SLIDER

ullen sentalu museum

Namanya cukup menarik perhatian sedari pertama kali mendengarnya. Sempat terpikir apakah nama tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuno atau apa. Ternyata Ullen Sentalu berasal dari ULating BLencong Sejatine Tataning Lumaku yang memiliki arti pelita hidup bagi perjalan manusia. Ullen Sentalu adalah museum yang menampilkan seni & budaya (Kasultanan Ngayogyakarta, Puro Pakualaman, Kasunanan Surakarta , Puro Mangkunegaran). Daya tarik utama ullen sentalu terletak pada kepiawaian menampilkan sosok para putri dari 4 keraton tersebut. Ruang-ruang khusus dibuat untuk mengisahkan kepandaian, kecantikan,pandangan hidup, dan juga kisah cinta mereka dibalik tembok keraton.

Museum yang berlokasi di Jalan Kali Boyong, Kaliurang ini  didirikan oleh Keluarga Haryono dan diresmikan tahun 1997. Beliau bukan keturunan keraton melainkan seorang pengusaha yang memiliki ketertarikan pada budaya Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Di bulan April lalu, akhirnya saya berkesempatan untuk menilik langsung museum ini bersama dengan 2 sahabat saya dari Batavia yang sedang berkunjung. Jangan sampai salah ya, museum ini buka di hari Selasa-Minggu dan libur di hari senin

Begitu sampai di depan museum, akan nampak sebuah jendela kecil yang bernuansa kolonial dengan terali besi dan dibaliknya ada sesosok Pria yang berusia 7O-an dengan wajah bersih dan pakaian rapi. Ramah dan bersahaja, itu kesan yang saya dapat dari Bapak di loket. Setelah itu  kita akan disambut oleh beberapa orang yang telah berjaga di sebuah pintu, mereka adalah guide yang akan membimbing kita selama berplesir di dalam museum. 
Ups lupa,  ada perubahan harga tiket, jadi jangan terkecoh. Saya sempat membawa KTM dengan harapan mendapat potongan harga, yang ternyata sudah tidak berlaku. Hughs.Melihat ini saya jadi merasa senang termasuk dalam penduduk lokal :D
Admission Fee : 
International Rp.50.000 ( Minimum for 2 Persons)
International student Rp.50.000
Adult Rp.25.000
Local Student Rp.25.000


Aturan awal yang langsung di terapkan oleh guide saat itu adalah ‘NO CAMERA’. Saya awalnya memang sudah tahu tentang ini, tetapi ternyata ketika kita sudah menginjakkan kaki di pintu masuk dan mulai melihat sambutan pohon-pohon serta tanaman yang berlumut dengan kesan natural membuat hasrat untuk mengabadikan memang sangat besar. Akhirnya saya menyiapkan kamera terbaik yang telah saya siapkan, yaitu membuka lebar-lebar semua indra yang ada untuk menikmati bagian-bagian dari tiap bangunannya:
Ruang Seni Tari dan Gamelan
Berisi Lukisan, Gamelan dan beberapa patung. Lukisan yang cukup berkesan buat saya dalam ruang ini adalah lukisan 2 putri Jawa dan China yang bertarung dengan menari  untuk memenangkan hati Raja.
Guwa Sela Giri
Sebuah lorong  yang sedikit gelap,  di setiap sisinya dipamerkan lukisan-lukisan photo keluarga kerajaan baik Solo maupun Yogyakarta.
Kampung Kambang
Seperti namanya, bangunan museum ini letaknya di atas air dengan aksen seperti mengambang. Di sini terdapat 5 buah ruangan, sebagian besar menceritakan kisah putri keraton. Salah satunya bernama Ruang syair untuk Tineke. Konon Putri Tineke, salah seorang putri dari kasunanan Surakarta yang saat remaja tidak mendapat restu ketika  jatuh cinta pada orang biasa. Oleh karena itu sang putri mengalami kesedihan yang teramat. Kemudian, teman, sahabat dan kerabatnya menghibur dan memberi nasehat mereka lewat surat yang berisi puisi , nasehat, serta kalimat penyemangat  untuk Putri Tineke (sebagian besar dalam bahasa inggris dan belanda). Yang menarik, ruang ini membuat sadar bahwa kata sekeren apapun yang ada sekarang ternyata tidak lebih dari kata yang memang sudah ada di jaman dahulu.

Salah  satu ruangnya pun mengenalkan kita pada sosok Ratu Mas, Putri Kesultanan Yogyakarta yang menikah dengan Raja Kasunanan Surakarta. Beliau merupakan seorang ahli design pakaian, topi, dan asesoris. Bahkan topi yang beliau design telah diimport ke Luar negeri ketika itu. Di luar ini, ada sebuah mitos yang dipercayai sebagian orang. Jika terjadi pernikahan antara 2 keraton tsb, maka  mereka tidak akan dikaruniai seorang putra. Dan itu selalu terjadi sampai saat ini, dan juga pada  Ratu Mas. Ketika saya tanya mengapa, menurut mba guide, jika hasil pernikahan Yogkarta dan Surakarta menghasilkan seorang putra hal yang paling ditakutkan adalah perebutan putra mahkota di kemudian hari. Ternyata ini bukan negeri dongeng, ucap saya dalam hati.

