SLIDER

Yang Hangat dan Memikat di Pasar Rakyat

Sunday, 9 February 2020 | 6 comments

Setiap weekend saya dan keluarga biasanya main keluar. Tapi, karena weekend ini Mas Bojo ada rencana keluar kota, kami sepakat untuk jalan-jalan di hari Jumatnya. Lhah kok, kebetulan malem sebelumnya Mas Bojo nemu iklan acara Pasar Rakyat di Instagram @plutjogja. Jelas, saya langsung mau, waktu tahu pasarnya menjual produk-produk lokal UKM (Usaha Kecil dan Menengah). 

Sebagai pelaku usaha, saya dan Mas Bojo suka mendatangi acara-acara seperti ini. Buat kami menarik banget bisa melihat produk-produk lokal. Kadang menemukan yang aneh, unik, otentik. Kok bisa ya? Ih Bagus ya? Kalau gemes banget, ngga sanggup pisah, dan duit cukup, ya dibeli. Kalau pun ngga, cukup lihat-lihat aja udah bikin bahagia hehe :)
 ***
Jumat siang, kelar Kinan pulang sekolah dan istirahat, kami berangkat ke Pakualam. Lokasi penyelenggaraan Pasar Rakyat ini di Alun-alun Sewandanan  Pakualam.

Karena Mas Bojo belum makan siang, sampai di sana, yang pertama kami telusuri adalah stan makanan. Pilihan Mas Bojo jatuh pada seporsi nasi, jangan ndeso (sayur tempe dan cabai hijau bersantan khas Wonosari), dan  tahu bacem dari stan yang dijaga seorang ibu ramah berbaju warna kunyit.
Sepiring Sego Jangan Ndeso + Tahu Bacem. Maknyuss
Ngga sekalian wader gorengnya buat tambahan lauk, Mba," ibu itu kembali menawarkan.

"Wah mau, Bu," sambut saya girang karena bertemu makanan kesukaan. 

Sembari menunggu Mas Bojo makan, saya ikut nyemil wader."Bu, wadernya enak dan bersih ya" puji saya. Bu Sari, nama ibu berbaju kunyit itu, membalas bahwa beliau selalu berusaha menjaga kualitas wader yang diolah. Meskipun ukuran ikannya kecil, tapi kotorannya dibersihkan satu per satu. Pantas saja, wadernya lebih ringan ketika dikunyah dan tidak ada rasa sedikit pahit yang biasanya saya kecap. Rupanya karena isinya dibersihkan. Salut loh. Karena ngga semua wader yang dijual dipasaran seperti ini. Murce pula. Sebungkus Rp10.000,- aja. 
Bersama Bu Sari
Waderku sayang
Membeli Produk Tanpa Uang
"Ini apa, Bu Sari?" tanya saya sembari memegang benda berat yang dibungkus rapi dengan daun janur kering.

"Itu gula aren dari Bengkulu, Mba" jawabnya. 

"Oh, ibu membeli dari Bengkulu?" sahut saya.

"Ngga, Mba, saya ngga beli tapi barter dengan UKM lain"

Gula Aren
Saya sempat mengernyitkan dahi. Barter? Hari gini? Saya memastikan karena takut salah dengar.  Ternyata, ngga salah. Setelah diceritakan saya baru paham. Rupanya yang dijaga Bu Sari ini adalah stan kumpulan UKM dari Gunung Kidul yang tergabung dalam Perwira (Perhimpunan Pengusaha Perempuan Indonesia). Anggota Perwira sendiri tersebar seantero Indonesia. Karena berada dalam naungan yang sama, unsur kepercayaan dapat tercipta hingga bisa melakukan barter di antara anggota. Jadi, Perwira cabang Gunung Kidul diminta mengirimkan Krecek Telo dan Patilo (Pati Telo) ke cabang Bengkulu. Sebagai barternya, mereka mengirimkan hasil produksi Gula Aren. Jadi, masing-masing bisa memasarkan produk yang diinginkan tanpa harus membeli dengan uang. 

Yang diproduksi Perwira Gunung Kidul bermacam-macam, mulai dari makanan, craft, maupun fashion. Namun yang dibawa sekarang lebih ke kuliner, seperti emping, bawang goreng, wedang uwuh, gatot kering yang sudah dipasarkan ke Birma, dan tepung gerut yang cocok dikonsumsi orang yang punya maag. 
Kisah Hangat: UKM Membantu Mengurangi KDRT 
Bu Sari cukup fasih menjawab banyak hal karena beliau adalah pengurus utama DPC Perwira Gunung Kidul. Cabang Gunung Kidul  menaungi 9 Kecamatan dengan jumlah anggota sekitar 900 orang.

"Ternyata banyak juga ya, Bu perempuan di Gunung Kidul yang punya UKM," ucap saya. 

