chemistry: buku rasa jodoh

Saturday, August 30, 2014 qhachan 8 Comments

"Kalau kamu bisa membaca buku ini 3 kali sampai tamat Bapak traktir 'sesuatu' ", ujar Bapak sembari menyodorkan buku bersampul cokelat lusuh. Bukan buku asli nampaknya. Sebuah fotokopian. 

"Okeeee", jawabku bersemangat. Tanpa ada pertanyaan lebih lanjut kuambil fotokopian bersampul cokelat itu. Kubawa ke kursi depan sambil buru-buru ingin membacanya. Padahal Bapak ngga memberikan tenggat waktu. 

Setelah kubuka. Rupanya itu adalah buku tentang alam dan kehidupan bawah sadar. Kalau sekarang aku mengetahuinya sebagai salah satu ilmu Psikologi. 

Umurku 8 tahun.
Tamat membacanya 3 kali selama 2 hari. Dilanjut diskusi dengan Bapak. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Begitulah, semenjak kecil saya membaca berbagai buku. Buku psikologi, agama, ekonomi, bisnis, majalah ibu-ibu, koran pos kota, kompas, komik. 
Sampai saya  mengalami wajib baca sebelum tidur yang baru bisa berhenti ketika kuliah. 

Jadi, apa saya suka baca? Saya suka dan butuh. 
Ada berbagai pertimbangan dalam membeli buku. Yang pertama chemistry. Kadang sebuah buku rasanya memang berjodoh dengan saya. Biasanya saya menikmati pencarian dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Menelusuri rak, tumpukan buku, memilih satu per satu sampai akhirnya merasa menemukannya. Dan ketika menemukannya rasanya sangat bahagia. Serius.

Penulis ternama. Conan Doyle, Agatha Christie, Enid Blyton, Mitch Albom, JK Rowling, Haruki Murakami, Dan Brown, Jostein Gaarder, Meg Cabot, Sapardi Joko Damono, Pramoedya Ananta Toer, Dee Lestari, beberapa dari sederet nama yang karya bukunya selalu menjadi incaran pembaca, termasuk saya. Bahkan bila salah satu bukunya tidak sebaik buku lain, orang cenderung akan tetap membelinya. Penulis yang sudah memiliki nama memang bisa membuat pembaca lebih dari ingin membaca bukunya melainkan juga mengoleksinya.

taukah, siapa beliau?

Yang jadi pertimbangan selanjutnya adalah rekomendasi. Buku yang direkomendasikan dan sedang jadi perbincangan dimana-mana biasanya juga menjadi sasaran saya. Entah karena isinya menarik, kontroversial, berbeda, dan sebagainya.

Butuh. Biasanya menyesuaikan dengan apa yang sedang saya alami. Ketika kuliah, saya menyisipkan membeli buku yang berkaitan dengan psikologi. Saat berencana traveling, saya akan mencari buku yang bisa membantu. Untuk sekarang ini saya membeli buku memasak & merajut (pencitraan hehe). 

Yang terakhir, karena impulsif. Iya, jika sudah seperti ini berbagai pertimbangan yang lewat sesaat bisa langsung dijadikan alasan untuk membeli buku. Karena sampulnya unik, judulnya menarik, bentuknya berbeda, warnanya eye catching, nama penulis tak biasa. Segala macam alasan diiyakan yang penting kantong belanja terisi. Ini terjadi biasanya ketika membeli buku saat habis gajian atau mendapat uang *dilirik suami*.


Banyak yang mempertanyakan sebenarnya apa hal krusial yang tengah dialami dunia penerbitan dan buku di Indonesia. Lagi-lagi bukan satu dua hal menurut saya, dan tentunya saling terkait: 

Minat baca yang masih rendah. Membaca di negara kita belum jadi kebutuhan setiap orang. Untuk soal ini yang bisa membantu menggalakkan tentu kerjasama semua, antara organisasi yang menaungi penerbit, penerbit, pemerintah, maupun kelompok-kelompok yang concern terhadap dunia baca tulis. 

Minat baca yang rendah nyatanya juga sejalan dengan daya beli masyarakat yang rendah terhadap buku. Pada sebagian orang buku masih menjadi barang mahal. Yang mungkin pada kenyataannya memang demikian jika dibandingkan dengan pendapatan orang tsb. Hal ini akhirnya menjadi masalah sendiri. Laju penerbitan yang ingin berkembang pesat terhalang oleh daya beli yang rendah.Akhirnya penerbit cenderung lebih banyak memproduksi buku yang disukai pasar.

Selanjutnya masalah konten. Masih ditemukannya konten yang tidak sesuai dengan usia. Masih ditemukan penerbit yang nakal melanggar aturan soal konten, baik karena konten tersebut berbau kekerasan, SARA & pornografi, maupun buku yang sebenarnya tidak boleh diterbitkan karena melanggar kode etik keilmuan tertentu. Dalam hal ini tentu yang butuh diingatkan adalah penerbit, dan salah satu  yang bisa mengingatkannya juga adalah organisasi yang menaunginya.

Semoga lebih baik untuk semua,  
Salam




Qha

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

8 comments:

  1. Aku jadi ingat masa kecilku dulu juga suka baca buku2 milik papaku.. Kebetulan beliau guru bahasa Indonesia..beliau byk memiliki buku2 sastra utk menunjang pekerjaannya. Buku2 sastra karya Nh.Doni, Sutan Takdir Alisyahbana..sering kulahap hingga tuntas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga melahap ini pas SD maak :)
      meski sebenarnya ada beberapa konten yang blm sesuai hehee

      Delete
  2. Replies
    1. Hahaa maaak, iya bener. ini bagian dr pertimbanganku kalau pas impulsif :)
      ambil yang kavernya oke ..

      makasih mak arin udah mampir, salam kenal :*

      Delete
  3. duh,aku suka novel mbak apalagi kalau novelnya mengenai perjalanan kisah cinta atau perjuangan hidup seseorang hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. terus kalau liat novel semacam itu jadi ga kuat iman buat beli yaa :D

      salam kenal Mba Titis :)

      Delete
  4. Ya ampun Mak, umur 8 tahun udah baca buku psikologi????? *nangis
    Aku pernah berkali-kali terkecoh sama penulisnya mbak, seperti Paulo Coelho dan John Grisham. Gak semua novel mereka bisa kucerna dengan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga juga sih, mak. bacaan kita kan salah satunya juga dipengaruhi lingkungan sekitar hehee..
      efeknya sekarang lbh suka buku ringan, anak agak bosen baca yang berat2 ;p. Hehe iyaa, tulisan mereka memang dicerna secara khusus, tapi kadang setiap pembaca punya 'insight' masing2 lho baca buku mereka :)

      Delete