng
Dalam Kesunanan Kartasura ada 5 raja yang memerintah. Mulai dari Amangkurat II hingga Pakubuwono II. Amangkurat II wafat digantikan oleh anaknya, Amangkurat III. Sayang sekali, Amangkurat III digulingkan dan diasingkan oleh pamannya sendiri (adik Amangkurat II) dengan dibantu VOC, yang kemudian bergelar Pakubuwono I. Pakubuwono I wafat digantikan putranya yang bergelar Amangkurat IV. Dimasa ini terjadi banyak konflik saudara perebutan kekuasaan. Setelah Amangkurat wafat IV, ia digantikan oleh anaknya yang bergelar Pakubuwono II.

Perebutan kekuasaan antarsaudara dengan berbagai klaim dan alasan kembali terjadi. Hingga pada 1755 melalui perjanjian Giyanti yang dilakukan oleh 3 pihak Pakubuwono II - VOC - Mangkubumi. Perjanjian ini mensahkan terjadinya palihan nagari, dengan terpecahnya Mataram Islam menjadi dua menjadi, Kesunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Pakubuwono II dan Kesultanan Yogyakarta yang dikuasai Mangkubumi, saudaranya, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubowono I.
Keraton Surakarta didominasi oleh warna putih dan biru terang. Tembok-tembok tinggi menjulang yang mengelilinginya masih terbentang dengan sangat jelas. Luasnya  keraton ini mencapai 54 hektar.  Karena wilayah baru hasil perpecahan kekuasaan Mataram Islam tidak diperbolehkan membangun keraton/istana yang lebih besar dari sebelumnya, maka luas Keraton Surakarta paling besar dibandinkan Keraton Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman.
Keraton Surakarta
Keraton Surakarta
tembok benteng Keraton Surakarta
Masalah kekuasaan belum sepenuhnya selesai pasca Perjanjian Giyanti. 2 tahun kemudian pada 1757 terjadi perjanjian Salatiga yang dilakukan empat pihak. Pihak Raden Mas Said - Sunan Pakubuwono III - Sri Sultan Hamengkubuwono I - VOC. Dalam perjanjian ini Raden Mas Said menjadi pangeran otonom yang diberi wilayah kekuasaan sendiri. Raden Mas Said kemudian berkuasa atas Praja Mangkunegaran dan bergelar Mangkunegara I.
Seperti putri-putrinya yang terkenal berparas ayu, Pura Mangkunegaran nampak begitu manis. Duduk di pendopo terbesar senusantara yang dimilikinya memberikan aura nyaman dengan bonus angin segar yang menerpa wajah. Bagian dalam yang dipenuhi tanaman hijau memberi kesan sangat asri.
Pura Mangkunegaran

Bagian dalam Pura Mangkunegaran
Bagian dalam Pura Mangkunegaran
Potret Keluarga Mangkunegaran
Kesultanan Yogyakarta sendiri kembali mengalami pembagian kekuasaan pada 1813. Saat itu VOC menjadikan Notokusuma pangeran merdeka  yang diberi hak kuasa atas Kadipaten Pakualam. Pangeran Notokusuma selanjutnya bergelar Pakualam I.

***

Empat wilayah lanjutan dari tahta Mataram: Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman masih menunjukkan eksistensinya hingga sekarang. Meskipun, dalam perjalanan pemerintahannya, masing-masing juga tidak lepas dari konflik. Namun demikian kita patut merasa beruntung, dengan bertahannya keempat wilayah trah Mataram ini kita bisa menikmati secara langsung berbagai budaya peninggalan Mataram Islam yang terbagi dan dilestarikan oleh mereka. Baik berupa tarian, bangunan, ajaran hidup, upacara adat, dan juga peninggalan lainnya. 

Namun kita juga harus mengambil pelajaran lain dari peradaban ini. Mataram Islam awalnya berdiri dan berkembang dengan sebuah cita-cita bersama untuk menyatukan dan memajukan wilayah-wilayah. Namun, pada akhirnya keinginan untuk saling berkuasa membuat penerusnya lupa  cita-cita utama yang berimbas pada perpecahan. Terjadi pembunuhan dalam keluarga karena kecurigaan untuk digulingkan. Antar saudara saling bertikai karena masing-masing merasa layak untuk berkuasa. Tidak jarang semua ini menimbulkan perang yang berdampak buruk bagi masyarakatnya. 

