sendal jepit & celengan mimpi

Sunday, August 31, 2014 qhachan 6 Comments

Sebelum mengikat janji kami lupa menanyakan pada masing-masing "Apa mimpimu?" 
 
Maka setelahnya kami pun menjalani rutinitas masing-masing, ia di sana, aku di sini. Dia makan ikan, aku makan bacem. Dia  main perahu di sungai, aku mbecak ke Beringharjo.
LDR memuat kami menjalani hari-hari seperti sebelum menikah namun dengan status berbeda. Sampai tiba-tiba angka waktu itu muncul.

Satu tahun berlalu...
Hay Agustus, 
Aku akan berkabar padamu tentang hari yang kami pinta setahun silam darimu. 

R berhasil mendapat cuti di hari penting ini. Meski hanya bisa pulang sebentar, kami sangat bersyukur. Agar tidak menyia-nyiakannya, kami berencana membuat sebuah perayaan 'sederhana'. Makan malam romantis dan juga membeli cake berhiaskan lilin angka 1. Baiklah, anggap ini rencana sederhana dari seorang korban pembaca novel ala teenlit. 
Untuk menambah manis, kami juga sepakat untuk bertukar kado. Harganya harus kurang dari 50 ribu. Deal.

Nyatanya, 
Hari itu kami merayakannya sambil makan siang. Rencana ber-candlelight dinner, cake, dan ritual penghias lainnya dinyatakan gagal belum berhasil. Hiks. 
Ah, tidak apa-apa, bukankah kami sudah dewasa *menetralkan hati*. Toh masih ada satu hal yang sesuai rencana. Tukar kado. Untung saja yang ini sudah kami persiapkan dengan baik. 

Sebelum menyantap makan siang kami saling menukar kado yang sejak beberapa hari sebelumnya  kami sembunyikan. Tak boleh saling tahu. 

Aku dan R membukanya bersama-sama. Dibuka, diintip, ditarik.
Masing-masing, di balik bungkus kadoku, kadonya, ada sepasang sandal jepit, bukan hanya itu, mereknya pun sama.
Kami refleks saling menatap kemudian tersenyum penuh arti.
Belum pernah kami sesama ini sebelumnya.

Saat senja berlalu, ku cari dirimu
Karena ku selalu senang bersamamu
Hingga pagi pun mau, bila oh denganmu
Karena ku selalu senang bersamamu

Apa mungkin diriku tanpamu?
Rasanya semu

Hingga pagi pun mau, bila oh denganmu
Karena ku selalu senang bersamamu

Apa mungkin diriku tanpamu?
Rasanya semu
Apa mungkin dirimu tanpaku?
Ku rasa kaupun ragu

Hingga pagi pun mau, bila oh denganmu
Karena ku selalu senang bersamamu
 
Senang bersamamu.. senang bersamamu

Naif – Senang Bersamamu

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu tahun,

Memang penting saling mengetahui dengan baik mimpi-mimpi pasanganmu sebelum menikah. Tetapi jauh lebih penting lagi menyatukan mimpi dan  membangunnya bersama. 

Sepasang sendal jepit bermerek sama menyadarkan kami akan hal ini...

Bahwa diantara perbedaan ini kami menyimpan kesamaan, karena itu kami harus mulai bersama.
Kami yang semula cenderung menjalani hal dengan ingin masing-masing mulai saling melihat. Memanfaatkan setiap waktu, baik ketika bertemu maupun via telepon untuk berbagi banyak hal, termasuk mimpi-mimpi kami.

Dan salah satu dari sekian mimpi besar kami sekarang adalah,
Kami ingin tinggal bersama, dalam satu atap
Ini impian nyata sepasang suami-istri LDR. Mungkin kami mulai bosan dengan perbedaan tempat dan jarak. Maka, impian kami sekarang adalah ingin punya sebuah rumah untuk kami tinggal bersama tanpa berjauhan lagi. Sebuah rumah idaman di suatu tempat di kota tercinta, Yogyakarta :)

***
Tentang mimpi, saya yakin setiap orang pasti punya mimpi baik terucap atau tidak. Yang membedakan, ada orang-orang yang sekadar membuat mimpinya menjadi angan-angan belaka dan ada yang sekuat tenaga mengusahakannya. 

