SLIDER

[ Tea and Koffie ] Tanaman Rambat di dalam Benteng

Friday, 24 February 2017 | 12 comments



Sinyal alarm diri memintaku berhenti mengeja dalam hati deretan aksara di pangkuanku. Belum selesai. Baru separuh kubaca. Kuselipkan bookmark untuk menandai halaman yang tersisa. Kututup ‘manuskrip’ itu dengan kedua tangan. Lantas memasukkannya hati-hati ke dalam tas kulit cokelat. 

Matahari yang tadi menumpahkan sinarnya dengan malu-malu kini mulai menyengat. Cahaya terangnya menguasai pandangan. Pantas saja. Panas mulai terasa menggigiti punggung tanganku. 

Kulirik ke bagian atap kanopi tempatku duduk. Untungnya, tempat yang kududuki cukup terlindungi. Daun dan batang yang menjuntai dari tanaman rambat berbaik hati menahan panas untukku. 

Ia tumbuh dengan melilit-lilitkan badan dan daunnya di antara besi-besi. Meliuk dan menjahit diri di lubang-lubang kanopinya. Menjadi payung disaat terik seperti ini. Dan (mungkin) juga menjadi pelindung ketika tetes-tetes air dari langit  sedang jatuh.

tanaman rambat – photo by Swesthi Charika

Sebagaimana jeda kekosongan waktu yang kadang menimbulkan tanya. Maka rentetannya pun melintas dibenak saat sedang melihatnya.

"Ah, apakah tanaman rambat ini merasa kepanasan? Ataukah ia cukup senang karena bermanfaat? Mungkinkah sebenarnya ia kesal karena harus tumbuh mengikuti alur-alur besi yang sudah dibuat?".

Belum sempat aku bertanya-tanya lagi, jawaban itu muncul sendiri kala teringat  secuplik paragraf dari tulisan yang tadi kubaca.
Tanyakan pada sungai, “Apakah kau merasa berguna, sebab bukankah kau sekadar mengalir ke arah yang sama?

Dan ia akan menjawab, “Aku tidak mencoba untuk berguna; aku mencoba untuk menjadi sungai.”
Bisa jadi aku dan [mungkin] manusia lain terlalu larut dengan berbagai pertanyaan hidup. Lantas sibuk mencari berbagai jawaban. 

Hingga akhirnya lupa untuk [mencoba] menjadi manusia.



Vredeburg, Maret 2016
Salam,
Tea and Koffie  
------------------------------------------------------------------------------------------

Tea and Koffie adalah catatan dan celoteh iseng 2 orang kontradiktif. Seorang penyuka teh yang tidak boleh meminum teh. Dan seorang penyuka kopi yang tidak disarankan meminum kopi.

Workshop : Membuat Clutch Bag dari Daluang

Friday, 17 February 2017 | 6 comments


Meski suka hal-hal yang berbau crafting, sejauh ini saya membatasi diri hanya sebagai penikmat dan (kadang) pembeli. Biar seimbang dong ya. Ada yang menghasilkan karya, ada yang menghargainya ;).

Saya paham banget dunia crafting ini selain butuh jiwa seni juga butuh yang namanya ketelatenan. Dan dalam hal ini saya level rata-rata banget.

Saya jadi ingat, waktu awal-awal hamil dulu itu lagi hits banget yang namanya rajut-merajut. Tiap buka media sosial ada aja aja iklan sepatu, cardigan, bandana, topi rajut buat bayi rajut yang wara-wiri di timeline. Dan itu serius unyu-unyu banget. Bahkan mendadak beberapa teman-teman saya jadi pengrajut. Entah dia merajut untuk anaknya sendiri atau untuk dijual.

Aha! Ya, seperti itulah yang tiba-tiba membuat badan saya mengalir cus ke Poyeng - toko merajut hits Jogja di daerah Palagan.  Sebagai calon ibu, saya langsung punya mimpi mulia buat ngerajut selama hamil dan hasilnya jadi kado buat  dedek bayi waktu lahir. 

Sehari dua hari sih masih lancar ya. Hari ketiga okelah masih bisa disemangatin. Hari selanjutnyaa..... Yah gitu deh. Bisa ditebaklah. Akhirnya mangkrak -___- . 2 gulung benang rajutnya ampe sekarang masih ada - warna ijo sama kuning. Kalau stick rajutnya mah kayaknya udah buat sumpit mie rebus pas kepepet dulu ;p. Bye!
***
Karena itulah waktu pertama dapet info ini saya antara pengen ga pengen. Yang bikin pengen, saya penasaran banget sama yang namanya DALUANG. Ini apa sih? Bahan dari apa? Tapi waktu inget ada proses njait-njait plus nggambar jadi jiper. Emmmm.

Tapi akhirnya saya tetep dateng dong. Rasa penasaran mengalahkan segalanya :). Apalagi selama bulan Januari saya lebih banyak 'istirahat' di rumah. Jadi kayaknya bisa jadi hal baru yang dicoba. 

