Melengkapi Mozaik Mataram Islam dengan Menelurusi Peradabannya
Wednesday 25 October 2017 | 11 comments
Bagaimana jika dahulu Ki Ageng Pemanahan memilih tanah Pati sebagai hadiah? Akankah Mataram Islam tetap ada?
Arya Penangsang berhasil ditumpas. Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, mau tidak mau harus memenuhi janji dari sayembara yang ia buat. Sebuah janji menghadiahkan tanah Pati dan Mentaok bagi siapapun yang mampu menumpas pemberontakan Arya Penangsang. Meskipun Danang Sutawijaya yang membunuh Arya Penangsang tetapi hadiah diberikan pada Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi yang konon merupakan pembuat strategi.
Konon, Raja Pajang meminta Ki Ageng Pemanahan, yang lebih senior dari Ki Panjawi, untuk memilih. Ingin tanah Pati atau Alas Mentaok? Wilayah Pati saat itu sudah berupa kadipaten dengan kehidupan bermasyarakat yang cukup ramai dan maju. Sedangkan Alas Mentaok, seperti namanya, masih berupa alas atau hutan belantara lebat. Terkenal dengan pohon-pohonnya yang besar dan daun-daunnya yang rimbun.
Konon, Raja Pajang meminta Ki Ageng Pemanahan, yang lebih senior dari Ki Panjawi, untuk memilih. Ingin tanah Pati atau Alas Mentaok? Wilayah Pati saat itu sudah berupa kadipaten dengan kehidupan bermasyarakat yang cukup ramai dan maju. Sedangkan Alas Mentaok, seperti namanya, masih berupa alas atau hutan belantara lebat. Terkenal dengan pohon-pohonnya yang besar dan daun-daunnya yang rimbun.
Ki Ageng Pemanahan memilih Alas Mentaok. Pilihan ini terasa aneh bagi saya mengingat cukup menggiurkannya Pati dibanding Alas Mentaok. Tapi Ki Ageng Pemanahan pasti punya alasan tersendiri. Beberapa sumber pun menyatakan alasan yang berbeda. Sebagian mengatakan Ki Ageng Pemanahan memilih Mentaok karena cerminan kebijaksanaan diri yang beliau miliki. Memberikan yang terbaik untuk orang lain. Ada pula yang menyatakan bahwa sebenarnya beliau juga merasa berat hati memilih Mentaok. Hanya karena merujuk pada asas kepantasan umum, dimana orang yang lebih tua baiknya mengalah, maka beliau tidak memilih Pati.
Versi lainnya yang juga berbeda menjelaskan bahwa Ki Pemanagan tidak mengalami situasi memilih melainkan pembagian wilayah dipilihkan secara langsung oleh Raja Pajang.
Terlepas dari versi manapun yang sebenarnya terjadi, buat saya itu tidak bisa mengubah bahwa Alas Mentaok sudah digariskan menjadi tempat bermulanya sebuah peradaban besar yang memang ditakdirkan ada, bernama Mataram Islam.
***
Adalah kabar baik bagi saya di awal bulan Oktober. Komunitas Malam Museum, komunitas di Jogja yang cukup sering mengadakan kegiatan dan concern dengan museum, sejarah, dan budaya membuat acara yang menarik hati, Jelajah Mataram Islam. Agendanya adalah menjelajahi peradaban Mataram Islam.
Nggak tanggung-tanggung, hampir setiap minggunya diisi dengan penjelajahan jejak dari Mataram Islam yang ada di wilayah Yogyakarta-Kartasura-Surakarta. Seneng sekaligus galau. Pengennya ikut semua biar bisa napak tilas secara utuh. Tapi apa mau dikata, kerjaan dan agenda lain udah terlanjur bertengger ditanggal-tanggal yang sama.