Dan seringkali ketika melihat orang lain berhasil mewujudkan mimpinya kita hanya bisa gigit jari, atau mungkin berkata 'mereka memang beruntung'. Duh, yuk jangan hanya gigit jari tetapi buat diri kita juga jadi orang yang beruntung, dengan usaha.

Saya dan R percaya bahwa mimpi memiliki rumah idaman, maupun mimpi-mimpi kami yang lain bisa terwujud jika kami mengusahakannya dengan baik. Jadi kami memulainya dengan serangkaian cara. Bagi kami rangkaian cara ini adalah bagian dari proses untuk meraih impian itu sendiri. 

Maka, beginilah cara-cara kami dalam meraih mimpi. Tak ada salahnya untuk membaginya bukan?

Celengan Mimpi, Merangkapnya agar Tidak Pergi


Pernah mendengar tentang pohon mimpi? Kita menuliskan mimpi dalam selembar kertas kemudian menempelkannya di batang atau ranting pohon. Selain itu, ada juga balon mimpi. Dimana kita menuliskan mimpi kita di balon helium dan menerbangkannya.  Prinsipnya sama, dengan menuliskannya diharapkan agar mimpi yang masih berada di angan tertuang keluar dari diri kita. Lebih melekat dan teringat selalu.


Atas dasar itu, saya dan R memutuskan untuk membuatnya, kami ingin memulai aksi awal untuk mengeluarkan mimpi kami dari sekadar angan.  


Namun, nampaknya pohon mimpi agak sulit disimpan, lantas kami ragu memilihnya. Balon mimpi sebenarnya mengasyikan, tetapi kami agak susah mencarinya dalam waktu relatif singkat. Selain itu kami juga takut mimpi-mimpi akan terlupakan seiring terbangnya balon. 

Akhirnya kami memutar otak untuk mencari ide lain. Yang mudah dan tersedia di rumah.

Dan inilah yang kami buat....................... 

Celengan Mimpi : kami cemplungkan mimpi-mimpi di sini :)


Tidak dengan menggantungnya, menerbangkannya, namun menabungnya di dalam celengan. 

Filosofinya: Kami ingin, selain tertulis dan teringat, mimpi-mimpi juga akan terjaga. Bahkan seperti tabungan, mimpi itu juga akan bisa berbunga dan menciptakan mimpi-mimpi lain.
 
Ternyata mengasyikan, kami menangkap mimpi-mimpi yang bersliweran di kepala, menuliskannya, kemudian mencemplungkannya :). Semoga selalu terjaga di sana sampai saat membobol celengan tiba.
 

Menabung, sekeping, selembar, sehalaman :)


Ini benar-benar menabung dalam arti sebenarnya. 
Sebelumnya, masih adakah yang belum punya tabungan? yuk belajar menabung dari sekarang.
Dalam banyak aspek kehidupan menabung termasuk salah satu hal yang penting untuk dibiasaan. Apalagi buat yang sudah berkeluarga sendiri *benerin tas belanja*. Harus bijak mengelola keuangan dan mengatur jalur kebutuhan. 

Kembali ke mimpi kami, membangun sebuah rumah idaman tentunya membutuhkan anggaran biaya tertentu.  Ya, saya dan R menyadari itu. Jadi kami membiasakan diri untuk menganggarkan tiap bulan untuk mimpi kami ini, dari sekarang.

bang bing bung!