Tentang Daluang

Workshop hari itu bertempat di Pesoa Jogja Homestay. Saya baru pertama kali ke sini tapi namanya cukup sering saya dengar.

Pagi itu saya berkenalan dengan daluang melalui pakarnya langsung - Prof. Ishamu Sakamoto dari Jepang dan juga praktisi yang ikut memperkenalkan daluang di nusantara - Mba Astri Damayanti. Awalnya saya pikir daluang itu semacam kertas daur ulang. Eh, ternyata bukan.

Daluang adalah lembaran tipis yang dibuat dari kulit kayu pohon deluang (Broussonetia papyrifera) yang dipakai untuk menuliskan sesuatu (seperti kertas). Beberapa naskah kuno Nusantara menggunakan daluang sebagai media penulisannya di saat kertas modern belum diperkenalkan (wikipedia).

Daluang ini dibuat dari lembaran tipis kulit kayu yang diolah dengan cara diketok-ketokan dengan alat yang namanya batu ike. Konon, proses pembuatannya memakan waktu seharian tanpa jeda. Karena jika berhenti kulit kayunya akan kering dan gagal.

Warnanya khas kulit kayu. Antara putih tulang dan krem. Permukaannya bertekstur,  bikin tambah otentik. Daluang ini memang nampak sederhana, namun tidak nilainya. Untuk ukuran 1 lembar daluang 90 x 70 cm harganya sudah mencapai 350 ribuan. Lumayan ya. Langsung melirik sambil menaksir harga kemeja Prof. Sakamoto yang dibuat dari daluang ;p. 

Tapi kalau menilik lagi prosesnya di atas memang masuk akal. Apalagi umur daluang ini sangat panjaaaaaang. Berdasarkan penelitian dari beberapa penemuan dunia, umur daluang ini bisa bertahan hingga seribu tahun lebih. Wow. 

Daluang sendiri sudah diakui menjadi salah satu warisan dunia. Waktu denger ini saya miris ke diri sendiri. Kok saya baru tahu ya. Semoga suatu saat saya bisa berjodoh langsung dengan proses pembuatannya di Sulawesi atau di Bandung. 

Mba Astri - Mba Tanti - Prof. Sakamoto

 Doodling
Proses membuat Clutch dibagi dua kelompok. Untuk bergantian antara  mendoodling atau menjahit lebih dulu. Saya masuk ke kelompok yang mendoodling daluang terlebih dahulu. 

peralatan doodling

Awalnya saya pikir doodling ini bakal susaaaah banget. Maklum, yang sering sliweran di timeline IG itu hasilnya temen-temen yang emang jago banget doodling. 

Lewat mba Tanti saya jadi tau men-doodling ngga se-DRAMA itu. Mba Tanti cukup sabar mengajari murid-muridnya ini. Mulai dari menjelaskan doodling itu apa, mengajarkan mulai dari teknik dasar sambil nglemesin jari sebelum nge-doodling di daluang, hingga membesarkan hati kami "siapapun bisa men-doodling". Saya yang suka parno buat ngegambar karena kadang merasa ada batasan aja jadi bisa ikutan enjoy nge-doodling.

suasana doodling bersama mba Tanti :)
Menjahit 

Habis selesai doodling, dilanjut sama proses menjahit daluang menjadi clutch. Nah, proses menjahit dipandu lagi sama Mba Astri  Damayanti yang memang sudah wara-wiri di dunia ini. Beliau founder dari Kriya Indonesia (bisa dicek kegiatan dan acaranya apa aja di IGnya). 

Sebenernya daripada doodling saya lebih familiar dengan jahit-menjahit. Bisa dibilang udah berteman cukup lama. Eh, ini maksudnya sering liat ibu njahit ya, bukan saya haha. Tapi kemarin tetep aja rada jiper waktu mau nyobain mesin jahit modern masa kini. Pertama kalinya nih. Deg deg ser.

Saya sampe Waw-Wow sendiri pas tau mesin jahit dari brother indonesia tipe GS 2700 yang kami pakai memiliki 27 tipe jahitan. Itu beneran tinggal diputer-puter trus pilih mau model jahitan nomor berapa lho. Langsung jadi deh. Makin wow pas tahu seri di atasnya punya 100 lebih tipe jaitan. Glek!

