Seni Menunggu dan Era Digital

Monday, August 15, 2016 qhachan 11 Comments

Alam nyata memang nampak sederhana dibandingkan alam digital yang nampak modern

***

Waktu kecil keluarga saya pernah menjalani LDR sekitar 3 tahun lamanya. Saya, ibu, dan kakak-kakak saya tinggal di Jogja  sedang Bapak bekerja di kota lain yang cukup jauh. Otomatis saya dan Bapak tidak bisa bertemu setiap hari.  Beliau pulang sekitar 1-2 minggu sekali. 

Rupanya garis hidup membuat hal ini kembali terulang di era yang berbeda. Kini, saya dan suami sedang menjalani LDR. Saya dan anak saya yang berusia 19 bulan, K,  tinggal di Jogja, sedangkan suami saya, R, bekerja di kota lain. Kota yang sama dengan tempat Bapak saya bekerja dulu. Bahkan, kesamaan kami tidak berhenti sampai disitu.  Saya dan anak saya menjalani LDR di desa yang sama dan rumah yang nyaris sama persis. Karena rumah yang saya tempati sekarang berada tepat di samping rumah yang keluarga saya tinggali dulu :')

Namun ada perbedaan yang cukup signifikan antara saya dulu dan K sekarang ketika menjalani LDR. Terutama dalam komunikasi. Saya ingat betul sebagai anak paling kecil saya yang paling sering menanyakan Bapak saya. Sedang kakak-kakak saya yang terpaut cukup jauh sudah cukup paham dengan situasi LDR. Karena itu saya harus selalu ikut kalau Ibu saya pergi menelpon Bapak di wartel. Iya, di desa saya kala itu memang belum dilewati jalur telepon (eh, sampe sekarang, ding!). Jadi, kami harus jalan kaki ke wartel di desa sebelah. Jadwal menelpon Bapak biasanya sekali - dua kali seminggu tergantung kepentingan dan juga tingkat ke-kangenan kami hehe. Juga tergantung uang kayaknya deh. Soalnya interlokal kan, mahal! :((

Dan sekarang? di era digital ini. Komunikasi lintas jarak benar-benar dipermudah. K dan bapaknya memang LDR. Tapi semenjak bangun tidur sampai mau tidur lagi bapaknya bisa tahu segala macam hal yang dilakukannya. Tanya "Makan apa?" (cekrak cekrek! kirim). Bapaknya pun tau. "Pake baju apa?" (cekrak cekrek!kirim). Bapaknya pun lihat. "Main apa?" (videoin! kirim). Bapaknya bisa liat  adegan plus ekspresi anaknya dengan sejelas-jelasnya. 

Belum lagi ada fasilitas skype, whatsapp, dll yang mendukung  face time-an. Bisa ngobrol sambil saling liat dan saling tahu sedang apa, di mana, ngapain, sama siapa. Dipermudah banget ya?. Untuk segala kemudahan yang ada, saya cukup bersyukur berada di era ini ketika harus menjalani LDR :')

Di luar rasa syukur saya sekarang, ada hal lain yang saya rindukan dari era LDR saya di masa kecil...
Ada beberapa hal yang saya ingat sendiri, dan beberapa hal yang diingatkan oleh Ibu saya. Dulu, jika saya agak rewel karena kangen dan tak henti menanyakan Bapak, Ibu saya selalu mengalihkannya dengan mengajak saya melakukan banyak hal. Sebut saja  itu 'seni menunggu'.

Mulai dari mengajak memanen buah ciplukan di sawah sebelah rumah. Diajak metik buah menteng, jambu, sawo. Gali-gali pasir dan tanah. Main-main air di sungai kecil dekat rumah. Atau ngintipin kalkun punya Pak lik. Dan hal lainnya. Hingga akhirnya saya teralihkan dan asyik beraktivitas.

Berbeda dengan sekarang. Jika kangen Bapak, meski tidak bisa langsung mendatangkannya, K bisa dengan mudah menghubunginya.  

Jika mengingat apa yang saya alami dulu rasanya ingin sekali mengenalkan romantisme 'seni menunggu' padanya. Bukan sekadar  untuk mengisi waktu menunggu sebenarnya. Namun juga untuk mengingatkan pada diri saya sendiri, bahwa ada PR untuk mengeksplore dan mengenalkan lingkungan sekitar padanya. Bahwa ada berbagai pelajaran dasar penting yang perlu ia tahu dari alam nyata yang nampak sederhana. Sebelum ia mendarat  di alam digital yang nampak modern dan mutakhir itu.

sawah ujung desa
K
Bukankah saya masih cukup beruntung? Meskipun desa ini sudah cukup berubah karena pembangunan. Namun masih ada alam yang belum seutuhnya termodernisasi dan masih bisa dinikmati. 

Semoga bisa memberikan banyak waktu bagi K untuk lebih mengenal alam. Sebelum kelak benar-benar menemani dan  mengantarkan menyambut  "alam digitalnya".

Salam,


Kachan
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*terinspirasi dari tulisan mak Indah Juli "Internet, Anak, dan Orang tua" dalam rangka KEB  Collaborative Blogging

11 comments:

  1. Iya ya mak... betapa kehidupan generasi zaman dulu itu beda sama zaman anak sekarang. Dulu mau menelepon aja harus mendaki gunung, lewati lembah. Kalau sekarang, tinggal pencet handset di genggaman. Semangat LDR, mak! ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaa bener. makasih yaa. semangaaat ;D

      Delete
  2. Aaah teringat jaman kuliah. Pacar telponnya jam 11 malem biar dapat diskon. Telpon kos2an ditaruh diruang keluarga ibu kos. Nggak bisa sayang2an.

    ReplyDelete
    Replies
    1. buahahahahaaa....ga kebayang yg diobrolin trus apa ;p

      Delete
  3. Seni menunggu itu juga kita alami pada masa 'surat-suratan' lebih populer dari 'telfon-telfonan' ya mak. Menunggu kabar bisa lebih lama waktu itu. Jadi kita menyibukkan diri dengan beli kartu-kartu ucapan untuk dikirim, kertas-kertas yang wangi juga nungguin pak pos ke rumah :D #eh kita sezaman nggak sih ^^

    Asik memang kalau tinggal di lingkungan yang masih hidup ya mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaaaa enggaaa mak *kabooor*
      dulu cuma ngamatin kakak2 sih hihi....yang sibuk surat2an dengan kertas yang harum2 haha

      Delete
  4. Duh,
    merasa jleb banget baca postingan ini lhooo...
    Jaman berubah, sekarang era digital dan semua serba cepat hampir bisa dibilang instan.

    Bener banget ini tulisannya, kita jadi hampir lupa esensi dari kata sabar dan menunggu karena semuanya serba dimudahkan yaaah..

    Ow em ji, udah lama banget gak denger kata wartel hahaha..
    *tukang ngumpulin koin buat nelfon ke radio buat minta lagu lewat telfon umum*

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaaa bener. saya sendiri skrg jadi kurang sabaran kalo nunggu :(

      haha wartel idola setelah telpon umum memudar XD

      Delete
  5. Setuju banget sama tulisan ini mba. Terkadang perubahan zaman membuat saya rindu dengan masa lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa. tp masa lalu memang bisanya dirindukan ya :D.

      Delete
  6. Hihihi..iya yak..dulu suka ga sabar nunggu2 pak pos...nunggu surat.

    ReplyDelete