Beralih lagi pada satu ruang milik, GRAy Siti Nurul Kusumawardhani. Melihat lebih dalam putri Keraton Mangkunegara yang sangat cantik dan pintar. Tidak seperti putri lain yang sangat kental jiwa feminimnya, Gusti Nurul mahir berkuda, berenang, tenis dan juga menari. Ia juga sangat memiliki pandangan modernisme dan salah seorang yang sangat menolak poligami. Karena ‘keunikan’ yang dimilikinya tersebut,  banyak pria hebat yang ingin meminangnya,  termasuk  salah seorang mantan presiden kita dan juga salah seorang raja yang juga pahlawan nasional. Namun karena mereka termasuk penganut poligami, maka Gusti Nurulpun menolaknya.

Kampung kambang memang tempat yang cukup menginspirasi saya sebagai wanita. Wanita hampir selalu membayangkan dirinya adalah seorang putri dan menyukai hal-hal yang berkaitan dnegan itu. Selama ini saya menyalurkannya lewat berkenalan dengan Cinderella, Putri Aurora, Putri Salju dan Ariel yang ada dalam dunia Bapak Walt Disney.  Atau pun dengan ikut mengagumi sosok Putri di dunia nyata seperti Lady Dy, dan Kate Middleton baru-baru ini. Tetapi , mereka semua  adalah nyata yang seperti khayalan bagi saya, karena mereka ada di dalam batas yang tidak tersentuh oleh saya. 

Kali ini rasanya berbeda. Di ruangan ini, saya tiba-tiba membayangkan,bahwa putri – putri ini pernah hidup di dunia yang sama dengan saya, di tanah yang sama, di negeri yang sama, dengan budaya yang sama pula - saya sedikit merinding mengingat itu. Ada semacam perasaan mengikat. Bahkan saya sempat merasakan rasa seperti berputar -putar, otak saya memaksa berjalan-jalan dan berkunjung ke masa  di mana putri-putri kerajaan tengah bermain, tertawa, menangis, belajar, menari  dan berkisah di tiap bilik tembok mereka,

Aku seribu kemungkinan
Dari setiap ukiran yang menyatu
Mengayun bergeming mengitari celah
Terbilik menyekat, namun seiring
Menetap dan berkibar dalam ruang
(KK)

Beralih dari ruang para putri tersebut kita masih akan menemui Koridor Retja Landa,yang menampilkan  arca-arca dewa-dewi Hindu Budha, dan juga Sasana  Sekar Bawana yang berisi lukisan dan patung pengantin gaya Yogyakarta dan Surakarta.

Setelah itu sampailah di ruang terakhir dimana setiap pengunjung disuguhi minuman yang dinamakan Kusmayana Drink yang merupakan hasil resep buatan Ratu Mas. .
Kusmayana drink roo
Di pojok kiri atas, sayang banget kepotong, huhu, adalah guide kami yang bernama Mba Icha (semoga bener). She's cute and smart. Photo itu di ambil di ruangan dimana kami di kasih minuman 'awet muda'bernama Kusmayana drink itu. Believe it or not? Let's see 20 years later hohoho. Di ruang ini kami sudah boleh memulai aksi mengambil gambar lho. Berikut dimulailah aksi jeprat-jepret tsb...
inside the room


princess in the mirror
Dan setelah hujan mulai reda (di sini cukup sering hujan),  kami melanjutkan meliput gambar di luar ruangan,
the stone pillars



wet and green .....yeaaayy



 our favourite spot
Yup, that's all..sebenarnya masih ada bangunan yang merupakan bagian dari museum ullen sentalu yaitu art gallery dan restoran. Art gallery menjual souvenir dan pakaian yang mana harganya cukup pas di kantong para kaum eksekutif hehe. Tapi jangan salah, tetap ada gantungan kunci dengan harga 7.500 kok (tapi kami ngga beli sih). Dan restorannya sendiri berada di atas art gallery, mengusung konsep gaya belanda. Lagi-lagi tidak bisa bercerita lebih, karena tidak mencicipi tempatnya. 

Buat saya, 3 jam menjelajah ullen sentalu memberi pengalaman spiritualitas budaya tersendiri buat saya akan budaya yang indah, berharga, mengagumkan, unik, misterius.

Sekian, salam hangat berbudaya
-Qachan-

for more information about ullen sentalu
http://www.ullensentalu.com/ 

No comments

Post a Comment

© People & Place • Theme by Maira G.