Membangun Mimpi di Kebun Buah Mangunan

Wednesday, March 11, 2015 qhachan 9 Comments


Mangunan, entah apa artinya. 
Menurut kamus pribadi saya, ada unsur  'membangun' dalam kata mangunan. Rasanya, itu yang menjadi magnet  memilihnya  menjadi tempat pertama yang saya kunjungi bersama R selepas masa lajang kami. Kunjungan pasangan yang baru membangun mimpi bersama di tempat bernama Mangunan. Hmm, sepertinya itu yang membuat semesta bersekongkol secara apik untuk menggagalkan #honeymoon kami ke pulau seberang. Mungkin, kami diingatkan untuk membangun ini dari sini, dari tempat kami berpijak selama ini, Jogjakarta. 

Berlebihan ya? emang haha..


Kami menyusuri daerah Bantul, tepatnya Imogiri menuju ke Desa Mangunan, Kecamatan Dligo. Sepanjang jalan banyak papan-papan penunjuk arah yang memudahkan kami mencapainya. Buat saya, tempat ini cukup jauh, menanjak-nanjak, berliku-liku dan rasanya nggak sampai-sampai. Eh, nyatanya memang jauh dan terletak di atas bukit.

Awalnya,  gambaran wisata ke kebun buah adalah saya akan dimanjakan oleh berbagai macam buah yang bisa dipetik lalu dimakan. Namun, saya lupa bahwa pohon tidak setiap hari berbuah. Kenyataannya saat itu hampir semua buah-buahan di Kebun Buah Mangunan belum panen. Jadi tidak ada yang bisa dipetik maupun dibeli. Petugas yang melihat raut kekecewaan di mata saya akhirnya mengijinkan saya dan R memetik secara gratis jambu dersono atau jambu bol yang tumbuh di sekitar pintu masuk. Meskipun sebenarnya belum matang juga. Kata Pak Petugas, lain kali kami harus kembali untuk memetik durian, manggis, rambutan, mangga, sirsak, dll. Baiklah, tetap gratis lho, Pak :D

Gagal panen buah-buahan tidak membuat kami berkecil hati untuk mengenal Mangunan lebih dekat (apa deeh). Apalagi ada cara menikmati Mangunan yang lebih hitzzz (lagi suka bilang ini) daripada memanen buah, yaitu mejeng di gardu pandangnya. Saat itu saya baru tahu kalau tujuan banyak orang datang ke Mangunan adalah untuk ini. 

Namun, kesyahduan perjalanan saya dan R sempat sedikit pudar saat hendak menuju gardu pandang. Ada puluhan tenda dengan ratusan muda-mudi yang bertebaran memadati jalan utama. Sebagian besar ngobrol berkelompok, di jalanan pula haha. Sisanya ada yang masak, tiduran, berjemur. Rame banget.  Rupanya Mangunan juga biasa menjadi area camping. 

Kesyahduan dan romatisme jalan berdua akhirnya benar-benar ilang. Saya kelaparan, dan terpaksa makan di satu-satunya warung yang berada di lingkungan tenda. Jangankan buat ngomong dari hati ke hati, ngobrol biasa aja terhalang keriuhan muda-mudi di warung. Jadi kami memilih makan sambil dengerin rumpian heboh muda-mudi deh. Dan yang nggak pentingnya, saya dengan bodohnya makan mie goreng sambil dag..dig..dug... Iya, takut dikira sepasang pelajar yang lagi pacaran ke bukit. Ya, gimana dong, soalnya tampang kan nggak bisa bohong. Hweheee.

Eh, tapi beneran nggak sih? Atau saya dan R doang yang diawal nikah rada mikir buat sekadar gandengan di tempat umum atau boncengan sambil pelukan di motor. Nggak mau dikira sepasang kekasih yang belum nikah terus bermesraan. Takut dicontoh generasi muda yang salah sangka. Jadinya kalau makan atau jalan gitu sengaja kibas-kibas jari, pamer-pamer cincin nikah haha. Di awal-awal aja sih. Sekarang mah, enggak. Nggak pernah gandengan maksudnya (malah curhat).

Setelah kenyang makan dan kenyang mengamati muda-mudi pelajar SMA dari kota yang bening-bening itu, kami melanjutkan perjalanan. Kami tau mereka dari kota karena ngobrol sambil 'loe  gue -an'. Duh, gue ketauan nguping deh. 

Perjalanan menuju gardu pandang sebenarnya masih bisa ditempuh dengan motor, namun kami memilih untuk jalan kaki. Untungnya tidak terlalu jauh juga. Bonusnya bisa menikmati udara segar plus terapi hijau melihat pohon sepanjang jalan.



Hari yang cukup cerah dan terik membuat kami bisa melihat lekukan Sungai Oyo dengan bersih. Air berwarna hijau segar dengan jembatan gantung berwarna kuning di bawah sangat menarik perhatian. 

Warna hijau yang menghidupkan dan biru yang mendamaikan. Dua warna sempurna yang mengingatkan untuk membangun mimpi bersama. Terimakasih, Mangunan. 

Salam dari kami, 

K & R


9 comments:

  1. Ciieee cieeee...romantis euy...hihihi
    Pemandangannya cakep ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihihiii mak indaaa, jadi maluu :))
      iya, mak cakep bening, sini main

      Delete
  2. Wahhhh, udah jauh-jauh malah belum berbuah >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaaaa huhuuu..untungnya masih bisa nikmatin pemandangan, sambil ngunyah dedaunan X))

      Delete
  3. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    www.fikrimaulanaa.com

    ReplyDelete
  4. Ooo ini to Mangunan? Waktu ke makam Imogiri lalu sempet udah masuk ke pertigaan arah Mangunan tapi balik lagi soalnya udah sore & gak tau berapa jauh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. lho padahal ga jauh mak klo dari makam imogiri..
      next time, ke sini ya mak lussiiii..panen petee, eh kalau doyan sih hehe (aku baru tau ada pete di sini) ;D

      Delete
  5. duh kepengen jambu bol T,T

    ReplyDelete