"Awalnya kami juga melakukan pembinaan, Mba. Salah satu fokus kami berupaya mengurangi KDRT," sontak saya semakin mendekat ketika mendengar pernyataan ini. Beliau lantas menceritakan kisah yang terjadi di dalam anggotanya sendiri."Istri-istri itu lihat (gaya hidup) di TV/Handphone, kemudian pengen dan menuntut suami. Padahal suami hanya buruh serabutan." Hal ini menurut Bu Sari yang kemudian memicu terjadinya cekcok dan berujung pada tindakan KDRT. Korban KDRT ini bisa istri atau pun suaminya. Beberapa kasus, jika tidak kuat mental, bahkan memicu tindakan yang lebih jauh lagi.

Era sekarang dimana gaya hidup modern terpampang dengan jelas di layar TV maupun gadget membuat siapa saja mudah mengaksesnya, setiap hari, setiap waktu. Tanpa sadar, meski hanya melihat, kita sang penonton juga menjadikannya acuan, dasar, bahwa standar gaya hidup wajarnya kurang lebih seperti itu. Saya sendiri kadang seperti itu.

"Lantas sekarang seperti apa, Bu perubahannya?"

Meskipun isu KDRT sangat luas dan menyangkut berbagai faktor, namun Bu Sari menyoroti yang sudah terjadi dalam kelompoknya. Ada imbas positif yang terjadi. Dengan memiliki usaha dan mendapat penghasilan tambahan sendiri, para istri ini bisa memenuhi keinginannya. Tuntutan kepada pasangan menurun. Cekcok terkendali. Imbasnya, KDRT ikut berkurang. Mereka juga lebih jarang menghabiskan waktu untuk ngerumpi seperti dahulu dan bisa membeli apa yang diinginkan dengan uang tersebut. "Sekarang bisa beli alat untuk bersolek, Mba. Bisa dandan dan berpakaian rapi saat pertemuan. Saya senang sekali" lanjut beliau. Saya tanpa sadar ikut trenyuh dan senang mendengarnya. 

Selain itu, Bu Sari menambahkan bahwa ada pula anggotanya yang kini bisa kembali mengasuh anak berkat UKM. Dengan memiliki UKM ia bisa bekerja sembari menemani anak di rumah. Setelah sebelumnya ybs menjadi ART di luar kota dan terpaksa menitipkan pengasuhan anak kepada neneknya
 ***
Tapi, sistem produksi sebagian besar anggotanya memang tidak rutin setiap hari, ungkap Bu Sari. Misalnya, di musim tanam seperti sekarang ini, produksi mereka mandeg. Para istri ikut membantu nggarap sawah bersama suami. Setelah selesai musim ini, baru mereka kembali melakukan prouksi. 

Hal pemasaran, menjadi salah satu tanggungjawab Bu Sari dan pengurus lainya. Biasanya dijual dari mulut ke mulut, kepada rekan, kenalan, maupun kerjasama formal, dll. Jika ada yang berminat, seluruh produk UKM-nya juga bisa didapat di-showroom mereka yang bernama Griya Pohung, letaknya di Trimulya, Kepek. Di luar itu mereka juga sangat terbantu dengan event seperti Pasar Rakyat yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Acara seperti ini dapat mempromosikan produk mereka ke khalayak ramai. Juga menjangkau masyarakat yang mungkin belum tahu, seperti saya ini.

Sebelum pamit berkeliling, saya menarik bungkusan wader lagi. Siapa sangka bungkus pertama sudah hampir habis karena Mba Kinan juga doyan.
***
Saya kemudian mampir ke stan minuman yang dari tadi menarik perhatian karena namanya Japemete. Langsung inget bahasa prokem Jogja, Japemethe = Cah'e Dewe!(temen sendiri).
Es Teh Leci. Super Suegeeer.
Minuman utamanya sebenarnya kopi. Tapi karena sedang puasa kopi, saya pilih minuman kesukaan saya yang lain, Es Teh Leci. Untung ngga salah pilih. Tehnya terasa, ada biji selasihnya, ngga lupa glundungan leci di dalamnya. Biasanya dimakan terakhir, buat gong haha. Makin mantab karena harganya Rp10.000,- aja. Mba Kinan ikutan beli, suka juga dia. 

Ohya, kata Mas Ahmad, yang melayani, selain di pameran, gerainya ada di daerah Gambiran, Prawirotaman, dan Kemetiran. Kalau penasaran bisa intip IGnya @japemete_jogja
***
Masih ada satu stan lagi yang wajib saya kunjungi, yaitu stan perkainan. Karena biasanya saya luamaak di sini. Mas Bojo dan Mba Kinan sempat jalan sendiri buat jajan-jajan. 

