SLIDER

[ Tea and Koffie ] Jendela Pengintai



Pada sebuah janji di hari itu, aku datang lebih dulu. 

Bangunan bergaya klasik eropa yang aku datangi menyambutku dengan cukup baik. Ada perasaan hangat ketika mula-mula sampai di sana. Rasa hangat semakin kuat dan menjalar di tubuh ketika melewati jagang, jembatan, dan mulai masuk ke gerbangnya.

Di dalam, aku memilih untuk duduk di bawah sebuah pohon yang berada di taman tengah bangunan. Tempatnya  cukup sejuk menurutku. Setidaknya untuk duduk  dan menunggu.

Orang yang kutunggu datang tak lama setelah aku menyelesaikan buku yang kubaca.

Cukup membingungkan ketika harus menyebutnya siapa. Kenalan? Teman? Teman baik? Sahabat? Ah, konsep ‘teman’ bagiku dan dia memang ambigu. Bahkan konsep pertemanan ini pernah menjadi bahasan cukup panjang bagi kami.

Jika orang yang baru dikenal bisa disebut teman, maka relasi kami lebih dari itu. Jika sebutan sahabat adalah untuk mereka yang saling mengenal sekian tahun melewati berbagai hal bersama. Tentu kami belum bisa disebut begitu.

Terasa rumit? Ah, tidak. Dalam penjelasannya iya namun kenyataannya kami tidak benar-benar pusing dengan konsep ini.

Kami berkenalan secara langsung dalam sebuah situasi khusus sekian tahun lalu. Tidak menjadi dekat namun tidak pernah benar-benar putus kontak. Hingga akhirnya bertemu kembali karena hal random yang diamini satu sama lain.


Kami berjalan mengitari hampir seluruh bagian bangunan. Aku sendiri baru menyadari bahwa tempat ini lebih luas dari yang kukira sebelumnya. Cukup sering aku ke sini namun hanya kebeberapa bagian bangunan –  yang cukup menjadi langganan event seni.

Bagian sisi Selatan bisa dibilang tidak cukup ramai. Terlebih di bagian atas. Hingga memungkinkan kami berbincang-bincang cukup banyak dengan suara keras sekalipun. Tentang kucing, tatto, genetika, makanan, dan tentang perjalanan ke dalam diri. 

gerbang timur – photo by Swesthi Charika


Vrd_01c.jpg
pintu barak – photo by Swesthi Charika
naik dan turun – photo by Swesthi Charika


jatuh namun tumbuh, di atas – photo by Swesthi Charika
_

Di sisi Tenggara bagian atas kami mulai khusuk dengan dunia masing-masing.

Aku berjalan mendekati sebuah bangunan berbentuk tabung yang memiliki jendela-jendela kecil melingkari sisi atasnya. Dalam jarak 5 meter dengannya kuhentikan langkah.


menatap bastion – photo by Swesthi Charika


Kutatap lekat-lekat bastion di depanku. Kuamati jendela pengintai yang memutarinya. Kotak-kotak itu – yang  menjadi lubang untuk melihat situasi di luar sana. Seperti sigap mewaspadai setiap hal yang nampak di luar untuk melindungi diri.

Namun, jangan terlalu lama melihat keluar karena sebaik-baiknya perlindungan adalah pengintaian ke dalam dirimu sendiri…




Vredeburg, Maret 2016
Salam,



Tea and Koffie  
------------------------------------------------------------------------------------------

Tea and Koffie adalah catatan dan celoteh iseng 2 orang kontradiktif. Seorang penyuka teh yang tidak boleh meminum teh. Dan seorang penyuka kopi yang tidak disarankan meminum kopi.

24 comments

  1. Hiiks fotonya ga kebuka dari browserku, padahal penasaran banget.. penasaran liat foto karena gaya tulisannya yg kece puool ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mak yoaan. ayo liat fotonya ;p

      Delete
  2. Replies
    1. yg moto fotografer soalnya bukan aku haha XD

      Delete
  3. Iyae, sama ma mak Yoan, penasaran pengin liat fotonya, gak bisa kebuka :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaya. ini kalo aku buka hp fotonya jg ga smua muncul ternyata...

      Delete
  4. Ketagihan ke Vredenburg lagi,apik yaaaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada suatu masa sering bgt janjian sm orang di sini πŸ˜‚πŸ˜‚. karena tengah kota dan adem.

      Delete
  5. Vredenburg....cakep...
    Aku dah lama banget ga maen ke sana.

    ReplyDelete
  6. Cakep amat fotonyaaaaaaa. Ajak aku dong Chan.

    ReplyDelete
  7. Cakeeeepppp...tulisannya indah dan fotonya keceee

    ReplyDelete
  8. Aku suka sama bangunan tua begitu, bergaya Eropa hahahhahaa
    fotonya cakep mb

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeyy samaa. makasih mbaa mei, yg moto emang kece 😊

      Delete
  9. Saya terkesan dengan bangunan tuanya. Terlihat sangat terawat. Suka rada sebel kalau datang ke bangunan tua tapi dibiarin kumuh. Padahal tua kan bukan berarti harus kumuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa. vredeburg emang cukuo terawat :)

      Delete
  10. cantik yaaa bentengnya...aku jadi pengeeen mampir :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, cukup terawat yaa. ayo mampir kalo pulang ke indonesia mbaa :)

      Delete
  11. iya cakep banget tulisan dan fotonya, ngeliat fotonya seakan melihat ke masa vredeburg berjaya... :)

    ReplyDelete
  12. Suka gaya bahasanya. Kayak tulisannya Windry. Pengen belajar juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maak ika makaasih ;)), apa kabar. kangen ih.

      Delete

© People & Place • Theme by Maira G.