Nusantara bisa belajar banyak dari ini. Bahwa  memajukan bangsa membutuhkan kesadaran untuk kembali menyatukan cita-cita dan tujuan bersama. Jangan sampai ikut larut dalam pertikaian kekuasaan yang justru bisa memecah-mecahnya kembali.

***

Mengurutkan sejarah yang kadang memiliki berbagai versi cerita kadang memberikan kebingungan. Mana yang benar, mana yang salah. Mana yang realita dan mana yang mitos belaka. Meskipun demikian menyusun potongan-potongan cerita yang hadir dalam sejarah memang bisa memberikan kepuasan tersendiri. 

Terimakasih malam museum. Berharap semakin banyak  kegiatan sejenis untuk meneluri jejak-jejak peradaban di nusantara kita yang kaya ini :)


Salam,



K






Anggiastri : Omah Perden, Rumah Stimulasi dan Pengembangan Diri Berbasis Budaya di Yogyakarta

Sunday, 1 October 2017 | 8 comments

Nilai-nilai budaya yang sejak dulu ia pegang teguh akhirnya dipadukan dengan keilmuwan dan diwujudkan dalam sebuah rumah stimulasi pengembangan diri yang berbasis budaya
Saya ikut bersorak sesaat setelah membaca WA dari seorang teman baik. Seorang Psikolog Klinis, muda, baik hati, pinter, dan berparas ayu. Lengkap tho. Dan semakin mengagumkan ketika hari itu dia mengabarkan bahwa salah satu program yang menjadi mimpinya akan segera di-launching. Akkkkk selamaaaaaat.

Meski nampak kalem, saya refleks selalu ikutan hepi dan bangga ketika orang-orang terdekat bisa mewujudkan impiannya. Rasanya  jadi ikut semangat dan terinspirasi buat  mewujudkan keinginan-keinginan :D. Pada gitu juga gak sih? 

Berbeda dengan saya yang selepas kuliah kemudian ngalor-ngidul, sahabat saya ini emang langsung melenggang melanjutkan profesi berbekal nilainya yang ciamik dan kemudian meluluskan diri kembali dengan nilai yang mantebh juga. Beuh. Begitulah, anak ini dari dulu memang nampak lebih paham dengan  hal-hal yang berkaitan dengan target dan tujuan hidup dibandingkan saya teman yang lain ahaha.

Sekarang, Mba Psikolog satu ini  menetap di Jakarta. Membuka praktek psikologi di bawah bironya, Kemuning Kembar. Tapi masih sering bolak-balik Jakarta-Jogja karena Kemuning Kembar berpusat di Jogja. Anggi ini spesialis Psikolog Klinis yang biasa menangani konsultasi, terapi, pelatihan dibidang perkembangan, kesehatan mental, dan pendidikan-budaya.  Jadi yang butuh jasa konsultasi berkaitan dengan klinis atau bahkan di luar itu bisa menghubunginya via Kemuning Kembar di: 
Anggiastri H. Utami, M.Psi., Psikolog
Manajer Pengembangan & Hubungan External LPDK Kemuning Kembar 
Telp :  (0274) 4469822/085100102150
 IG : @anggiastri
email: lpdk@kemuningkembar.com 

Mba Psikolog
Omah Perden, Rumah Stimulasi dan Pengembangan Diri

Bagi siapapun yang mengenalnya, ada satu hal yang sangat terekam kuat dari dirinya, yaitu  nilai-nilai budaya Jawa yang sangat melekat dengan dirinya. Anggi ini satu dari sekian banyak wanita berdarah Jawa asli yang masih memegang kuat budayanya.

Pada akhirnya dia berhasil memadukan keilmuwan dan nilai-nilai budaya yang ia pegang teguh. Mewujud dalam sebuah rumah stimulasi dan pengembangan diri. Omah Perden namanya:) 

Pertama kali dengar namanya, saya langsung penasaran sama artinya. Omah Perden diambil dari bahasa Jawa. Omah berarti rumah, sedangkan Perden berasal dari kata perdi, "diwulang wuruk amurih becike, diwanuhahe nindakake tata pranata kang becik" yang berarti 'diajarkan dan dibiasakan untuk melakukan sesuatu yang baik". Sehingga selaras dengan makna folisofinya, keberadaan Omah Perden diharapkan mampu menjadi sebuah rumah tempat belajar dan membiasakan sesuatu yang baik.