Dari tiga perjalanan yang ditawarkan saya akhirnya mendaftar penjelajahan di tanggal 15 Oktober dengan tujuan Kartasura - Keraton Surakarta - Pura Mangkunegaran. Saya pilih karena dua alasan. Pertama, meski
belum semua, tapi hampir sebagian besar jejak Mataram Islam di Jogja
pernah saya kunjungi, sedangkan di luar Jogja bisa dibilang belum pernah. Cuma pernah mampir bentar. Alasan kedua, yang paling penting sih, ya karena cuma pas tanggal itu free dan bisa ikut XD. Baiklah, anggap saja ini adalah perjalanan personal bagi saya untuk menyusun mozaik sejarah Mataram Islam secara utuh.
***
Cerita tentang peradaban ini dimulai dari sebuah sudut di Tenggara Yogyakarta. Tempat ini dahulu merupakan sebuah hutan yang dipenuhi pohon-pohon Mentaok. Karenanya ia lebih dikenal dengan nama Alas Mentaok. Nasibnya kemudian berubah saat bertemu dengan pemilik barunya, Ki Ageng Pemanahan.
Setelah memilikinya, Ki Ageng Pemanahan mulai membabad hutan belantara minim cahaya yang berisi banyak pepohonan rimbun itu. Di tempat itulah beliau kemudian membangun sebuah kadipaten yang diberi nama Mataram. Beliau selanjutnya dikenal dengan panggilan Ki Ageng/Gedhe Mataram.
Setelah Ki Ageng Mataram wafat, putranya yang bernama Danang Sutawijaya menggantikan. Di masa pemerintahan Danang Sutawijaya status Mataram berhasil diubah dari Kadipaten menjadi sebuah Kerajaan. Beliau menjadi raja pertama Mataram Islam dan bergelar Panembahan Senopati. Dengan keraton dan pusat pemerintahan di Kotagede.
Setelah wafat, beliau digantikan putranya Panembahan Hanyakrakusuma. Yang kemudian wafat di Krapyak sehingga dikenal juga dengan sebutan Panembahan Seda ing Krapyak, atau Baginda yang wafat di Krapyak.
Mataram Islam mengalami masa kejayaan di masa Sultan Agung, raja ketiga. Luas wilayah Mataram Islam kala itu mencakup hampir seluruh Pulau Jawa dan juga luar Jawa seperti Palembang, Jambi, Banjarmasin, dan Makasar. Di tengah kepemimpinannya beliau membangun Keraton Kerto dan memindahkan ibukota kerajaan dari Kotagede ke sana.
Sultan Agung wafat, dan digantikan putranya yang bergelar Amangkurat I. Di bawah kekuasaanya ibukota kerajaan kembali dipindah. Ia membangun keraton Plered dan memindahkan pusat pemerintahan Mataram Islam ke sana. Ia dikenal sebagai raja kejam yang sering melakukan tindak kekerasan. Juga tak segan membunuh keluarga sendiri jika berbeda jalan dengannya. Di masa itu Mataram Islam mulai mengalami kemunduran yang cukup besar. Muncul banyak pemberontakkan dari luar maupun dari keluarga. Dan yang paling besar adalah pemberontakan Trunojoyo. Trunojoyo berhasil menguasai kerajaan hingga membuat Amangkurat I hidup dalam pelarian hingga akhir hayatnya.
Selepas itu, anak beliaulah yang meneruskan Mataram Islam dengan gelar Amangkurat II. Tapi, Amangkurat II tidak meneruskan tahta Mataram Islam di ibukota kerajaan Plered melainkan membangun keraton baru di Kartasura. Meski masih meneruskan tahta Kesultanan Mataram Islam, Amangkurat II melanjutkan pemerintahannya dengan nama baru, yaitu Kasunanan Kartasura.
Keraton Kartosura sekarang sudah berubah fungsi menjadi makam. Potongan tembok benteng dari susunan batu bata merah dengan lebar hampir dua meter yang mengelilingi keraton masih bisa dilihat dari jalan raya. Selain makam, ada pendopo kecil, petilasan raja, dan sebuah pohon bernama kleco yang sudah ada di sana sejak Kasunanan Kartasura.
pohon kleco yang sangat langka |
sisa tembok benteng |
Dalam Kesunanan Kartasura ada 5 raja yang memerintah. Mulai dari Amangkurat II hingga Pakubuwono II. Amangkurat II wafat digantikan oleh anaknya, Amangkurat III. Sayang sekali, Amangkurat III digulingkan dan diasingkan oleh pamannya sendiri (adik Amangkurat II) dengan dibantu VOC, yang kemudian bergelar Pakubuwono I. Pakubuwono I wafat digantikan putranya yang bergelar Amangkurat IV. Dimasa ini terjadi banyak konflik saudara perebutan kekuasaan. Setelah Amangkurat wafat IV, ia digantikan oleh anaknya yang bergelar Pakubuwono II.