Membayangkan, Mencari inspirasi dan informasi

 
Kami mengidamkan sebuah rumah di salah satu sudut kota tercinta, Yogyakarta. Tidak perlu di pusat kota, karena yang penting lokasinya masih terciprat kesejukan. R ingin rumah bertembok bata, saya ingin punya halaman yang luas yang bisa ditanami buah, sayur, dan bunga. R suka gaya rumah kuno, saya tidak masalah, yang penting harus punya perpustakaan yang juga bisa dinikmati banyak orang

Untuk itu, kami jadi sering browsing tentang rumah-rumah idaman untuk menambah inspirasi. Salah satu rumah yang menarik dan menginspirasi adalah #rumahpintu milik mba Ria Papermoon Puppet. Bukan hanya rumahnya yang menarik, namun juga proses mewujudkannya. R bilang dia mendapati tulisan mba Ria bahwa #rumahpintu berhasil diwujudkan olehnya dan suami setelah 7 tahun mereka tinggal di studio. 

hasil intip di http://instagram.com/riapapermoon
Hasilnya, #rumahpintu memang nampak seperti perwujudan mimpi mereka. Kami yang baru saja memulai mimpi ini jadi lebih semangat lagi. 

Bukan hanya mencari informasi tentang rumah atau konsep yang menginspirasi. Saya dan R pun jadi suka mencari tahu tentang harga rumah ataupun tanah melalui situs-situs properti. Dari situs tersebut kami jadi tahu harga pasaran tanah atau rumah di daerah tertentu. Meski dana belum ada, gapapa kan mencari informasi sana-sani. Siapa tahu rejeki tiba-tiba muncul. Saat itu tiba kami jadi bisa segera melancarkan aksi. aamiin.

Rupanya menyelipkan hal-hal seperti ini disela telepon jarak jauh juga bisa jadi hal yang menyenangkan :)

 

Menceritakannya pada orang lain


Seorang teman pernah mengatakan " Jika kamu punya mimpi ceritakanlah pada orang lain. Mereka bisa menjadi penyambung doa bagi mimpimu". Dan yang saya lihat, dua dari mimpi yang pernah diceritakannya pada saya terwujud, salah satunya belum lama ini.

Mungkin dia benar, tidak perlu malu atau takut menceritakan mimpi kita pada orang lain. Dengan menceritakan pada orang lain kita memperbesar frekuensi mimpi-mimpi kita. 

Memang tidak semua orang bisa dengan mudah menceritakan mimpinya pada orang lain dengan berbagai alasan. Namun, setidaknya bagilah mimpi-mimpi yang kamu punya  dengan orang terdekat, pasangan, atau keluarga. Atau bisa juga lewat tulisan, seperti yang sedang saya lakukan ini :)

Jangan Menjadi Akhir, Biarlah Mengiringi : Berdoa

Ketika usaha-usaha sudah dilakukan maka biarkan doanya merajutnya sempurna. Sebenarnya akan lebih baik jika doa ini selalu ada di setiap usaha yang kita lakukan. Dalam setiap niat, awal, proses. Bukan hanya menjadi akhir setelah semua usaha.

Jangan lupa juga untuk selalu berterimakasih pada-Nya akan setiap kesempatan untuk bermimpi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekarang saya masih tinggal di pondok orangtua sejahtera, R di pulau seberang. Masih berjauhan tapi sudah bermimpi bersama. Selangkah demi langkah kami sedang berproses mewujudkan mimpi-mimpi kami. Pasti akan tercapai pada saatnya nanti.

Semoga sharing di tulisan ini juga bagian dari usaha menarik semesta untuk mewujudkannya. aamiin.

Dan untuk R, selamat melewati satu tahun pertama, love you :)
Salam, 



Qha



ps : makasih che, buat candy machine nya :)
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

6 comments:

  1. Sangat inspiratif....sukses ya mbak...

    ReplyDelete
  2. ceritanya sederhana, tapi mengena :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh tersanjung maak, mungkin krn nulisnya sambil tersedu inget suami di pulau seberang kali ya:’)

      Delete
  3. semoga segera menyatu dalam satu atap ya, mba. :)

    ReplyDelete
  4. aamiin, makasih mbaaa Ila :)

    ReplyDelete