Omah Perden dibuat sebagai sebuah rumah stimulasi dan pengembangan diri bagi anak usia dini, remaja, hingga dewasa. Berbagai kegiatan stimulasi yang ada di sini bertujuan untuk menstimulasi perkembangan kognitif, emosi, sosial, bahasa, psikomotor, dan pembentukan karakter yang mendasar pada "rasa". Dan kesemuanya ini dipadukan dengan nilai dan tradisi yang ada dibudaya nusantara. Jadi program-programnya disusun dengan memperhatikan nilai budaya. 

Kenapa nilai budaya menjadi salah satu hal yang ditawarkan oleh Omah Perden? Karena, ada keinginan kuat untuk mengajarkan kembali nilai-nilai budaya nusantara. Dan ini menjadi salah satu hal yang melatarbelakangi didirikannya rumah stimulasi ini. Para founder meyakini bahwa  ada ada banyak sekali hal baik yang bisa dimanfaatkan dari kebudayaan lokal kita.
"Ada banyak permainan tradisional yang mampu memberi stimulasi positif pada perkembangan anak"
Dalam launching-nya di awal September lalu, Ibu Gamayanti, Psikolog ternama, yang juga founder Omah Perden membagi pengalaman beliau. Beliau pernah mendapati beberapa kasus anak yang mengalami problem keseimbangan. Yang ternyata hal itu bukan karena sakit tertentu melainkan disebabkan sang anak tidak dibiasakan melakukan gerakan-gerakan yang melatih keseimbangan. Beliau sangat menyayangkan terjadinya kasus-kasus tersebut. Yang seharusnya tidak perlu terjadi dan bisa dihindari. 
Mungkin jika anak-anak kita masih terbiasa dengan permainan engklek tidak perlu lagi ada kasus-kasus tertentu yang membutuhkan terapi keseimbangan
Beliau kemudian mencontohkan permainan engklek. Permainan yang sering dimainkan saat anak-anak. Engklek atau kadang juga disebut Taplak Gunung merupakan salah satu permainan tradisional yang mengharuskan kita untuk melompat-lompat di dalam kotak-kotak yang ada. Melompat dengan dua kaki, satu kaki, dengan jangkauan yang semakin jauh. Secara tidak langsung permainan ini melatih dan membiasakan keseimbangan sejak kecil. Latihan-latihan dalam wujud permainan semacam ini sangat banyak terdapat di permainan tradisional kita. Yang dampak positifnya tidak disadari, karena bagi yang menjalankan itu hanya  sebuah permainan.

Abis denger ini saya bawaannya langsung pengen ngajarin Kinul mainan-mainan tradisional jaman saya kecil dulu. Main lompat karet, benthik/patok lele, jamuran, bekel. Trus tiba-tiba juga jadi inget mainan adu biji asem. Yang bikin tangan ampe memar-memar tapi tetep aja dilakuin. Masih ada ngga sih ini haha.

Program di Omah Perden 

Omah Perden memulai program-programnya secara resmi di bulan Oktober ini. Masih dengan basis nilai budaya, nama-nama programnya pun disarikan dalam Bahasa Jawa. Salah satu program rutin pertama yang dibuat adalah Merdi Siwi atau Kelas Stimulasi Anak. Merdi Siwi merupakan program pengasuhan anak dan stimulasi dini. Bentuknya berupa kelas-kelas yang dibagi berdasarkan kelompok usia mulai dari 8 bulan sampai 6 tahun. Nanti sebanyak 2 -3 kali seminggu selama 2 jam, anak akan distimulasi dengan berbagai permainan eksploratif dan edukatif.

Di Kelas Merdi Siwi anak-anak akan diajak melakukan permainan tradisional sesuai dengan stimulasi yang diharapkan. Misalnya untuk menstimulasi motorik halus anak diajak bermain dakon, mewarnai-mencetak ampas kelapa, atau membuat mahkota dari dedaunan.