Perebutan kekuasaan antarsaudara dengan berbagai klaim dan alasan kembali terjadi. Hingga pada 1755 melalui perjanjian Giyanti yang dilakukan oleh 3 pihak Pakubuwono II - VOC - Mangkubumi. Perjanjian ini mensahkan terjadinya palihan nagari, dengan terpecahnya Mataram Islam menjadi dua menjadi, Kesunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Pakubuwono II dan Kesultanan Yogyakarta yang dikuasai Mangkubumi, saudaranya, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubowono I.
Keraton Surakarta didominasi oleh warna putih dan biru terang. Tembok-tembok tinggi menjulang yang mengelilinginya masih terbentang dengan sangat jelas. Luasnya keraton ini mencapai 54 hektar. Karena wilayah baru hasil perpecahan kekuasaan Mataram Islam tidak diperbolehkan membangun keraton/istana yang lebih besar dari sebelumnya, maka luas Keraton Surakarta paling besar dibandinkan Keraton Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman.
Keraton Surakarta |
Keraton Surakarta |
tembok benteng Keraton Surakarta |
Seperti putri-putrinya yang terkenal berparas ayu, Pura Mangkunegaran nampak begitu manis. Duduk di pendopo terbesar senusantara yang dimilikinya memberikan aura nyaman dengan bonus angin segar yang menerpa wajah. Bagian dalam yang dipenuhi tanaman hijau memberi kesan sangat asri.
Pura Mangkunegaran |
Bagian dalam Pura Mangkunegaran |
Bagian dalam Pura Mangkunegaran |
***
Empat
wilayah lanjutan dari tahta Mataram: Kasunanan Surakarta, Kasultanan
Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman masih menunjukkan
eksistensinya hingga sekarang. Meskipun, dalam perjalanan
pemerintahannya, masing-masing juga tidak lepas dari konflik. Namun
demikian kita patut merasa beruntung, dengan bertahannya keempat wilayah
trah Mataram ini kita bisa menikmati secara langsung berbagai budaya
peninggalan Mataram Islam yang terbagi dan dilestarikan oleh mereka.
Baik berupa tarian, bangunan, ajaran hidup, upacara adat, dan juga
peninggalan lainnya.
Namun kita juga harus mengambil pelajaran lain dari peradaban ini. Mataram
Islam awalnya berdiri dan berkembang dengan sebuah cita-cita bersama
untuk menyatukan dan memajukan wilayah-wilayah. Namun, pada akhirnya
keinginan untuk saling berkuasa membuat penerusnya lupa cita-cita utama
yang berimbas pada perpecahan. Terjadi pembunuhan dalam keluarga karena
kecurigaan untuk digulingkan. Antar saudara saling bertikai karena
masing-masing merasa layak untuk berkuasa. Tidak jarang semua ini
menimbulkan perang yang berdampak buruk bagi masyarakatnya.
Nusantara
bisa belajar banyak dari ini. Bahwa memajukan bangsa membutuhkan kesadaran
untuk kembali menyatukan cita-cita dan tujuan bersama. Jangan sampai
ikut larut dalam pertikaian kekuasaan yang justru bisa memecah-mecahnya
kembali.
***
Mengurutkan sejarah yang kadang memiliki berbagai versi cerita kadang memberikan kebingungan. Mana yang benar, mana yang salah. Mana yang realita dan mana yang mitos belaka. Meskipun demikian menyusun potongan-potongan cerita yang hadir dalam sejarah memang bisa memberikan kepuasan tersendiri.
Terimakasih malam museum. Berharap semakin banyak kegiatan sejenis untuk meneluri jejak-jejak peradaban di nusantara kita yang kaya ini :)
Salam,
K