Udah gitu ngga ada drama masang benang ke jarum secara manual yang suka bikin puyeng mata itu. Semuanya udah diset khusus secara otomatis. Kebayang ngga? Awalnya saya ngga kebayang, tapi pas kemarin ngerasain wiiihhh beneran ternyata. Langsung ga paham sama dunia yang saya tinggali sekarang. 
 
dijarumin biar rapi proses njaitnya
proses menjahit

suasana menjahit bersama mba Astri
Ngga tau karena saya emang berbakat atau karena mesin jahitnya kelewat canggih. Abis selesei saya langsung ngerasa ahli menjahit. Wwkwk kalau ini mah murni alasan kedua. Langsung naksir sama mesin jaitnya. Kayak candu. Sekali njahit ternyata langsung pengen njahit-njahit lagi. Kemarin sih udah kode-kode ke Mas Bojo di IG. Tapi kok belum membuahkan hasil. Dikode lagi ah diblog.


bahagia bersama hasil karya :D
Ga sempurna, tapi tetep bangga sama buatan sendiri ;))
***
Ternyata ada hal lain di luar seni dan ketelatenan dalam workshop ini.  'Istirahat' yang cukup lama di bulan Januari membuat saya lelah fisik dan mental. Ternyata melakukan prakarya dengan tangan, bermain spidol - doodling, menjahit-jahit benar-benar menjadi self healing tersendiri bagi saya. Menjadi kegiatan pertama yang cukup me-recharge diri. 

Ah, untunglah tidak melewatkannya. Terimakasih semuanya yang sudah mengadakan workshop ini :)

Peserta Workshop:)


Salam hangat,



Kachan,

[ Tea and Koffie ] Jendela Pengintai

Monday, 6 February 2017 | 24 comments



Pada sebuah janji di hari itu, aku datang lebih dulu. 

Bangunan bergaya klasik eropa yang aku datangi menyambutku dengan cukup baik. Ada perasaan hangat ketika mula-mula sampai di sana. Rasa hangat semakin kuat dan menjalar di tubuh ketika melewati jagang, jembatan, dan mulai masuk ke gerbangnya.

Di dalam, aku memilih untuk duduk di bawah sebuah pohon yang berada di taman tengah bangunan. Tempatnya  cukup sejuk menurutku. Setidaknya untuk duduk  dan menunggu.

Orang yang kutunggu datang tak lama setelah aku menyelesaikan buku yang kubaca.

Cukup membingungkan ketika harus menyebutnya siapa. Kenalan? Teman? Teman baik? Sahabat? Ah, konsep ‘teman’ bagiku dan dia memang ambigu. Bahkan konsep pertemanan ini pernah menjadi bahasan cukup panjang bagi kami.

Jika orang yang baru dikenal bisa disebut teman, maka relasi kami lebih dari itu. Jika sebutan sahabat adalah untuk mereka yang saling mengenal sekian tahun melewati berbagai hal bersama. Tentu kami belum bisa disebut begitu.

Terasa rumit? Ah, tidak. Dalam penjelasannya iya namun kenyataannya kami tidak benar-benar pusing dengan konsep ini.

Kami berkenalan secara langsung dalam sebuah situasi khusus sekian tahun lalu. Tidak menjadi dekat namun tidak pernah benar-benar putus kontak. Hingga akhirnya bertemu kembali karena hal random yang diamini satu sama lain.


Kami berjalan mengitari hampir seluruh bagian bangunan. Aku sendiri baru menyadari bahwa tempat ini lebih luas dari yang kukira sebelumnya. Cukup sering aku ke sini namun hanya kebeberapa bagian bangunan –  yang cukup menjadi langganan event seni.

Bagian sisi Selatan bisa dibilang tidak cukup ramai. Terlebih di bagian atas. Hingga memungkinkan kami berbincang-bincang cukup banyak dengan suara keras sekalipun. Tentang kucing, tatto, genetika, makanan, dan tentang perjalanan ke dalam diri. 

gerbang timur – photo by Swesthi Charika


Vrd_01c.jpg
pintu barak – photo by Swesthi Charika
naik dan turun – photo by Swesthi Charika


jatuh namun tumbuh, di atas – photo by Swesthi Charika
_

Di sisi Tenggara bagian atas kami mulai khusuk dengan dunia masing-masing.

Aku berjalan mendekati sebuah bangunan berbentuk tabung yang memiliki jendela-jendela kecil melingkari sisi atasnya. Dalam jarak 5 meter dengannya kuhentikan langkah.


menatap bastion – photo by Swesthi Charika


Kutatap lekat-lekat bastion di depanku. Kuamati jendela pengintai yang memutarinya. Kotak-kotak itu – yang  menjadi lubang untuk melihat situasi di luar sana. Seperti sigap mewaspadai setiap hal yang nampak di luar untuk melindungi diri.

Namun, jangan terlalu lama melihat keluar karena sebaik-baiknya perlindungan adalah pengintaian ke dalam dirimu sendiri…




Vredeburg, Maret 2016
Salam,



Tea and Koffie  
------------------------------------------------------------------------------------------

Tea and Koffie adalah catatan dan celoteh iseng 2 orang kontradiktif. Seorang penyuka teh yang tidak boleh meminum teh. Dan seorang penyuka kopi yang tidak disarankan meminum kopi.
© People & Place • Theme by Maira G.