Dalam Merdi Siwi, hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah keharusan keikutsertaan orangtua atau pendamping ketika menjalani program ini. Terutama untuk anak-anak di bawah 4 tahun. Jadi Merdi Siwi bukan hanya sekadar program untuk menstimulasi anak melainkan juga terintegrasi dengan hubungan kelekatan anak-orangtua.

Sesuai dengan kebutuhan, kelas-kelasnya dibangun dengan suasana yang nyaman. Melengkapi kenyaman dari wujud bangunan utama yang memang berbentuk rumah. Suasana adem dan bikin anak-anal betah. Kelasnya luas, didekorasi dengan gambar-gambar menarik, namun tidak penuh dengan interior. Sehingga anak bebas bergerak kian kemari. Ada beberapa ruang kelas yang ditata sesuai dengan kebutuhan stimulasi.
kelas merdi siwi
numpang reuni Psyce 07 di kelas Merdi Siwi
Udah gitu di bagian belakang ada sebuah dapur yang luar biasa unyuuuu bangeet. Gimana ga unyu banget kalau liat dapur yang isinya serba mini-mini hihi. Ada kitchen set, kursi, meja, juga gambar-gambar sayuran lucu dengan warna-warna yang cerah. Ibuk juga betah deh masak di sini, Nak :)).

Dapur ini juga bagian dari kelas untuk program Merdi Siwi. Bisa bayangin ngga sih anak-anak ucrit gitu unyel-unyel bikin klepon haha.


halo wortel, brokoli :D
klepooon
Selain ruang-ruang kelas tertutup, Omah Perden juga punya kelas stimulasi yang terbuka. Di bagian belakang ada lahan terbuka yang biasa digunakan untuk aktivitas fisik yang berisi mainan-mainan anak. Ada kolam pasir, perosotan, dan area panjat.
taman belakang
boulder :)
Nah, selain Merdi Siwi ini, Omah Perden juga punya beberapa program lainnya, yaitu : Kawruh Penggulowenah Lare atau Pengasuhan Anak untuk Orangtua Contohnya, support grup untuk orangtua. Bentuknya  diadakan seminar-seminar pola asuh yang akan diadakan secara rutin bagi para orangtua. Kemudian ada Merdi Muda atau Program Pengembangan Diri Remaja. Wujudnya adalah  support group untuk remaja yang tema-temanya sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka. 

Selanjutnya ada Nyandra Kabisan yaitu Penggalian Potensi - bakat, minat. Misalnya, untuk remaja yang masih bingung dalam  memilih jurusan yang akan dia pilih bisa ikut program ini. Untuk menjalani serangkaian tes dan konsultasi yang hasilnya menjadi salah  satu rujukan pertimbangan. Yang terakhir program Dolan kang nuju prana atau Wisata belajar. Sebuah program dengan muatan edukasi dan psikologi yang diadakan bersamaan dengan waktu liburan sekolah. 

 ***
Saya sempat bertanya kenapa program Merdi Siwi harus didampingi orangtua? Bagaimana dengan orangtua yang bekerja yang terbatas secara waktu?

Jawabannya kurang lebih, yang pertama karena sistem Merdi Siwi memang bukan semacam preschool, TK dan kelas formal pra sekolah lainnya. Merdi Siwi adalah kelas stimulasi yang dalam sistem pembelajarannya mengintegerasikan pendidikan - psikologi - budaya. Kehadiran orangtua menjadi hal penting karena diharapkan bisa menjadi sosok yang mampu melihat, mendampingi, dan mensupport anak secara langsung. Orangtua juga bisa ikut belajar bersama dan merasakan perkembangan dari proses stimulasi yang ada. Setiap sesi kelas Merdi Siwi, selalu diawali dan diakhiri dengan sesi khusus sharing antara fasilitator dan orangtua terkait program hari itu. Harapannya agar masing-masing bisa saling memahamkan kondisi, dan mensupport agar tujuan program bisa tercapai.

Sedangkan jika orangtua  bekerja dan tidak bisa mendampingi secara langsung, anak bisa didampingi significant other lainnya. Misalnya Nenek, Kakek, Om, Tante, atau siapapun yang bisa memberi mendampingi dan mensupport anak. 