Stan fashion Pasar Rakyat kemarin didominasi ecoprint. Memang, beberapa tahun terakhir ecoprint ini sedang naik daun dan menggeliat di pasaran kita. Jadi hampir di setiap pameran kain/fashion cukup terlihat menonjol. Tentunya ecoprint bisa mendapat hati di pasaran karena memang memiliki pesona yang juga istimewa. 

Saya betah melihat kain-kain dari cetakan tumbuhan asli baik daun, tangkai, bunga, maupun kayunya ini. Tekstur yang tercipta serta guratan yang terbentuk dari setiap bahan-bahan yang digunakan memunculkan perpaduan hasilnya memikat.  

Stan ecoprint milik Erna Herawati dkk ini cukup beragam karena tidak hanya dikain, tetapi juga ecoprint di kulit yang dibuat dompet dan sepatu. Unik ya. Saya sempat mencoba salah satu sepatu yang menarik. Bahannya enak dipakai. Cuma sayang, ukurannya kekecilan. Harga sepatu-sepatunya tersebut Rp350.000,-. Sayang, tidak tahu banyak info tentang produknya karena penjaga sedang kosong (istirahat sholat).
shawl-shawl
galau
sepatu-sepatu ecoprint
yah, kekecilan satu nomor
***
Di stan milik Shibori Hati (shibori & ecoprint) saya sempat ngobrol sebentar dengan pemiliknya, Bu Ratmiyatik. Selain kain, beliau juga menjual kaos ecoprint. Tapi yang membuat mata saya sejak awal melirik stan ini adalah karena kain ecoprint putih dengan warna daun hijau. Manis yaaa. Tapi jadi galau karena melihat kain lainnya yang berwarna peach. Meskipun sama-sama ecoprint tapi teknik perwarnaan kedua kain ini beda. Kain yang putih ini pakai teknik pounding, dipukul-pukul dengan palu kayu, sedangkan yang peach pakai teknik steam, dikukus dalam pewarnaannya.
Bagus yang manaa? :D *kode mas bojo*
Bu Ratmiyatik ini dahulunya penjahit, sebelum mulai terjun diusaha shibori & ecoprint. Karena itu beliau juga menjahit kain-kainnya untuk dipasarkan. Kadang lebih cepat dijual setelah jadi baju, menurutnya. Wah, kalau ini namanya dua skill yang saling menguatkan. Ngga ada drama, antara penjahit dan pemakai jasa (curhat), karena satu orang :')

Selain memproduksi dan memasarkan, Bu Ratmiyatik  juga membuka workshop secara privat kepada siapa pun yang ingin belajar teknik ecoprint. Biayanya kurang lebih 400 ribu, tergantung pilihan kelas yang ingin diambil. Semua alat dan bahan disediakan. Pembelajar tinggal datang, mendapat ilmu, dan pulang dengan membawa hasil karya. Jadi, bagi yang tertarik untuk belajar bisa menghubungi Shibori Hati di 0889-0287-9007 (nomor dicantumkan atas permintaan & persetujuan beliau).
***
Stan-stan Pasar Rakyat
Ada bermacam-macam produk lokal UKM yang dijual, mulai dari asesoris, kerajinan kulit, kain-kain (batik, shibori, ecoprint), makanan, kopi, dan teh. Produk-produknya memang lokal dan merakyat, namun kualitasnya mengglobal. Tidak ada ruginya berkunjung ke pameran UKM seperti ini karena kadang kita bisa menemukan apa yang dicari dan tidak ada di toko umum. Bahkan mungkin menemukan barang yang kita inginkan dengan harga yang lebih murah. Hanya melihat-lihat dan mencari inspirasi juga dibolehkan. Bisa saja sisi kreatif kita jadi tercolek dan akhirnya tergali.

Saya sendiri, setelah mendengar kisah dari stan para wanita UKM dari Gunung Kidul merasa tertampar dan diingatkan bahwa di luar sana ada mereka yang perlu berjuang mendapatkan hal-hal yang mungkin saya tidak perlu memperjuangkannya. Di sisi lain, hati saya juga terasa hangat mendengar hal-hal positif yang didapat mereka setelah berhasil memberdayakan kemampuannya. Semoga UKM yang  mereka kelola semakin berkembang dan meningkat hingga memberi dampak yang jauh lebih menyejahterakan dari yang sudah didapat sekarang.  

Selain itu, saya juga senang karena bisa membeli atau sekadar melihat produk-produk yang memikat lidah dan mata. Ngga bisa beli semua yang sih. Tapi, untung saja saya catat IG/sosial media mereka. Jadi, meski Pasar Rakyat sudah selesai, tetap memungkinkan saya untuk bisa membelinya *lirik manis ke Mas Bojo*. 
 ***
Yang  belum sempat ke sana? Rajin cek Instagram @plutjogja dan @diskopukm.diy ya, buat info  up-to-date seputar pameran UKM semacam ini :)




Salam Hangat, 


K

© People & Place • Theme by Maira G.