Parent involvement is a process of helping parents use their abilities to benefit themselves, their children and the early childhood program - Morisson
Memang benar, kehadiran orangtua maupun significant other saat proses perkembangan anak memang hal yang sangat esensial. Bahwa manfaatnya bukan hanya pada sang anak, namun juga bagi orangtua dan program maupun lembaga yang berkaitan.


Sukses untuk Omah Perden dan segala program positif di dalamnya. Semoga bisa membuka cabang di Kota-kota lain :)



Salam,



K

-----------------------------------------------------------------------------------------


Omah Perden menempati ruang yang sangat strategis. Berada di tengah Kota Jogja, dalam kawasan pendidikan. Tepatnya di Jalan Juwadi No.1, Kotabaru, Yogyakarta. Letaknya persis di seberang Somay Telkom  Jogja. 

Telp : +62 812-2508-2830
email :omahperden@kemuningkembar.com

Nanamia Pizzeria : Satu Dekade dan Sebuah Kepedulian pada Edukasi Anak

Friday, 15 September 2017 | 3 comments

 
"Konon, jika menggantungkan ‘kitchen witch’ di atas pintu dapur, masakan yang kita buat akan jadi supeer lezaaat"
kitchen witch
Begitulah kepercayaan di salah satu wilayah di Eropa sana”, ucap salah satu Kakak.

Saya ikut tersenyum ketika mencuri dengar cerita  kakak dari Museum Anak Kolong Tangga yang sedang memandu workshop di Nanamia Pizzeria Tirtodipuran sore itu. Sembari menunggu dua orang teman yang akan datang, akhirnya saya malah masuk barisan yang ikut menyimak, bersama beberapa orangtua yang anak-anaknya ikut workshop.

Di pojok yang biasa menjadi playground khusus anak itu beberapa adik usia sekitar 7- 10 tahun  terlihat bersemangat membuat boneka dari centong sayur, kain perca, dan kertas koran. Mata  penasaran mereka  menampakkan antusias tersendiri diwajah. Mereka juga terlihat khusyuk ketika mendengarkan tambahan dongeng dari kakak pemandu. 

Memang ya, kisah-kisah dongeng selalu bisa membangkitkan gairah tersendiri dijiwa anak-anak :)
membuat kitchen witch :)
Tidak jauh dari sana, di seberang taman, di bawah pepohonan yang cukup rindang, sekelompok adik-adik dengan usia lebih kecil dan lebih banyak juga sedang asyik 'menguleni' tepung yang dicampur air. Rupanya mereka sedang diajak untuk membuat playdough.

Sembari 'ndeprok' di atas alas, mereka sibuk mencampur ulenan dengan minyak. Kemudian adik-adik diminta untuk membubuhkan pewarna ke playdough dan membentuknya menjadi berbagai jenis makanan.
Rupanya sore yang semarak karena dipenuhi workshop anak itu merupakan rangkaian acara dari perayaan ulang tahun satu dekade Nanamia Pizzeria. Selama tiga hari sejak tanggal 7-9 September Nanamia membuat workshop untuk anak-anak. 'Workshop Anak' dipilih menjadi bagian dari perayaan bukan tanpa sebab, melainkan karena Nanamia memang memiliki concern lebih pada dunia pendidikan anak. Menarik.

Bahkan, sebagai bentuk perhatian pada edukasi anak, Nanamia sudah menjalankan workshop untuk anak sebagai program rutin mereka.  Jadwalnya setiap dua minggu sekali di hari Sabtu. Tema-tema yang diberikan beragam namun dan dengan biaya yang terjangkau. Umumnya diangka 50 ribu dan tidak melebihi 100ribu. Noted! Bisa banget nih dijadikan rujukan tempat buat ngumpul pas jadwal workshop. Ibu-ibunya bisa ngobrol, anak-anaknya bisa main sambil belajar ;)

Lebih-lebih atmosfer Nanamia, terutama yang di Tirtodipuran memang sangat nyaman, luas, dan cocok untuk tempat kumpul baik bersama teman maupun keluarga.
Ya, menghabiskan waktu di Nanamia Tirtodipuran tidak pernah salah. 

Pun begitu dengan sore kemarin.
Bahkan Si Jack juga nampak berbahagia menemani saya. Dengan jubah merahnya yang agak norak itu ia melompat dengan penuh semangat. Merayakan kebebasannya keluar dari himpitan rak buku di rumah sembari ikut menggigiti potongan tomat Bruschetta dan Salami Beef-nya Giovanni Pizza. Tak lupa sesekali ikut menyeruput Hot Lime yang kecut-kecut manis tapi sangat cocok untuk saya yang sedang batuk. Uhuk

Selamat ulang tahun ke sepuluh, Nanamia Pizzeria



Salam, 



Kachan 













25 Keempat dan Perayaan Tiba-tiba

Tuesday, 29 August 2017 | 0 comments

"Saya tidak akan bosan-bosannya mengatakan Agustus adalah salah satu bulan favorit"
Tempat saya menitipkan beberapa momen bermakna dalam hidup. Termasuk satu tanggal dipenghujung bulan sebagai penanda cerita saya dan R :)

Dan, siang itu, ditanggal yang sama, empat tahun kemudian saya mendatangi kantor R,  seperti layaknya yang sering saya lakukan di hari-hari biasa. Untuk berkunjung sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Siang itu cukup terik dengan hawa yang membuat keringat pasrah membasahi badan. Kami sepakat memesan minuman dingin dari gerai fastfood di dekat kantor. Anggap saja perayaan dadakan. 

Ternyata lebih menyenangkan berbincang sembari ditemani dua buah gelas es susu cokelat kesukaan. Ditambah beberapa cemilan ringan dari gerai yang sama.  Malahan kami dapat tambahan segelas eskrim dalam plastik pesanan. Awalnya kami kira kesalahan pesan tapi  waktu cek struknya, ada tambahan tulisan "free ice cream" . Wohoooo...padahal total belanjaan kami ngga banyak.  Bayarnya aja pakai voucher gratis dari  penukaran poin ojek online kesayangan. Yey, bonus berujung  bonus nih namanya :)

 ***

"R, kayaknya aku mau lebih banyak nulis dengan gaya kayak dulu lagi deh" ujar saya mantab.

Sebenarnya bukan pertama kali saya bilang begini melainkan beberapa kali. Saya sedang  rindu nulis sekendak hati secara random. Tidak berbau keharusan. Dan R sudah cukup paham dengan maksud saya. Bedanya, sebelum-sebelumnya saya hanya melontarkannya sambil lalu dan tidak butuh respon. 

"Ya, ayo. Aku suka tulisanmu yang dulu itu lho..." balasnya.

R menyebut tulisan yang pernah saya buat  beberapa tahun silam.  Tulisan yang sukses membuat kami mendapatkan kamera yang cukup hits di masa itu. Curiga sih, ini suka tulisannya, apa hadiahnya ya? Haha. Apapun, saya tetap terima pujiannya dengan sumringahlah :)

"Tulis yang kayak gitu lagi, K!" tambahnya sambil senyum geje.

"Okee" saut saya sambil nyengir dan kemudian lanjut nyusrup es yang jarang-jarang diijinin R buat saya minum.

 R foto bentar dong.  Woke, buat blog? Iya :D*Cekrek!*
***
"Berbagai macam pujian dimedia sosial mungkin mampu memuaskan diri namun belum tentu hatimu"
       Dan orang-orang terdekatmu lebih bisa melakukannya :)





Salam,


 

Batoer Hill Resort : Menikmati Alam, Senja, dan Lampion Terbang

Saturday, 12 August 2017 | 17 comments


Hampir sebagian besar keluarga saya adalah penggemar berat pantai, kecuali saya dan suami. Meskipun tidak terlalu suka bukan berarti kami ogah main ke pantai. Tetep mau kok. Apalagi kalau bareng keluarga. Itulah yang membuat hampir sebagian besar piknik dan liburan keluarga kami selalu diisi dengan kegiatan wajib tidak tertulis : ke pantai.

Setahun yang lalu, demi memuaskan hasrat keluarga besar untuk bermain air asin, kami sepakat untuk menghabiskan libur lebaran  di surga pantai-nya Jogja. Tempat di mana pantai-pantai dengan pasir putih halus maupun berkrakalnya ada. Gulungan ombak berarak-arak dengan gagahnya ke arah pantai. Dan juga percikan air asin menerpa tebing karangnya. Gunung Kidul.

Dengan begitu banyaknya list pantai yang ingin kami datangi, menginap di daerah Gunung Kidul tentu menjadi plan utama. Biarpun kami tinggal di Jogja tapi ngga kebayang jika harus bolak-balik sekian hari.

Mulai dari H – sekian bulan saya dan suami (yang  hampir selalu bertanggung jawab mencari akomodasi) mulai mencari-cari tempat menginap keluarga. Syarat yang  diajukan keluarga:  di Gunung Kidul, penginapan dan tempat tidur nyaman, plus punya kolam renang.

Ternyata, meskipun punya destinasi wisata yang lumayan banyaaak. Mencari tempat menginap sesuai syarat keluarga saya di sana susaaaaah.  Waktu itu hanya ada satu tempat yang cocok. Dekat pantai, lumayan nyaman, dan punya kolam renang. Sayangnya sudah full booked L. Selebihnya, rata-rata yang agak lumayan semacam guest house tapi tidak ada kolam renangnya. Itu pun dengan kamar yang sangat standar. Yang tentu saja tidak di acc keluarga.

Akhirnya kami memutuskan pindah destinasi. Tetap pantai tentu saja. Namun tidak di Gunung Kidul. Karena bagi kami, liburan bersama keluarga 3 generasi, butuh tempat menginap dan istirahat yang nyaman.

 ***

Karena itu, ajakan seorang teman untuk hadir di softlaunching sebuah resort baru di Gunung Kidul satu minggu yang lalu saya iyakan dengan cukup excited. Untuk menjawab rasa penasaran sekaligus menaruh harap. Apalagi saya punya sedikit kesan baik ketika mendengar namanya, Batoer Hill Resort. Bayangan akan sebuah resort di atas bukit tiba-tiba menyeruak. 

Bayangan awal saya nampaknya tidak salah. Sesuai dengan namanya, perjalanan menuju Batoer Hill memberikan sensasi jalanan yang cukup mendaki-daki. Dan sukses membuat persneling kendaraan tidak lepas dari gigi 1 dan 2. 

Sepanjang perjalanan menuju resort, pemandangan di kiri kanan adalah rumah-rumah penduduk desa yang berpadu dengan  area persawahan. Tidak jarang kendaraan yang kami bawa memperlambat gerak kemudian menyapa penduduk sekitar yang sedang beraktivitas di pinggir jalan. Bapak-bapak yang sedang berjalan, gerombolan pemuda yang sedang menyeduh minuman di warung, dan ibu-ibu yang tengah bermain dengan anaknya di depan rumah membalas sapaan kami dengan hangat. Sangat jauh dari kesan tidak ramah. 

Dari Mba Irma Devita, salah seorang pengelola resort, saya jadi tahu bahwa pembangunan Batoer Hill ternyata merupakan hasil kemitraan desa dengan beberapa pemilik modal. Tanah tempat ia dibangun adalah milik desa setempat sedang pengelolaannya dilakukan oleh beberapa pihak terkait yang ikut bekerja sama. Mungkin hal ini juga yang menciptakan keramahan tulus warga yang kami temui saat melihat kami yang akan ke resort. Karena juga merasa ikut memiliki, maka kami juga dianggap tamu mereka.

Ketika bangunannya mulai muncul di depan mata saya bisa melihat bahwa resort ini memang sengaja di bangun di area pucuk bukit kecil. Bangunan-bangunannya tidak dibangun dalam ketinggian yang sama. Pintu masuk, parkiran, pendopo utama, dan resto ada dalam ketinggian yang sejajar.
pendopo utama
resto
Karena dibangun di atas tanah yang bergradien maka pandangan mata terasa sangat luas. Persis seperti ketika kita berada di ketinggian dan melihat ke bawah. Dan pemandangan yang disajikan Batoer adalah hamparan pepohonan, ladang, dan persawahan. 

Untuk menikmati pemandangan dengan lebih leluasa dibuat juga sebuah bangunan yang fungsinya seperti menara pandang. Namun berbentuk jembatan. Buat yang takut ketinggian mungkin agak deg-deg an. Tapi ini menjadi tempat yang cukup favorit untuk berfoto dan menunggu sunset.
pemandangan di bawah resort . photo milik : www.batoerhillresort.com
di atas jembatan


Di kanan dan kiri bawah tulisan ‘BATOER’ yang terpampang dengan sangat jelas, ada tangga yang akan membawa kita turun menuju bangunan lainnya. Bangunan pertama yang akan langsung bisa kita lihat dengan jelas adalah kolam renang.

Kolam renangnya dikonsep dengan gaya yang memang sedang cukup hits sekarang ini, infinity. Ada dua buah kolam, yang  berbeda ukuran. Namun kurang tau ke dalaman masing-masingnya berapa meter. Dan sayangnya, kemarin kolam sedang dibersihkan jadi airnya tidak penuh dan belum jernih.

Batoer
view dari bawah
bre dan mboknya bree :))


Bagian Kamar 

Di dekat kolam renang bagian kanan ada jalan setapak yang akan membawa kita ke area kamar-kamar resort. Letaknya seakan-akan terpisah dan tersembunyi dari bangunan-bangunan utamanya. Namun justru membuatnya seperti rumah penduduk yang menyatu dengan lingkungan sekitar.

Dinding kamarnya dibuat dari kayu-kayu yang disusun. Beberapa kamar mempertahankan warna kayu namun ada juga  yang  diselubungi dengan cat warna cokelat dan oranye: cokelat bata. Saya yang penyuka warna-warna seperti ini akhirnya cukup lama mengamati dindingnya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk selfie karena rasanya ditarik-tarik si tembok untuk berpotret bersama. Haha agak jarang lho saya selfie ;p.

 View bagian depan – bawah dari kamar-kamar yang berjajar ini adalah ladang dan persawahan. Dari jendela kamar kita melihat secara langsung aktivitas para petani di ladang.  




Sebenarnya Batoer Hill belum resmi dilaunching. Rencananya baru akan grandlaunching pada bulan Oktober mendatang. Oleh karena itu belum semua pembangunan di resort ini sudah selesai. Termasuk kamar-kamarnya. Namun, ada beberapa kamar yang sudah siap dan saya sempat mengintip ke salah satu kamar.

Konsep kamarnya sendiri seperti rumah panggung. Bagian dalamnya cukup luas. Terdiri dari dua bagian ruangan yang tidak bersekat. Satu ruang duduk yang memiliki sofa, dan satu ruang untuk tempat tidur. 

bagian ruang tempat tidur. photo milik : www.ardiankusuma.com

 ***
Menjelang petang saya kembali ke bagian atas untuk menikmati sunset dan santap malam. Seakan tak mau kalah, bagian resto pun unjuk gigi dengan menghidangkan makanan yang menjadi kekhasan daerah tersebut. Perut saya pun berbahagia menyambut nasi, ingkung ayam, peyek, dan segala ubo rampenya.
makan malaaam :). photo milik : www.ardiankusuma.com
 ***

Sebuah Pelajaran di Atas Bukit

Rupanya, hari itu saya bukan hanya diajak untuk berkenalan dengan resort baru. Sebelum bergegas pulang, saya dan teman-teman mendapatkan kesempatan menarik dari pengelola. Mereka mengajak kami semua untuk menerbangkan lampion. Yang memberi saya ‘oleh-oleh sebuah pelajaran’ untuk dibawa pulang.
lampion kedua

Foto di atas ini adalah foto saya bersama lampion kedua yang berakhir nyusruk ke ladang setelah sempat membumbung sebentar. Melengkapi lampion pertama yang terbakar habis sebelum terangkat.

Nampaknya, karena begitu ingin melihat harapannya segera terbang, saya lupa. Esensi memohon adalah meminta tanpa memaksa. Tidak pula dengan tergesa.

Saya ambil kembali lampion ketiga. Dengan keinginan yang sama untuk bisa menerbangkannya namun sudah bersiap untuk legowo jika gagal. Juga belajar untuk tidak terburu-buru.

Memang butuh waktu lebih lama, cukup lama, hingga akhirnya saya bisa merasakan kertasnya bergerak menjauhi jari-jari tangan saya. Perlahan-lahan ia ke atas. Dan akhirnya mengangkasa :)




Salam, 




Kachan 

------------------------------------------------------------------------------------------

  
 Desa Batur Dusun Putat, Patuk, Gunung Kidul, DIY 55862
 Telp : +62 812-2544-3716

Email : batoerhillresort@gmail.com 
IG : @batoerhillresort


© People & Place • Theme by Maira G.